by: tia (http://facebook/tiantium )
Sivia masih terpaku, shock plus panik. Sedangkan Cakka, dia menatap Sivia marah. Secepatnya Cakka bangun dari posisi jatuhnya dan mengusap-usap bajunya yang basah terkena Coca Cola yang terbang dari botol di tangan Sivia (?)
“Lo tuh ngga ada kapok-kapoknya ya nyari masalah sama gue?” bentak Cakka pada Sivia, semakin membuat Sivia gelagapan. “Setiap ada lo pasti gue sial, tau ngga! Arrggggh!!!” Cakka yang Geram kini mengepalkan tangannya.
Sivia mencoba menenangkan diri. “Gu…gue ngga se…sengaja kak.” ucap Sivia gagap mendadak. “Sumpah gue ngga sengaja… Maaf!”
“Halaah… Bilang aja lo mau ngebales siomay lo yang gue ambil kemaren, kan?” nada Cakka meninggi, beberapa pasang mata melirik mereka berdua. Sivia menggeleng cepat.
“Gue beneran ngga sengaja jatoh, kak. Mana ada sih jatoh disengaja?” Sivia mulai tegas, dia pikir tak ada gunanya berlembut-lembut dengan Cakka yang keras. Mau jadi lelembut?
“Alesaaan!” bentak Cakka lagi.
“Kak!” Sivia balas membentak. “Gue ngga sengaja, tali sepatu gue lepas! Dan gue udah minta maaf, kan?” Sivia kini mulai kesal karena Cakka.
“Lo pikir dengan minta maaf baju gue bersih? Hah?” Cakka naik pitam. Mukanya kini merah padam. “Nyebelin banget lo!”
Sivia menatap mata Cakka tajam, mencoba mengendalikan emosinya agar tak meluap. “Kak, gue beneran ngga mau cari ribut sama lo. Gue udah minta maaf, dan sekarang due mau pergi…” ucap Sivia pelan namun tegas. “Misi…” katanya sambil berjalan pergi dari hadapan Cakka.
Namun Cakka menahan lengannya dan mencengkeramnya dengan keras. “Lo ngga bisa pergi gitu aja!” ucap Cakka.
“Terus mau lo apa? Gue kipasin baju lo sampe kering? Atau mau gue tiupin? Atau lo mau pake baju gue?” Sivia yang kesal terdengar menantang Cakka. “Atau lo mau gue jemurin itu baju di lapangan? Atauu……”
Belum selesai Sivia bicara, tiba-tiba….. BYURRRR!!! segelas es teh berhasil membuat baju seragam Sivia basah kuyup.
“Itu mau gue… Kita impas, kan?” Cakka tersenyum menang – menang telak, setengah botol Coca Cola dengan segelas penuh es teh – dan bergegas pergi meninggalkan Sivia yang menatapnya penuh amarah.
Dia sama sekali tak peduli dengan anak-anak yang menatapnya heran, dengan tatapan yang mungkin mewakili kata-kata ini: “Cakka Kawekas Nuraga setega itu sama cewe?”
Sivia diam untuk sebentar, namun cepat-cepat dia berbalik mendekati Cakka yang hanya berjalan pelan di belakangnya. Dengan sigap Sivia menarik kerah baju OSIS Cakka dan tangannya yang sudah mengepal sejak tadi terayun.
BUGG!! Cakka terjembab ke lantai kantin, suasana mendadak sepi. Hanya terseisa suara desah napas Sivia yang heboh sendiri, dia sendiri tak percaya apa yang barusan dilakukannya. Cakka meringis kesakitan sambil punggung tangannya mengusap bagian bawah hidungnya. Cairan
merah kini mengotori tangannya. Anak-anak yang tadi sibuk berebut makanan dan
mengobrol di kantin kini mengerubungi Cakka yang terduduk bergetar. Matanya
terus menatap Sivia tajam. Tiba-tiba, Cakka bangkit dari lantai dan mendekati
Sivia yang mematung di tempatnya berdiri. Mata Cakka tak lepas dari mata Sivia.
Sivia dengan berani menatap mata Cakka, namun sorot mata Cakka itu, mengingatkannya pada seseorang. Juga gerakan mengusap hidung Cakka tadi, gerakan itu… orang itu… beberapa tahun yang lalu… Sementara mata Sivia dan Cakka masih beradu, Sivia mengingat kembali sosok
dalam bayangannya.
--- FLASHBACK ---
“Sivia, lo mau ngga jadi pacar gue?” seorang anak laki-laki dengan seragam SD tersenyum manis memandangi Sivia yang sama sekali tak memperhatikannya sejak tadi dia menyanyi. “Vi, mau ya?” anak itu menarik tangan Sivia, seorang anak laki-laki lain memperhatikan mereka
dengan tatapan lesu. Dia tampak seperti figuran.
“Gue ngga mau, Aga!” bentak Sivia pada anak laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya, namun enggan dipanggilnya dngan sebutan kak.
“Vi…” Aga memaksa Sivia. Namun…
BUGG!!! Bogem mentah Sivia mendarat dengan sempurna dan sukses membuat darah segar mengucur dari hidung Aga. Pelan-pelan Aga mengusapnya dengan punggung tangannya, lalu sebentar melirik cairan merah di tangannya. Pandangannya lalu beralih kea rah Sivia.
Sivia hanya memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempat itu, menjauh dari Aga.
“Sivia…” panggil Aga, senyum terkembang di bibirnya. Anak laki-laki yang tadi hanya menjadi figuran kini memegangi lengan Aga dan mencoba menolong sahabatnya yang baru saja Sivia pukul. “Akhirnya, tangan lo nyentuh gue juga… Gue bahagia.”
Sivia dan juga teman Aga yang ‘unknown’ menatap Aga heran. ‘Bahagia habis gue tonjok?’ batin Sivia. “Sinting lo, Ga!” ucap Sivia dengan nada kesal. Dia kini berlari menjauh, menjauh dari orang gila bernama Aga yang terus saja tersenyum dengan darah di hidungnya.
--- FLASHBACK END ---
“Ag…Aga…” bisik Sivia. Tak ada yang mendengarnya, termasuk Cakka yang kini mulai mendekatkan mukanya yang merah karena marah ke muka Sivia.
Cakka mengepalkan tangannya, meremasnya dengan amarah sampai bergetar. Dia bersiap mengayunkannya tepat ke muka Sivia, perempuan yang berani memukulnya sampai hidungnya berdarah – dan belum berhenti mengalir sampai detik itu.
“Anjing!” (woops map ngga sopan ( _ _ ) :P) Cakka membentak Sivia seraya menarik tangan kanannya yang menegang dari tadi hendak memukul Sivia, dia hampir menyentuh pipi mulus Sivia saat sesuatu merasuki pikirannya. ‘Gila! Banci banget sih gue kalo sampe gue pukul
cewe ini?’ batin Cakka.
Ditahannya tangan kanannya, belum sampai menyentuh pipi, nyaris saja. Sivia tak takut sama sekali, dia tetap membelalakkan matanya menatap Cakka tajam. Kini mereka tengah berkonflik batin, keduanya masih saling tatap dengan amarah terlukis di tatapan mereka.
“Cakka!” teriak seseorang di balik kerumunan yang mematung, orang itu menyeruak menghampiri Cakka yang sama sekali tak bergeming. Dia menarik tangan Cakka dan menjauhkannya dari Sivia. “Ngapain sih lo?” Rio, itu Rio, dia memaksa Cakka pergi
menjauh.
Sedangkan Sivia, matanya tak berpaling dari mata Cakka, tak menyadari Agni memegangi bahunya dan menariknya pergi. Agni juga membubarkan kerumunan siswa-siswi yang lebih mirip penonton korban kecelakaan yang tubuhnya terpisah-pisah – diam tanpa kata – daripada
penonton adu tinju.
“Bubar semuanya!” teriak Agni sambil menendang-nendang angin, dan semua anak pun pergi sambil meneriakkan koor: huuuuu!!!
Cakka tak langsung beranjak dari posisinya, masih saja beradu tatap dengan Sivia. Agni dengan ragu mendekati Cakka.
“Ehh, eh, kak Cakka. Maafin Sivia ya?” ucap Agni sambil menunduk. Cakka tak bergerak, tetap menatap Sivia. “Kak… Sivia beneran ngga sengaja tadi…” ucap Agni lagi.
Kini Cakka melirik Agni, Agni juga menatap mata Cakka ragu. Untuk beberapa saat mata mereka bertemu, namun Cakka buru-buru membuang pandangannya. “Ngga akan…” ucap Cakka pelan, lalu menepis tangan Rio
meninggalkan tempat itu. Dia melewati begitu saja sosok laki-laki berseragam
sama dengannya, yang dari tadi hanya diam membisu melihat serangkaian adegan
Cakka-Sivia, Cakka-Rio, dan Cakka-Agni. Itu Alvin. di bahunya dan buru-buru
Rona muka Sivia berubah begitu melihat Alvin di balik sosok Rio yang tadi menutupinya. Alvin kini berwajah kecewa dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat Sivia menatapnya
lemas.
“Kak Alvin…” bisik Sivia bergerak mendekati Alvin, namun langkahnya berhenti, saat Alvin berbalik pergi bersama Rio. ‘Kak maafin gue, gue ngga tau kenapa gue bisa mukul Cakka…’ Sivia benar-benar
menyesal. Janjinya untuk merubah tingkah lakunya hancur beberapa menit lalu.
“Ayo, Vi…” Agni menggandeng Sivia pergi, ke kelas mereka.
***
@ XI IPA 1
‘Ngapain sih gue pake pukul Cakka? Ah, bego, bego, bego! Gue bego! Baru dua hari gue di sini, malah bikin masalah gini? Arrrggggghhhh!!!!!!’ Sivia berteriak di dalam hatinya. Mengutuki dirinya sendiri, sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu memukul-mukul meja dengan
kesalnya. Septian yang ada di sebelahnya tak mau mengganggu, dan dia pergi
mengungsi di meja Agni.
“Sivia!” Sion setengah berteriak memanggil Sivia yang tengah tak karuan. Sivia sontak menengok tanpa ekspresi. “Lo dipanggil sama Bu Ira, suruh ke ruangannya sekarang!” kata Sion.
‘Haaahhh??? Sumpah gue ngga siap buat ngadep Bu Ira!’ batin Sivia. dengan gontai dia berjalan menyusuri koridor menuju ruang kepala sekolah. Jalannya lemas, pasti dia habis dilumat oleh Bu Ira nanti.
Fiuuuuhhh… Sivia menghela napas panjang, bersiap mengetuk pintu yang terbuka sedikit. Tok-tok-tok. Akhirnya Sivia memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Bu Ira. “Permisi, Bu?”
“Masuk…” ucap seseorang di dalam. Pasti Bu Ira. Sivia mendorong handle pintu dan menunduk, tak mempu menatap mata Bu Ira yang memang kelihatan tak bersahabat padanya. Sivia melihat seorang siswa di kursi depan Bu Ira, ya, itu Cakka. Cakka tak menatapnya. “Duduk,
Sivia.” ucap Bu Ira dengan nada tegas.
Sivia masih menunduk, jantungnya berdegup kencang tak tahu apa yang harus dia perbuat di hadapan Bu Ira saat itu. Dia duduk di kursi di depan Bu Ira dan di sebelah cakka, kini meja kerja Bu Ira lah yang menjadi batas antara Bu Ira dan Sivia serta Cakka.
“Ada yang ingin kamu katakana, Sivia?” ucap Bu Ira. Sivia benar-benar diam tak berkutik. Cakka masih diam, hidungnya merah, sudah tak mengeluarkan darah. Bu Ira mengalah. “Baiklah, biar saya yang bicara dulu…”
Bu Ira membetulkan posisinya, menatap Sivia lekat-lekat. “Lihat saya, Sivia…” pinta Bu Ira. Sivia dengan ragu mengangkat wajahnya mencoba menatap mata Bu Ira yang tajam menghujamnya. Sivia kini saling pandang dnegan Bu Ira. “Begini, kamu tahu kan bagaimana susahnya anak-anak yang
berebut masuk SMA VICAS di tahun ajaran baru?”
Sivia mengangguk pelan.
“Kamu harusnya bersyukur kamu masih bisa diterima di sini tanpa tes, atau persyaratan lain.” Sivia tak bisa lama-lama menatap mata Bu Ira. “Kamu harus tahu bagaimana ayah kamu membujuk saya agar menerima kamu di sini…” Bu Ira menggantung kata-katanya.
Sivia menatap kembali mata Bu Ira.
“…walaupun saya juga tahu kalau kamu sempat bermasalah dengan dua sekolah swasta besar di Jakarta sebelumnya. Kamu seharusnya tahu diri, saya tidak akan pernah menerima kamu kalau ayah kamu tak memohon pada saya dan kamu tak memiliki prestasi apapun…” ucap Bu Ira pelan namun tajam.
Cakka tersentak dan menatap Sivia. ‘Anak ini….. Dia… Bermasalah dengan dua sekolah sebelumnya? Apa Maksudnya?’ batin Cakka.
“Saya juga tahu SMA Bakti mengeluarkan kamu karena kenakalan kamu…” Cakka kembali tersentak mendnegar kata-kata tajam Bu Ira, itu menjawab sedikit pertanyaannya tadi. “Dan saya juga tahu kamu mengundurkan diri dari SMA Voundras karena ayah kamu tak mau kamu
didepak untuk yang kedua kalinya karena kamu tambah nakal…”
Sivia diam. Cakka benar-benar kaget, kini dia tahu siapa yang dihadapinya, berandalan perempuan yang selalu membuat ulah. ‘Gila! Gue jadi penasaran sama cewe satu ini…’ batin Cakka.
“Dan kamu tak mau kan mengecewakan ayah kamu dengan dikeluarkan dari SMA VICAS ini?” ucap Bu Ira tegas, membuat Sivia dan Cakka terlonjak tak menyangka kata-kata itu akan keluar.
‘Hah? Sumpah deh gue ngga bermaksud bikin Sivia sampe terima kata-kata itu, gue pikir dia cuma bakal dikasih hukuman kecil… Kok ujung-ujungnya malah kata-kata itu?’ Cakka merutuki tindakannya yang tadi melaporkan Sivia ke guru BP, dan ternyata guru BP malah membawa
masalah ini ke kepala sekolah.
Sivia masih diam, sementara Bu Ira terus bicara.
“Saya tak menyangka, baru dua hari kamu ada di sini, Cakka, kakak kelas kamu sudah menjadi korban.” sesal Bu Ira. “Seharusnya kamu bisa menjadi lebih sopan apalagi terhadap kakak kelas kamu, Sivia…”
“Sa…sssa...ya… Ssaaya menyesal, Bu.” ucap Sivia gugup tapi datar, membuat Bu Ira ragu.
“Saya belum yakin…” ucap Bu Ira. “Kamu bisa saja bilang begitu tapi suatu hari nanti kamu akan melakukannya lagi, entah pada Cakka atau siswa lainnya. Sivia, kamu ini adik dari ketua OSIS SMA VICAS. Alvin
pasti kecewa sama kamu…”
‘Apa? Dia adiknya Alvin? Masa sih Alvin punya adik kaya gini? Kok dia ngga pernah cerita?’ Cakka yang untuk kesekian kalinya kaget hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
“Maafkan saya, Bu Ira, saya janji tak akan mengulanginya lagi…” kata Sivia yakin.
“Jangan minta maaf sama saya. Minta maaf sama Cakka, dia yang kamu pukul…” Bu Ira memalingkan wajahnya kea rah Cakka yang sedari tadi terdiam.
Sivia menoleh ke arah Cakka, keraguan menyelimutinya. ‘Males banget gue minta maaf sama Cakka. Arrrggh! Najis!’ batin Sivia.
“Cepat! Saya tak punya banyak waktu untuk mengurusi kalian.” ucap Bu Ira. Sivia masih diam. “Hmmmmhh… Baiklah Sivia, Cakka, selesaikan masalah kalian di luar. Saya sibuk. Dan kamu Sivia, buat surat
pernyataan minta maaf dengan tanda tangan kamu dan Cakka. Kapanpun serahkan
pada saya. Sekarang kalian boleh keluar!” kata Bu Ira dengan wajah yang tampak
menyerah.
Sivia beranjak dari kursinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Cakka pergi dengan mengucapkan salam sebelumnya. Dia menyusul Sivia.
“Woy, Sivia!” cegah Cakka sambil memegang lengan Sivia yang hendak pergi. “Lo inget kan kata-kata Bu Ira tadi? Lo mesti minta maaf sama gue dan…”
“Gue inget!” potong Sivia cepat, enggan mendengar Cakka mengoceh. “Gue minta maaf.” ucapnya.
Cakka terkekeh menatap Sivia. “Lo diajarin minta maaf dengan cara yang bener ngga sih sama guru TK lo?” kata Cakka.
Sivia terdiam, lalu pelan pelan mengulurkan tangannya yang kaku. “Gu…gue minta maaf…” ucapnya gelagapan. Cakka menyambut tangan Sivia dan tersenyum geli. Sivia dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Cakka lalu berlalu.
“Hey, tunggu!” Cakka menahan Sivia lagi.
“Apa lagi? Gue udah minta maaf dan lo udah maafin gua, kan? Selesai masalahnya…” kata Sivia.
“Eh, siapa bilang gue maafin lo? Gue jabat tangan lo kan belum berarti gue maafin lo!!” Sivia mengerutkan dahinya, berpikir apa maunya orang aneh di depannya ini. “Surat permintaan
maafnya juga belum ada, kan?”
Sivia tak habis pikir dengan manusia menyebalkan di depannya. “Besok!” ucap Sivia datar lalu berlalu meninggalkan Cakka. Cakka pun tak meu menahan Sivia untuk yang ketiga kalinya, dia memilih membiarkan Sivia pergi.
‘Besok, gue tunggu!’ batin Cakka.
***
@ motor Alvin, pulang sekolah
Sivia pulang dnegan Alvin, dia menceritakan semuanya, juga yang terjadi di dalam ruang kepala sekolah. Alvin
masalah. mengangguk mengerti, dia tak punya alas an untuk memarahi adiknya karena itu semua pun bukan seluruhnya kesalahan adiknya, melainkan merupakan kesalahan Cakka juga yang selalu membesar-besarkan
“Gue harap lo emang bener-bener mau berubah, Vi!” ucap Alvin penuh harap saat pulang dengan Sivia.
“Gue berusaha, kak.” ucap Sivia lirih. Alvin serius mengemudikan motornya menembus jalanan yang tak terlalu ramai. Sivia masih memikirkan masalahnya dnegan Cakka, juga secara tak langsung masalahnya
dengan dengan Bu Ira.
***
@ Rumah Rio, Perumahan Bumi Intan
Rio baru sampai di rumahnya, setengah tak percaya dia kembali membayangkan kejadian tadi di kantin sekolah, kejadian saat seorang siswi memukul Cakka sahabatnya.
“Gebetannya Alvin berani juga, ya?” ucap Rio pelan sambil terus melangkah ke kamarnya. Tak sengaja Shilla mendengar kata-katanya tadi.
“Kak Alvin kok mau ya sama cewe berandal kaya gitu?” komentar Shilla menghentikan langkah Rio. RioAlvin. Ngga kapok ya aku tamper tadi pagi?” menghampiri Shilla yang duduk di sofa ruang keluarga. “Mana tadi masih aja dia pulang bareng kak
“Apaaa????” Rio terkejut. “Lo nampar dia? Cari masalah aja lo, Shill!” ucap Rio.
Shilla hanya mengangkat bahu. “Abis dia deket sama kak Alvin sih.” jawab Shilla enteng.
“Lo harus minta maaf sama dia! Lo salah udah nampar dia, emangnya lo siapanya Alvin?” Rio marah, tak terima dengan kelakuan adiknya.
“Ih kakak kok malah ngebelain cewe gatel itu?” Shilla manyun.
“Gue ngga ngebelain siapa-siapa, Shill. Lo ngga pantes bertindak kaya gitu!” Rio mencoba menasehati adiknya yang manja dan cengeng itu.
drrrttt…ddrrrrtttt…. HP Rio bergetar, ada sms masuk.
----------
From: 085*********
rio, ini gue cakka
jangan kasih tau dayat nomor ini!
----------
Rio menyimpan nomor itu di HP-nya, dan cepat-cepat membalas sms Cakka. Rio memang tak suka membuat orang menunggu.
----------
To: Cakka_new
sip!
apa kabar hidung lo cak?
----------
From: Cakka_new
masih kaya ceri, bulat dan merah
-_____-
----------
To: Cakka_new
hahahah… itu cewe emang gileee mampus ya?
----------
From: Cakka_new
-,- !
maksud lo apa yo?
eh gila itu cewe adiknya Alvin bego, bukan gebetannya.
----------
Rio membaca sms Cakka yang satu itu. “Haaahh????”
Shilla sontak menengok pada kakaknya yang wajahnya sekarang aneh. “Kenapa kak?”
Rio menatap Shilla. “Shill, lo beneran deh harus minta maaf sama cewe itu.”
“Hiddiiiiiiih ngapain???”
“Dia adiknya Alvin, begoooooo!!!!” kata-kata Rio membuat Shilla cengo, lalu kelabakan dan kebingungan.
“Ah, darimana lo tau?” Shilla setengah tak percaya, Rio menyodorkan sms terakhir Cakka dan itu cukup untuk membuat Shilla mengutuki kesalah pahamannya.
“Yah, kak! Gue mesti gimana dong?” Shilla mulai merasa bersalah pada Sivia, juga pada Alvin.
“Ngga tau, lo pikir sendiri…” kata Rio cuek. Dia buru-buru pergi menuju kamarnya untuk istirahat, dia lupa untuk membalas sms Cakka, dan langsung masuk kamar lalu berbaring tanpa melepas seragamnya.
***
Alvin dan Sivia sampai di depan rumah mereka. Sivia langsung turun dan berjalan pelan menuju rumah Ozy, mau apa lagi selain mengambil kunci rumah. Tiba-tiba…..
“Eh, Vi!” seru Alvin yang masih ada di atas motor. Sivia menoleh. “Notebook gue ketinggalan di perpus! Gue balik ke sekolah dulu, ya?” Alvin yang mendadak panik langsung saja menge-gas motornya menuju sekolah.
Sivia hanya terbengong, belum dia mengucapkan sepatah kata pun Alvin sudah ngeloyor pergi. Sivia hanya mengangkat bahu dan masuk ke rumah Ozy karena dia ingin cepat-cepat masuk rumah dan istirahat, melepas semua masalahnya hari
ini. Sivia berjalan santai setelah membuka pagar dan…
BUKK!!
“Auuww…” Sivia memegengi lututnya yang kembali menyentuh bumi. Diliriknya sepatu kets berwarna hitam putih yang terpasang di kakinya. Talinya lepas. Sivia mendengus kesal. “Sepatu sialan!” buru-buru diikatnya tali sepatu yang membuatnya terjatuh tiga kali hari ini. Lalu pergi
menuju pintu rumah Ozy.
Tok-tok-tok
Sivia mengetuk pintu kayu rumah Ozy, suasana sepi, hanya suara angina yang menggerakkan dedaunan yang menempel di ranting-ranting pohon yang membuat rumah itu nampak teduh di bawah terik matahari. Tak ada seseorang yang membuka pintu. Sivia kembali mengepalkan
tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok-tok-tok-tok-tok
“Sebentaaar!” teriak seseorang dari dalam, namun tak begitu keras terdengar dari luar.
Tak ada yang membuka pintu, Sivia benar-benar kesal. ‘Sebentar? Sebentar kok ngga keluar-keluar?’ batinnya. Dia memutuskan untuk kembali mengetuk pintu. Tangannya yang mengepal sudah siap diangkatnya, tinggal diayunkan menyentuh pintu, tapi tiba-tiba…..
Creeetttttt… Pintu terbuka, seseorang kini berdiri di depan Sivia. Dia tinggi, tak terlalu putih, dan cukup ganteng. Sivia masih bengong dan masih dalam posisi tangan di atas menatap heran pada sosok dengan kaos putih bergambar monyet meringis, jeans lusuh berwarna biru muda, dan kamera analog di
tangannya – yang dia kalungkan ke lehernya – serta mengenakan topi putih berlogo
Adidas dan bergambar icon World Cup secara terbalik (tau kan maksud gue topi
terbalik? yang depan di belakang!). Sosok (ganteng) itu diam, begitu pula Sivia
yang terus diam dalam posisinya…
***
Sementara Alvin yang panik terus memacu motornya dengan kencang. Saat di persimpangan jalan, tanpa Alvin sadari seorang perempuan tengah menyeberang. Alvin cepat-cepat mengerem motornya, cewe itu terjatuh tepat di depan motor Alvin. Sontak Alvin yang kaget buru-buru turun dari motornya dan menghampiri cewe yang kini terduduk shock dengan air mata yang mulai mengalir membentuk anak sungai di pipinya.
“Aduh, lo ngga apa apa kan? Sorry ya?” Alvin memegang pundak cewe itu dengan canggung sebenarnya dan menyadari tubuhnya bergetar. Alvin
memiringkan badannya mencoba melihat wajah cewe itu, rambut panjangnya sedikit
menutupi wajahnya. Alangkah terkejutnya Alvin
saat dia melihat wajah cewe itu yang………. MENANGIS??
Entri Populer
-
by: tia (http://facebook/tiantium ) Sivia masih terpaku, shock plus panik. Sedangkan Cakka, dia menatap Sivia marah. Secepatnya Cakka ba...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) “Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa l...
-
by: tia (http://www.facebook.com/tiantium) satu laki-laki wajahnya dingin dan tengah sibuk mengunyah nasi yang barusan dimasukkan ke mul...
-
“Thank you ma bro, Cakka!” kata Rio senang dan langsung menyeret piring dengan mie goreng pesanannya. Cakka hanya tersenyum simpul. “Mana...
-
by : tia (http://facebook/tiantium) Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung per...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) 5 Januari Dear, buku hitam… Mama ngasih dua buku, hitam-putih di ulang tahun gue tahun lalu. Mam...
-
Lebih menarik lagi ternyata banyak di antaranya ditulis sama orang seumuran kita. Ada Laire Siwi yang masih kelas kelas satu SMU waktu mener...
-
Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu sing...
-
Artikel-artikel tentang penulisan ini ada yang sebagian dan sepenuhnya saya ambil dari narasumber lain, demi keaslian pemilik saya cantumkan...
-
Dengan penuturan jujur dan gaya bahasa khas remaja, novel-novel ini menawarkan kisah yang dekat sama kita, tokoh-tokoh yang terasa akrab di ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buat semu yang udah mampir di blog aku... tinggalin komentar, pesan dan pesan yah...