by: tia (http://facebook/tiantium )
Sivia masih terpaku, shock plus panik. Sedangkan Cakka, dia menatap Sivia marah. Secepatnya Cakka bangun dari posisi jatuhnya dan mengusap-usap bajunya yang basah terkena Coca Cola yang terbang dari botol di tangan Sivia (?)
“Lo tuh ngga ada kapok-kapoknya ya nyari masalah sama gue?” bentak Cakka pada Sivia, semakin membuat Sivia gelagapan. “Setiap ada lo pasti gue sial, tau ngga! Arrggggh!!!” Cakka yang Geram kini mengepalkan tangannya.
Sivia mencoba menenangkan diri. “Gu…gue ngga se…sengaja kak.” ucap Sivia gagap mendadak. “Sumpah gue ngga sengaja… Maaf!”
“Halaah… Bilang aja lo mau ngebales siomay lo yang gue ambil kemaren, kan?” nada Cakka meninggi, beberapa pasang mata melirik mereka berdua. Sivia menggeleng cepat.
“Gue beneran ngga sengaja jatoh, kak. Mana ada sih jatoh disengaja?” Sivia mulai tegas, dia pikir tak ada gunanya berlembut-lembut dengan Cakka yang keras. Mau jadi lelembut?
“Alesaaan!” bentak Cakka lagi.
“Kak!” Sivia balas membentak. “Gue ngga sengaja, tali sepatu gue lepas! Dan gue udah minta maaf, kan?” Sivia kini mulai kesal karena Cakka.
“Lo pikir dengan minta maaf baju gue bersih? Hah?” Cakka naik pitam. Mukanya kini merah padam. “Nyebelin banget lo!”
Sivia menatap mata Cakka tajam, mencoba mengendalikan emosinya agar tak meluap. “Kak, gue beneran ngga mau cari ribut sama lo. Gue udah minta maaf, dan sekarang due mau pergi…” ucap Sivia pelan namun tegas. “Misi…” katanya sambil berjalan pergi dari hadapan Cakka.
Namun Cakka menahan lengannya dan mencengkeramnya dengan keras. “Lo ngga bisa pergi gitu aja!” ucap Cakka.
“Terus mau lo apa? Gue kipasin baju lo sampe kering? Atau mau gue tiupin? Atau lo mau pake baju gue?” Sivia yang kesal terdengar menantang Cakka. “Atau lo mau gue jemurin itu baju di lapangan? Atauu……”
Belum selesai Sivia bicara, tiba-tiba….. BYURRRR!!! segelas es teh berhasil membuat baju seragam Sivia basah kuyup.
“Itu mau gue… Kita impas, kan?” Cakka tersenyum menang – menang telak, setengah botol Coca Cola dengan segelas penuh es teh – dan bergegas pergi meninggalkan Sivia yang menatapnya penuh amarah.
Dia sama sekali tak peduli dengan anak-anak yang menatapnya heran, dengan tatapan yang mungkin mewakili kata-kata ini: “Cakka Kawekas Nuraga setega itu sama cewe?”
Sivia diam untuk sebentar, namun cepat-cepat dia berbalik mendekati Cakka yang hanya berjalan pelan di belakangnya. Dengan sigap Sivia menarik kerah baju OSIS Cakka dan tangannya yang sudah mengepal sejak tadi terayun.
BUGG!! Cakka terjembab ke lantai kantin, suasana mendadak sepi. Hanya terseisa suara desah napas Sivia yang heboh sendiri, dia sendiri tak percaya apa yang barusan dilakukannya. Cakka meringis kesakitan sambil punggung tangannya mengusap bagian bawah hidungnya. Cairan
merah kini mengotori tangannya. Anak-anak yang tadi sibuk berebut makanan dan
mengobrol di kantin kini mengerubungi Cakka yang terduduk bergetar. Matanya
terus menatap Sivia tajam. Tiba-tiba, Cakka bangkit dari lantai dan mendekati
Sivia yang mematung di tempatnya berdiri. Mata Cakka tak lepas dari mata Sivia.
Sivia dengan berani menatap mata Cakka, namun sorot mata Cakka itu, mengingatkannya pada seseorang. Juga gerakan mengusap hidung Cakka tadi, gerakan itu… orang itu… beberapa tahun yang lalu… Sementara mata Sivia dan Cakka masih beradu, Sivia mengingat kembali sosok
dalam bayangannya.
--- FLASHBACK ---
“Sivia, lo mau ngga jadi pacar gue?” seorang anak laki-laki dengan seragam SD tersenyum manis memandangi Sivia yang sama sekali tak memperhatikannya sejak tadi dia menyanyi. “Vi, mau ya?” anak itu menarik tangan Sivia, seorang anak laki-laki lain memperhatikan mereka
dengan tatapan lesu. Dia tampak seperti figuran.
“Gue ngga mau, Aga!” bentak Sivia pada anak laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya, namun enggan dipanggilnya dngan sebutan kak.
“Vi…” Aga memaksa Sivia. Namun…
BUGG!!! Bogem mentah Sivia mendarat dengan sempurna dan sukses membuat darah segar mengucur dari hidung Aga. Pelan-pelan Aga mengusapnya dengan punggung tangannya, lalu sebentar melirik cairan merah di tangannya. Pandangannya lalu beralih kea rah Sivia.
Sivia hanya memalingkan wajahnya dan beranjak dari tempat itu, menjauh dari Aga.
“Sivia…” panggil Aga, senyum terkembang di bibirnya. Anak laki-laki yang tadi hanya menjadi figuran kini memegangi lengan Aga dan mencoba menolong sahabatnya yang baru saja Sivia pukul. “Akhirnya, tangan lo nyentuh gue juga… Gue bahagia.”
Sivia dan juga teman Aga yang ‘unknown’ menatap Aga heran. ‘Bahagia habis gue tonjok?’ batin Sivia. “Sinting lo, Ga!” ucap Sivia dengan nada kesal. Dia kini berlari menjauh, menjauh dari orang gila bernama Aga yang terus saja tersenyum dengan darah di hidungnya.
--- FLASHBACK END ---
“Ag…Aga…” bisik Sivia. Tak ada yang mendengarnya, termasuk Cakka yang kini mulai mendekatkan mukanya yang merah karena marah ke muka Sivia.
Cakka mengepalkan tangannya, meremasnya dengan amarah sampai bergetar. Dia bersiap mengayunkannya tepat ke muka Sivia, perempuan yang berani memukulnya sampai hidungnya berdarah – dan belum berhenti mengalir sampai detik itu.
“Anjing!” (woops map ngga sopan ( _ _ ) :P) Cakka membentak Sivia seraya menarik tangan kanannya yang menegang dari tadi hendak memukul Sivia, dia hampir menyentuh pipi mulus Sivia saat sesuatu merasuki pikirannya. ‘Gila! Banci banget sih gue kalo sampe gue pukul
cewe ini?’ batin Cakka.
Ditahannya tangan kanannya, belum sampai menyentuh pipi, nyaris saja. Sivia tak takut sama sekali, dia tetap membelalakkan matanya menatap Cakka tajam. Kini mereka tengah berkonflik batin, keduanya masih saling tatap dengan amarah terlukis di tatapan mereka.
“Cakka!” teriak seseorang di balik kerumunan yang mematung, orang itu menyeruak menghampiri Cakka yang sama sekali tak bergeming. Dia menarik tangan Cakka dan menjauhkannya dari Sivia. “Ngapain sih lo?” Rio, itu Rio, dia memaksa Cakka pergi
menjauh.
Sedangkan Sivia, matanya tak berpaling dari mata Cakka, tak menyadari Agni memegangi bahunya dan menariknya pergi. Agni juga membubarkan kerumunan siswa-siswi yang lebih mirip penonton korban kecelakaan yang tubuhnya terpisah-pisah – diam tanpa kata – daripada
penonton adu tinju.
“Bubar semuanya!” teriak Agni sambil menendang-nendang angin, dan semua anak pun pergi sambil meneriakkan koor: huuuuu!!!
Cakka tak langsung beranjak dari posisinya, masih saja beradu tatap dengan Sivia. Agni dengan ragu mendekati Cakka.
“Ehh, eh, kak Cakka. Maafin Sivia ya?” ucap Agni sambil menunduk. Cakka tak bergerak, tetap menatap Sivia. “Kak… Sivia beneran ngga sengaja tadi…” ucap Agni lagi.
Kini Cakka melirik Agni, Agni juga menatap mata Cakka ragu. Untuk beberapa saat mata mereka bertemu, namun Cakka buru-buru membuang pandangannya. “Ngga akan…” ucap Cakka pelan, lalu menepis tangan Rio
meninggalkan tempat itu. Dia melewati begitu saja sosok laki-laki berseragam
sama dengannya, yang dari tadi hanya diam membisu melihat serangkaian adegan
Cakka-Sivia, Cakka-Rio, dan Cakka-Agni. Itu Alvin. di bahunya dan buru-buru
Rona muka Sivia berubah begitu melihat Alvin di balik sosok Rio yang tadi menutupinya. Alvin kini berwajah kecewa dan menggeleng-gelengkan kepalanya saat Sivia menatapnya
lemas.
“Kak Alvin…” bisik Sivia bergerak mendekati Alvin, namun langkahnya berhenti, saat Alvin berbalik pergi bersama Rio. ‘Kak maafin gue, gue ngga tau kenapa gue bisa mukul Cakka…’ Sivia benar-benar
menyesal. Janjinya untuk merubah tingkah lakunya hancur beberapa menit lalu.
“Ayo, Vi…” Agni menggandeng Sivia pergi, ke kelas mereka.
***
@ XI IPA 1
‘Ngapain sih gue pake pukul Cakka? Ah, bego, bego, bego! Gue bego! Baru dua hari gue di sini, malah bikin masalah gini? Arrrggggghhhh!!!!!!’ Sivia berteriak di dalam hatinya. Mengutuki dirinya sendiri, sambil mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu memukul-mukul meja dengan
kesalnya. Septian yang ada di sebelahnya tak mau mengganggu, dan dia pergi
mengungsi di meja Agni.
“Sivia!” Sion setengah berteriak memanggil Sivia yang tengah tak karuan. Sivia sontak menengok tanpa ekspresi. “Lo dipanggil sama Bu Ira, suruh ke ruangannya sekarang!” kata Sion.
‘Haaahhh??? Sumpah gue ngga siap buat ngadep Bu Ira!’ batin Sivia. dengan gontai dia berjalan menyusuri koridor menuju ruang kepala sekolah. Jalannya lemas, pasti dia habis dilumat oleh Bu Ira nanti.
Fiuuuuhhh… Sivia menghela napas panjang, bersiap mengetuk pintu yang terbuka sedikit. Tok-tok-tok. Akhirnya Sivia memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Bu Ira. “Permisi, Bu?”
“Masuk…” ucap seseorang di dalam. Pasti Bu Ira. Sivia mendorong handle pintu dan menunduk, tak mempu menatap mata Bu Ira yang memang kelihatan tak bersahabat padanya. Sivia melihat seorang siswa di kursi depan Bu Ira, ya, itu Cakka. Cakka tak menatapnya. “Duduk,
Sivia.” ucap Bu Ira dengan nada tegas.
Sivia masih menunduk, jantungnya berdegup kencang tak tahu apa yang harus dia perbuat di hadapan Bu Ira saat itu. Dia duduk di kursi di depan Bu Ira dan di sebelah cakka, kini meja kerja Bu Ira lah yang menjadi batas antara Bu Ira dan Sivia serta Cakka.
“Ada yang ingin kamu katakana, Sivia?” ucap Bu Ira. Sivia benar-benar diam tak berkutik. Cakka masih diam, hidungnya merah, sudah tak mengeluarkan darah. Bu Ira mengalah. “Baiklah, biar saya yang bicara dulu…”
Bu Ira membetulkan posisinya, menatap Sivia lekat-lekat. “Lihat saya, Sivia…” pinta Bu Ira. Sivia dengan ragu mengangkat wajahnya mencoba menatap mata Bu Ira yang tajam menghujamnya. Sivia kini saling pandang dnegan Bu Ira. “Begini, kamu tahu kan bagaimana susahnya anak-anak yang
berebut masuk SMA VICAS di tahun ajaran baru?”
Sivia mengangguk pelan.
“Kamu harusnya bersyukur kamu masih bisa diterima di sini tanpa tes, atau persyaratan lain.” Sivia tak bisa lama-lama menatap mata Bu Ira. “Kamu harus tahu bagaimana ayah kamu membujuk saya agar menerima kamu di sini…” Bu Ira menggantung kata-katanya.
Sivia menatap kembali mata Bu Ira.
“…walaupun saya juga tahu kalau kamu sempat bermasalah dengan dua sekolah swasta besar di Jakarta sebelumnya. Kamu seharusnya tahu diri, saya tidak akan pernah menerima kamu kalau ayah kamu tak memohon pada saya dan kamu tak memiliki prestasi apapun…” ucap Bu Ira pelan namun tajam.
Cakka tersentak dan menatap Sivia. ‘Anak ini….. Dia… Bermasalah dengan dua sekolah sebelumnya? Apa Maksudnya?’ batin Cakka.
“Saya juga tahu SMA Bakti mengeluarkan kamu karena kenakalan kamu…” Cakka kembali tersentak mendnegar kata-kata tajam Bu Ira, itu menjawab sedikit pertanyaannya tadi. “Dan saya juga tahu kamu mengundurkan diri dari SMA Voundras karena ayah kamu tak mau kamu
didepak untuk yang kedua kalinya karena kamu tambah nakal…”
Sivia diam. Cakka benar-benar kaget, kini dia tahu siapa yang dihadapinya, berandalan perempuan yang selalu membuat ulah. ‘Gila! Gue jadi penasaran sama cewe satu ini…’ batin Cakka.
“Dan kamu tak mau kan mengecewakan ayah kamu dengan dikeluarkan dari SMA VICAS ini?” ucap Bu Ira tegas, membuat Sivia dan Cakka terlonjak tak menyangka kata-kata itu akan keluar.
‘Hah? Sumpah deh gue ngga bermaksud bikin Sivia sampe terima kata-kata itu, gue pikir dia cuma bakal dikasih hukuman kecil… Kok ujung-ujungnya malah kata-kata itu?’ Cakka merutuki tindakannya yang tadi melaporkan Sivia ke guru BP, dan ternyata guru BP malah membawa
masalah ini ke kepala sekolah.
Sivia masih diam, sementara Bu Ira terus bicara.
“Saya tak menyangka, baru dua hari kamu ada di sini, Cakka, kakak kelas kamu sudah menjadi korban.” sesal Bu Ira. “Seharusnya kamu bisa menjadi lebih sopan apalagi terhadap kakak kelas kamu, Sivia…”
“Sa…sssa...ya… Ssaaya menyesal, Bu.” ucap Sivia gugup tapi datar, membuat Bu Ira ragu.
“Saya belum yakin…” ucap Bu Ira. “Kamu bisa saja bilang begitu tapi suatu hari nanti kamu akan melakukannya lagi, entah pada Cakka atau siswa lainnya. Sivia, kamu ini adik dari ketua OSIS SMA VICAS. Alvin
pasti kecewa sama kamu…”
‘Apa? Dia adiknya Alvin? Masa sih Alvin punya adik kaya gini? Kok dia ngga pernah cerita?’ Cakka yang untuk kesekian kalinya kaget hanya bisa bertanya-tanya dalam hati.
“Maafkan saya, Bu Ira, saya janji tak akan mengulanginya lagi…” kata Sivia yakin.
“Jangan minta maaf sama saya. Minta maaf sama Cakka, dia yang kamu pukul…” Bu Ira memalingkan wajahnya kea rah Cakka yang sedari tadi terdiam.
Sivia menoleh ke arah Cakka, keraguan menyelimutinya. ‘Males banget gue minta maaf sama Cakka. Arrrggh! Najis!’ batin Sivia.
“Cepat! Saya tak punya banyak waktu untuk mengurusi kalian.” ucap Bu Ira. Sivia masih diam. “Hmmmmhh… Baiklah Sivia, Cakka, selesaikan masalah kalian di luar. Saya sibuk. Dan kamu Sivia, buat surat
pernyataan minta maaf dengan tanda tangan kamu dan Cakka. Kapanpun serahkan
pada saya. Sekarang kalian boleh keluar!” kata Bu Ira dengan wajah yang tampak
menyerah.
Sivia beranjak dari kursinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedangkan Cakka pergi dengan mengucapkan salam sebelumnya. Dia menyusul Sivia.
“Woy, Sivia!” cegah Cakka sambil memegang lengan Sivia yang hendak pergi. “Lo inget kan kata-kata Bu Ira tadi? Lo mesti minta maaf sama gue dan…”
“Gue inget!” potong Sivia cepat, enggan mendengar Cakka mengoceh. “Gue minta maaf.” ucapnya.
Cakka terkekeh menatap Sivia. “Lo diajarin minta maaf dengan cara yang bener ngga sih sama guru TK lo?” kata Cakka.
Sivia terdiam, lalu pelan pelan mengulurkan tangannya yang kaku. “Gu…gue minta maaf…” ucapnya gelagapan. Cakka menyambut tangan Sivia dan tersenyum geli. Sivia dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Cakka lalu berlalu.
“Hey, tunggu!” Cakka menahan Sivia lagi.
“Apa lagi? Gue udah minta maaf dan lo udah maafin gua, kan? Selesai masalahnya…” kata Sivia.
“Eh, siapa bilang gue maafin lo? Gue jabat tangan lo kan belum berarti gue maafin lo!!” Sivia mengerutkan dahinya, berpikir apa maunya orang aneh di depannya ini. “Surat permintaan
maafnya juga belum ada, kan?”
Sivia tak habis pikir dengan manusia menyebalkan di depannya. “Besok!” ucap Sivia datar lalu berlalu meninggalkan Cakka. Cakka pun tak meu menahan Sivia untuk yang ketiga kalinya, dia memilih membiarkan Sivia pergi.
‘Besok, gue tunggu!’ batin Cakka.
***
@ motor Alvin, pulang sekolah
Sivia pulang dnegan Alvin, dia menceritakan semuanya, juga yang terjadi di dalam ruang kepala sekolah. Alvin
masalah. mengangguk mengerti, dia tak punya alas an untuk memarahi adiknya karena itu semua pun bukan seluruhnya kesalahan adiknya, melainkan merupakan kesalahan Cakka juga yang selalu membesar-besarkan
“Gue harap lo emang bener-bener mau berubah, Vi!” ucap Alvin penuh harap saat pulang dengan Sivia.
“Gue berusaha, kak.” ucap Sivia lirih. Alvin serius mengemudikan motornya menembus jalanan yang tak terlalu ramai. Sivia masih memikirkan masalahnya dnegan Cakka, juga secara tak langsung masalahnya
dengan dengan Bu Ira.
***
@ Rumah Rio, Perumahan Bumi Intan
Rio baru sampai di rumahnya, setengah tak percaya dia kembali membayangkan kejadian tadi di kantin sekolah, kejadian saat seorang siswi memukul Cakka sahabatnya.
“Gebetannya Alvin berani juga, ya?” ucap Rio pelan sambil terus melangkah ke kamarnya. Tak sengaja Shilla mendengar kata-katanya tadi.
“Kak Alvin kok mau ya sama cewe berandal kaya gitu?” komentar Shilla menghentikan langkah Rio. RioAlvin. Ngga kapok ya aku tamper tadi pagi?” menghampiri Shilla yang duduk di sofa ruang keluarga. “Mana tadi masih aja dia pulang bareng kak
“Apaaa????” Rio terkejut. “Lo nampar dia? Cari masalah aja lo, Shill!” ucap Rio.
Shilla hanya mengangkat bahu. “Abis dia deket sama kak Alvin sih.” jawab Shilla enteng.
“Lo harus minta maaf sama dia! Lo salah udah nampar dia, emangnya lo siapanya Alvin?” Rio marah, tak terima dengan kelakuan adiknya.
“Ih kakak kok malah ngebelain cewe gatel itu?” Shilla manyun.
“Gue ngga ngebelain siapa-siapa, Shill. Lo ngga pantes bertindak kaya gitu!” Rio mencoba menasehati adiknya yang manja dan cengeng itu.
drrrttt…ddrrrrtttt…. HP Rio bergetar, ada sms masuk.
----------
From: 085*********
rio, ini gue cakka
jangan kasih tau dayat nomor ini!
----------
Rio menyimpan nomor itu di HP-nya, dan cepat-cepat membalas sms Cakka. Rio memang tak suka membuat orang menunggu.
----------
To: Cakka_new
sip!
apa kabar hidung lo cak?
----------
From: Cakka_new
masih kaya ceri, bulat dan merah
-_____-
----------
To: Cakka_new
hahahah… itu cewe emang gileee mampus ya?
----------
From: Cakka_new
-,- !
maksud lo apa yo?
eh gila itu cewe adiknya Alvin bego, bukan gebetannya.
----------
Rio membaca sms Cakka yang satu itu. “Haaahh????”
Shilla sontak menengok pada kakaknya yang wajahnya sekarang aneh. “Kenapa kak?”
Rio menatap Shilla. “Shill, lo beneran deh harus minta maaf sama cewe itu.”
“Hiddiiiiiiih ngapain???”
“Dia adiknya Alvin, begoooooo!!!!” kata-kata Rio membuat Shilla cengo, lalu kelabakan dan kebingungan.
“Ah, darimana lo tau?” Shilla setengah tak percaya, Rio menyodorkan sms terakhir Cakka dan itu cukup untuk membuat Shilla mengutuki kesalah pahamannya.
“Yah, kak! Gue mesti gimana dong?” Shilla mulai merasa bersalah pada Sivia, juga pada Alvin.
“Ngga tau, lo pikir sendiri…” kata Rio cuek. Dia buru-buru pergi menuju kamarnya untuk istirahat, dia lupa untuk membalas sms Cakka, dan langsung masuk kamar lalu berbaring tanpa melepas seragamnya.
***
Alvin dan Sivia sampai di depan rumah mereka. Sivia langsung turun dan berjalan pelan menuju rumah Ozy, mau apa lagi selain mengambil kunci rumah. Tiba-tiba…..
“Eh, Vi!” seru Alvin yang masih ada di atas motor. Sivia menoleh. “Notebook gue ketinggalan di perpus! Gue balik ke sekolah dulu, ya?” Alvin yang mendadak panik langsung saja menge-gas motornya menuju sekolah.
Sivia hanya terbengong, belum dia mengucapkan sepatah kata pun Alvin sudah ngeloyor pergi. Sivia hanya mengangkat bahu dan masuk ke rumah Ozy karena dia ingin cepat-cepat masuk rumah dan istirahat, melepas semua masalahnya hari
ini. Sivia berjalan santai setelah membuka pagar dan…
BUKK!!
“Auuww…” Sivia memegengi lututnya yang kembali menyentuh bumi. Diliriknya sepatu kets berwarna hitam putih yang terpasang di kakinya. Talinya lepas. Sivia mendengus kesal. “Sepatu sialan!” buru-buru diikatnya tali sepatu yang membuatnya terjatuh tiga kali hari ini. Lalu pergi
menuju pintu rumah Ozy.
Tok-tok-tok
Sivia mengetuk pintu kayu rumah Ozy, suasana sepi, hanya suara angina yang menggerakkan dedaunan yang menempel di ranting-ranting pohon yang membuat rumah itu nampak teduh di bawah terik matahari. Tak ada seseorang yang membuka pintu. Sivia kembali mengepalkan
tangannya untuk mengetuk pintu.
Tok-tok-tok-tok-tok
“Sebentaaar!” teriak seseorang dari dalam, namun tak begitu keras terdengar dari luar.
Tak ada yang membuka pintu, Sivia benar-benar kesal. ‘Sebentar? Sebentar kok ngga keluar-keluar?’ batinnya. Dia memutuskan untuk kembali mengetuk pintu. Tangannya yang mengepal sudah siap diangkatnya, tinggal diayunkan menyentuh pintu, tapi tiba-tiba…..
Creeetttttt… Pintu terbuka, seseorang kini berdiri di depan Sivia. Dia tinggi, tak terlalu putih, dan cukup ganteng. Sivia masih bengong dan masih dalam posisi tangan di atas menatap heran pada sosok dengan kaos putih bergambar monyet meringis, jeans lusuh berwarna biru muda, dan kamera analog di
tangannya – yang dia kalungkan ke lehernya – serta mengenakan topi putih berlogo
Adidas dan bergambar icon World Cup secara terbalik (tau kan maksud gue topi
terbalik? yang depan di belakang!). Sosok (ganteng) itu diam, begitu pula Sivia
yang terus diam dalam posisinya…
***
Sementara Alvin yang panik terus memacu motornya dengan kencang. Saat di persimpangan jalan, tanpa Alvin sadari seorang perempuan tengah menyeberang. Alvin cepat-cepat mengerem motornya, cewe itu terjatuh tepat di depan motor Alvin. Sontak Alvin yang kaget buru-buru turun dari motornya dan menghampiri cewe yang kini terduduk shock dengan air mata yang mulai mengalir membentuk anak sungai di pipinya.
“Aduh, lo ngga apa apa kan? Sorry ya?” Alvin memegang pundak cewe itu dengan canggung sebenarnya dan menyadari tubuhnya bergetar. Alvin
memiringkan badannya mencoba melihat wajah cewe itu, rambut panjangnya sedikit
menutupi wajahnya. Alangkah terkejutnya Alvin
saat dia melihat wajah cewe itu yang………. MENANGIS??
Entri Populer
-
by: tia (http://facebook/tiantium ) Sivia masih terpaku, shock plus panik. Sedangkan Cakka, dia menatap Sivia marah. Secepatnya Cakka ba...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) “Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa l...
-
by: tia (http://www.facebook.com/tiantium) satu laki-laki wajahnya dingin dan tengah sibuk mengunyah nasi yang barusan dimasukkan ke mul...
-
“Thank you ma bro, Cakka!” kata Rio senang dan langsung menyeret piring dengan mie goreng pesanannya. Cakka hanya tersenyum simpul. “Mana...
-
by : tia (http://facebook/tiantium) Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung per...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) 5 Januari Dear, buku hitam… Mama ngasih dua buku, hitam-putih di ulang tahun gue tahun lalu. Mam...
-
Lebih menarik lagi ternyata banyak di antaranya ditulis sama orang seumuran kita. Ada Laire Siwi yang masih kelas kelas satu SMU waktu mener...
-
Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu sing...
-
Artikel-artikel tentang penulisan ini ada yang sebagian dan sepenuhnya saya ambil dari narasumber lain, demi keaslian pemilik saya cantumkan...
-
Dengan penuturan jujur dan gaya bahasa khas remaja, novel-novel ini menawarkan kisah yang dekat sama kita, tokoh-tokoh yang terasa akrab di ...
Minggu, 06 Februari 2011
Tempat Yang Paling Indah part 5
by : tia (http://facebook/tiantium)
Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung pergi menuju tas Gabriel yang tergeletak di dekat situ. “Oleh-olehnya di mana kak?”
Gabriel tersenyum malu, “Ahh… Lo pasti tahu lah, gue ngga bakal pernah lupain dia, Zy, ngga akan pernah!” jawab Gabriel mantap, lalu tiduran lagi. “Kenapa emangnya?”
“Engga apa apa…” jawab Ozy. “Mana deh oleh-olehnya? Kok ngga ada di tas? Ooh, di koper ya?” Ozy buru-buru menyambar koper Gabriel, namun Gabriel cepat-cepat merebutnya, takut Ozy mengobrak-abrik isi kopernya.
“Weiittts, ntar dulu, Zy, lo main serobot aja.” Gabriel membenahi kopernya, lalu membukanya pelan-pelan. “Lo kira gue karya wisata minta oleh-oleh?” Gabriel lalu mengambil sebuah kantong hitam kecil, isinya kamera.
“Apaan tuh kak?” Ozy penasaran.
“Ini kamera, masa ngga tau? Katrok lo!” Gabriel membuka kantong itu dan sebuah kamera digital dikeluarkannya. Ozy hanya manyun, Gabriel tertawa. “Haha, becanda, Zy! Nih buat lo, kan gue belum kasih kado ulang tahun kemaren.” Ozy tersenyum.
“Waah, makasih kakaaaaaak!” Ozy memeluk Gabriel lebay. “Eh, tapi kan lo ngelewatin ulang tahun gue lima kali… Masa kadonya cuma satu?”
“Elaah, itu kan juga hasil gue nabung dua tahun, Zy, kaga makan kaga minum! Ngga ngehargain banget deh!” kata Gabriel.
“Buset dah, pantes lo kurusan. Ternyata ngga makan buat gue.” Ozy lalu menyalakan kamera dari Gabriel. “Loh, kak, kok, ada foto-foto apaan nih?” Ozy memencet-mencet tombol di kamera itu dan menemukan foto-foto yang pasti hasil jepretan Gabriel.
“Eh maap, memorinya belum gue ambil.. Hehe. Ini foto-foto gue ambil pas di Batam.” Gabriel lalu berlalu menuju kasurnya lagi. “Gue mau ngajarin lo fotografi, Zy. Lo mau kan?” tanya Gabriel.
“Hapaaa? Serius lo? Mau mau mau…” Ozy beranjak mendekati Gabriel.
“Tapi ntar kalo gue nya udah nemu kamera yang bagus. Di sini kamera analog mahal ngga, Zy?” ucap Gabriel lalu berusaha memejamkan mata.
“Ngapain pake beli, kak? Di lemari masih ada kok kamera kakak yang dulu…” Ozy buru-buru membuka lemari Gabriel dan membuka sebuah tas kecil yang berisi sebuah kamera. “Ini yang dikasih papa ke kakak dulu, kan, waktu SD?” Ozy memberikan kamera pada Gabriel.
“Haah? Masih ada nih kamera?” Gabriel tersentak. Sudah lama dia tak memegang kamera itu, dia meninggalkannya di lemari saat dia memutuskan pindah ke Batam. Gabriel lalu mengusap-usap kamera lamanya.
“Ya masih lah. Foto-foto kak Sivia juga masih ada tuh di lemari!”
Gabriel tersentak, lalu menengok ke arah lemari. Banyak foto Sivia yang tertempel di belakang pintu lemari. “Oh, gitu… Bagus deh lo ngga buangin.” Gabriel kini membayangkan wajah Sivia saat mereka terakhir kali dia melihatnya, sudah sangat lama.
“Ngga bakalan lah gue buangin barang-barang itu. Gue kan tahu perasaan kakak sama kak Sivia yang bener-bener gedeeeeeeee.” ucap Ozy.
Gabriel hanya berdehem. “Hmmm.” dia masih sibuk dengan kameranya. “Padahal gue niat beli yang baru, eeh, malah yang lama masih ada. Masih bagus juga…” ucapnya.
“Eh, kak! Kok kak Iyel mau ujian kok malah pindah sekolah sih?” Ozy duduk di kasur Iyel.
“Hah? Eeh, kenapa ya? Gue rada bosen di sana.” jawab Gabriel enteng.
‘Hah? Bosen? Masa cuma karena bosen kak Iyel sampe pindah jauh Jakarta? Aneh!’ batin Ozy. “Ya udah deh, kak, Ozy keluar dulu deh. Kakak istirahat aja, bentar lagi makan malem Ozy panggil deh…” ucap Ozy sambil keluar kamar Gabriel dan menutup pintu.
Setelah Ozy benar-benar keluar, Gabriel mendekati lemarinya dan menatap lekat-lekat foto-foto di balik pintunya. Gabriel tersenyum kecil. Dia lalu membayangkan saat-saat dia mulai mengagumi Sivia, sudah lama, namun perasaan itu belum juga hilang.
Dia lalu melihat di pojokan setiap foto-foto di depannya.
“Gie’s” tulisan itu yang tertera di setiap foto. Gabriel lalu tertawa kecil.
“Hmmm… Andai dulu ngga ada…..” Gabriel menggantung kata-katanya. “Aga…” ucapnya pelan lalu menutup pintu lemarinya.
Gabriel membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia mamandang langit-langit yang terpampang wajah teduh perempuan yang selalu membuatnya lupa cara bernapas saat ada di dekatnya, tapi itu hanya bayangannya.
“Sivia Azizah…” bisiknya. Lalu memejamkan mata untuk tidur setelah menghela napas panjang.
***
Sivia telah siap dengan seragam SMA-nya, menggendong ransel hitam dan mengenakan sepatu kets miliknya. Rambutnya dia ikat ke belakang sekenanya, tak terlalu rapi. Dia berjalan agak lemas menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana nampak Alvin sedang melahap semangkuk bubur.
“Dapet makan dari mana lo?” tanya Sivia heran dengan makanan di depan Alvin, mama dan papanya belum pulang, pembantu juga belum kembali dari kampung.
“Gue ngga bego banget ya, Vi! Ada bubur instant di lemari ya gue bikin aja!” jawabnya cuek, sambil terus memakan buburnya.
“Sial lo, kok gue ngga lo bikinin?”
“Lo ngga minta!” kata Alvin tanpa melirik Sivia, dia masih sibuk dengan buburnya.
“Ah, sompret. Yuk berangkat, udah mau jam 7…” ucap Sivia setelah melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.
“Lah? Lo ngga sarapan?” tanya Alvin.
Sivia menatap Alvin dengan muka malas. “Lo lama-lama gue hajar, Vin! Udah ah cepetan!” kata Sivia kesal. “Gue sarapan di sekolah aja!”
Alvin menghabiskan buburnya cepat, lalu menyambar ranselnya dan bergegas ke garasi mengeluarkan ninja putih miliknya. Dia mendorong motornya ke luar pagar, Sivia menutup pagar rumahnya setelah sebelumnya mengunci pintu rumahnya.
“Bentar kak, gue nitipin kunci dulu…” kata Sivia lalu pergi ke rumah yang ada tepat di sebelah rumahnya. Dia mengetuk pintu yang sebenarnya telah terbuka. Seorang laki-laki membuka pintu itu. Itu bukan Ozy, Sivia yang bingung hanya tersenyum. Tanpa piker panjang, dan tanpa memikirkan sosok yang tak dikenalnya di rumah Ozy itu, dia langsung menyerahkan kunci rumahnya. “Gue Sivia, gue nitip kunci rumah. Kasihin ke Tante Nana, ya?” katanya langsung pergi.
“Eh, eh, ini…” laki-laki itu bingung. Tapi… ‘Eh, siapa tadi namanya? Sivia?’ dia tiba-tiba tersenyum dan masuk ke dalam rumah dengan lemas.
Sivia menghampiri Alvin yang sudah siap di atas motornya. Sebenarnya dia masih bingung dengan laki-laki di rumah Ozy itu, dia belum pernah melihatnya sebelumnya. ‘Ah, ngapain jug ague pikirin?’ batin Sivia yang langsung mendekati Alvin.
“Udah?” tanya Alvin. Sivia mengangguk dan naik motor Alvin. Alvin tancap gas keluar kompleks Bumi Intan menuju SMA VICAS yang tak terlalu jauh jaraknya. Di sepanjang jalan Sivia masih saja memikirkan laki-laki asing di rumah Ozy tadi.
***
@ SMA VICAS – Parkiran
Alvin dan Sivia sampai di sekolah.
“Jangan bikin masalah ya?” ucap Alvin begitu sampai di parkiran SMA VICAS.
“Gila lo Vin, ngga bosen ngomong hal itu melulu?” Sivia gerah, kakaknya terlalu parno. “Udah ah, gue duluan!” kata Sivia sambil berjalan santai menggendong ranselnya. Dia tak mempedulikan rambutnya yang acak-acakan, toh masih cantik.
Tanpa Sivia sadari, tali sepatu kirinya belum dia ikat, walhasil sepatu kanannya menginjak tali sepatu kiri yang menjuntai dan….. BUKK!!! dia terjatuh dengan sempurna. Kedua lututnya yang menumpu terluka. Tak banyak darah yang keluar, tapi cukup untuk membuatnya meringis kesakitan. Alvin yang melihat Sivia terjatuh secara refleks menghampirinya dan memastikan keadaan Sivia.
“Ya ampun, Vi, makannya tali sepatu diiket yang bener dong.” Ucap Alvin perhatian. “Sakit ngga?” katanya sambil memegang luka di lutut Sivia. Sontak Sivia menjerit.
“Auww! Sakit lah, lo pencet-pencet gitu gimana ngga sakit?” Sivia meniup lukanya, lalu mengipaskan tangannya di dekat luka itu. “Udah lo ke kelas aja! Gue bisa berdiri.” kata Sivia mencoba bangkit. Lututnya perih, dia memejamkan mata kuat-kuat dan menegangkan rahang,menahan sakit. Pelan-pelan Sivia berdiri dan berjalan biasa.
Di kejauhan, tampak dua orang siswa memperhatikan gerak-gerik Sivia-Alvin.
“Tuh kan? Lo liat dong Cak, si Alvin punya gebetan baru ngga bilang-bilang…” ucap Rio dengan mata masih tertuju pada Sivia-Alvin.
“Hah?” ucap Cakka datar.
“Itu si Rio boncengin cewe, terus cewenya jatoh, terus Alvin perhatian banget sama cewe itu!” kata Rio menggebu-gebu. Cakka tak bereaksi lagi. Paling-paling hanya…
“Haah?” katanya kembali DATAR. Cakka terlihat masih memainkan PSP-nya, sama sekali tak mempedulikan Rio yang dengan semangat berkobar memata-matai Alvin berasa menjadi agen rahasia macam FBI. Rio kini menatap Cakka. “Yaelaaah Cakka! Lo liatin dong…” katanya sambil memalingkan wajah Cakka dari PSP-nya kea rah Alvin-Sivia.
Cakka dengan malas memperhatikan Alvin di parkiran, tetapi matanya kini tertuju pada sosok perempuan di depan Alvin. ‘Hah? Cewe rese itu? Ngapain dia sama Alvin?’
“Beneran lo ngga apa-apa?” Alvin masih cemas.
“Ngga papa kok…” Sivia berjalan meninggalkan Alvin.
“Gue anter ke kelas, ya, Vi?” tawar Alvin sambil berjalan menjejeri Sivia.
“Ngga usah, kak. Ntar gue dikatain banci lagi, pake acara dianterin ke kelas.” ucap Sivia sambil nyengir kuda. “Udah sono pergi!” katanya, dia juga pergi meninggalkan Alvin yang terpaku.
Alvin sebenarnya tak tega membiarkan Sivia berjalan sendirian. ‘Ah, tapi Sivia emang ngga apa-apa kayanya. Gue aja kali ya yang over…” batin Alvin.
“Woy Cakka! Lo liat kan, Alvin udah ngga nganggep kita temen. Kita harus melakukan unjuk rasa, Cak…” ucap Rio kesal. “Masa dia ngegebet cewe, mana cantik lagi, ngga bilang-bilang sama kita. Ayo kita protes, Cak!” Rio menarik tangan Cakka.
“Halaaah! Protes, kepala lo protes!” kata Cakka. “Protes sendiri sanah, gue ogah.”
“Yaah, ini melanggar hak-hak pertemanan, Cak! Kita harus membela hak-hak kita sebagai temen Alvin…” Rio membujuk Cakka dengan gigih.
Namun Cakka keburu bete setelah melihat Sivia, cewe yang selalu membuatnya kesal. “Berisik lo, Yo! Gue ke kelas aja lah.” Cakka ngeloyor pergi meninggalkan Rio yang ternyata masih betah mengintip, walaupun targetnya sudah pergi entah ke mana.
‘Cewe super rese itu gebetannya Alvin? Masa sih, gue ngga yakin deh! Masa Alvin mau sama cewe model gitu? Kaya ngga ada cewe beneran aja sampe-sampe nge-gebet cewe gadungan…’ batin Cakka.
***
Sivia masih tertatih, dia tak tahu kalau Alvin yang tak bias melepas rasa khawatirnya dari tadi membuntutinya berjalan ke arah kelas. Sivia terkadang meringis karena kakinya terasa tak mau digerakkan. Tiba-tiba seseorang di persimpangan (jaelah persimpangan! pokoknya yang mau belok gitu lah) menarik tangannya dengan kasar.
Sivia menahan sakit di kakinya yang terseok, dilihatnya sosok yang menariknya dengan kasar. Seorang perempuan yang dia kenal, namun tak pernah menyapanya.
“Shilla?” ucapnya lirih. Dilihatnya juga dua orang perempuan dnegan muka kesal menatapnya tajam. Siapa lagi kalau bukan… “Angel, Zahra?”
“Apa? Lo tuh dasar cewe gatel ya?” Angel memulai pembicaraan.
Alvin yang tadi ada di belakang Sivia menghentikan langkahnya, tak jauh dari Sivia, mencoba mendnegar apa yang tengah mereka bicarakan.
“Ngga punya malu lo nge-deketin kak Alvin?” Zahra juga mulai bicara. Shilla masih diam menatap Sivia lebih tajam dari Angel maupun Zahra. Sivia kini memasang wajah bingungnya. “Lo kurang kerjaan ya?”
Sivia hanya membatin. ‘Apa maksudnya? Nge-deketin kak…..’
“Hey! Ngomong dong!” bentak Angel tepat di depan muka Sivia.
“Gini… Gue sama sekali ngga ngerti apa maksud lo berdua, dan…”
PLAKK!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Sivia, refleks dia memegangi pipinya yang memerah seketika. Shilla mengepalkan tangannya yang barusan menyentuh pipi Sivia. Sivia membelalakkan matanya tak percaya.
‘Salah gue apa?’ batin Sivia bingung dan shock. Sivia tak mampu bergerak sama sekali, apalagi balik memukul atau menghajar tiga perempuan menyebalkan di hadapannya – seperti yang biasa dia lakukan pada saat semacam itu.
“Jangan ngedeketin kak Alvin lagi…” ucap Shilla lirih.
Alvin keluar dari persembunyiannya dengan muka merah padam. Dia paling marah kalau seseorang memperlakukan adiknya sekasar itu tanpa alas an, walaupun dia sendiri tahu Sivia tak selemah yang ada di bayangannya. Alvin dengan kasar mendorong Shilla menjauhi Sivia, lalu menggenggam tangan Sivia dan menariknya pergi. Dia sama sekali tak menghiraukan Sivia yang meringis kesakitan karena kakinya terasa perih. Alvin terus berjalan.
“Kak Alvin!” jerit Shilla yang masih terduduk lemas setelah Alvin mendorongnya. Kedua temannya seketika membantunya berdiri. Shilla menangis hebat. Dasar cewe!
***
@ UKS
“Kak!” ucap Sivia menatap kakaknya yang kini tengah membersihkan lukanya dengan kapas basah. Alvin sama sekali tak bergeming. “Kak Alvin…” panggil Sivia pelan sekali lagi.
Kini Alvin menatapnya.
“Biar gue aja yang bersihin lukanya, lo ke kelas. Udah bel, kan, dari tadi?” ucap Sivia sambil merebut kapas yang menumpuk di tangan Alvin. “Gue ngga mau lo dimarahin guru atau sampe dihukum karena lo ngurusin gue…”
Alvin masih diam, tak ada bunyi apapun dari mulutnya. ‘Gue takut lo kenapa-kenapa, Vi…’ batin Alvin.
“Gue beneran ngga apa apa, kak…” ucap Sivia seolah membaca pikiran Alvin.
Alvin yang terus terdiam sedikit tersenyum, lalu dengan berat hati meninggalkan Sivia di UKS sendirian. Alvin berjalan gontai menggendong tas-nya menuju kelasnya. Sudah tak dipedulikannya apa omelan atau makian yang akan dia terima dari Pak Duta, guru kimia-nya.
***
“Ya ampun Sivia!” seru Agni yang melihat Sivia dengan tertatih memasuki kelas dan berjalan menuju bangkunya. “Lo kenapa, Vi?”
Sivia kini duduk di bangkunya, di sebelah Septian yang seketika menanyainya ini itu sewajarnya orang khawatir.
“Gue ngga apa-apa kok. Cuma jatoh gara-gara tali sepatu kelupaan diiket. Hehehe…” katanya sambil nyengir, berusaha menghilangkan kepanikan teman-temannya. “Kok ngga ada guru sih?”
“Bu Winda ngga masuk, tapi, beeeeuuhh ngasih tugas ngga kira-kira…” Agni merubah raut mukanya. Sivia terkekeh, begitu pula Septian. Mereka lalu tenggelam dalam obrolan, sama sekali tak mempedulikan tugas yang diberikan. Toh ujung-ujungnya tak akan dibahas.
Sivia sebenarnya tahu Shilla sejak tadi memperhatikannya sejak dia masuk kelas. Namun Sivia berusaha mengabaikannya, tak mau membuat masalah sesuai janjinya, juga dalam pikirannya hanya akan membuang waktunya kalau meladeni Shilla. Jadi dia memilih diam dan bersikeras menghindari Shilla. ‘Ogah juga sih ngeladenin cewe macem dia, ngga ada tantangannya!’ batin Sivia.
TEEEETTTTT!!!! – irama surga pertama (istirahat) –
Brakkk!
“Hey cewe ganjen…” Angel menggebrak meja Sivia. Ada Shilla di sampingnya, juga Zahra tentunya. “Apa kabar lo?” Sivia masih diam menatap balik mereka satu per satu.
“Eh, Sivia Azizah. Seneng ya kak Alvin nolongin lo?” Zahra gentian bicara, dia mendekatkan mukanya ke Sivia.
“Lo bertiga ngga ada kerjaan lain selain sok berkuasa di sini, ya?” ucap Sivia dengan dingin, tak bernada bertanya. “Minggir! Gue mau ke kantin. Yuk Agni, Tian!” Sivia berdiri dari kursinya namun Angel kembali mendudukannya dengan mendorong bahunya.
“Eh, lo pikir kak Alvin bakal suka sama cewe model lo gini?” ucap Angel memandangi Sivia dari atas sampai bawah. “Lo bahkan ngga pantes disebut cewe tau!”
“Lo tuh nyadar dong BERANDALAN kaya lo itu NGGA PANTES sekolah di sini. Pake acara ngedeketin kak Alvin lagi… Nyadar, nyadar!!!” Shilla akhirnya bersuara, dia menekankan kata BERANDALAN dan NGGA PANTES dengan penekanan yang cukup mengena, namun Sivia masih bertampang santai.
Sivia melirik jam tangannya. “Udah selese ngomongnya? Gue laper. Ke kantin dulu ya? Ntar lagi ngobrolnya…” Sivia berdiri dari duduknya tanpa dorongan dari Angel lagi. “Bye Shilla…” ucapnya santai dan cool, tanpa beban dan sukses membuat Angel dan Zahra cengo, Shilla kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai meratapi kepergian Sivia bersama Septian dan Agni.
“Awas aja lo!” ucap Shilla lirih.
@ Kantin
“Sumpah deh Vi gue suka gaya lo. Pas ngomong: BYE SHILLA…” ucap Agni sambl menirukan gaya Sivia yang cool abis waktu mengucapkan dua kata yang membuat Angel dan Zahra diam. “Hahaha…” Agni tertawa renyah. Sivia hanya tersenyum dan geleng-geleng.
“Eh, tapi ada apa deh sama mereka, kok mereka gangguin lo?” Septian berhenti memakan bakwan udang yang barusan dibelinya.
Sivia diam, mengaduk-aduk terus mie goreng nya tak berniat memakannya. “Gue ngga tau deh.” jawabnya datar. “Eh, gue beli minum dulu ya?” kata Sivia sambil berlalu meninggalkan mejanya dan berjalan setengah tertatih – karena lututnya masih sakit – menuju refrigerator di pojok kantin.
Sesampainya di sana, dia mengambil sebotol Coca Cola dan membuka tutupnya lalu memasukkan sebuah sedotan ke mulut botol. Kantin sangat ramai, dia harus berdesak-desakkan melewati kerumunan siswa yang berebut makanan untuk sampai di mejanya. Saat hampir saja terbebas dari kerumunan itu, di jalan yang lumayan sempit dia hampir saja menabrak seorang laki-laki. Untung dia bisa mengendalikan badannya agar tak menabrak (wuiih canggih!).
“Hati-hati dong, untung lo ngga nabrak gue!” ucap laki-laki itu. Sivia mengenal suaranya, dia mendongak untuk melihat wajahnya. Dan…. “Eloo?” laki-laki itu merubah tampang datarnya menjadi tampang kesal setelah menyadari Sivia yang ada di depannya.
“Stop! Gue ngga mau cari ribut!” Sivia dengan buru-buru melangkah cepat menjauhi sosok di depannya. Namun, hal yang tak diinginkan terjadi. Tali sepatunya tak bisa diajak kompromi, tali itu lepas lagi dan kembali diinjaknya sehingga.
BRUKK… Sivia terjatuh dan laki-laki itu juga. Sivia panik bukan main menyadari sebotol Coca Cola di tangannya tumpah setengah ke baju OSIS laki-laki di depannya. Sivia membelalakkan matanya, terlukis keterkejutan di wajahnya. Dia melihat sorot mata laki-laki di depannya berubah tajam, siap menghujam jantung Sivia yang sudah lemas.
“DASAAR CEWE RUSSUUUUHHH!!!!!”
Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung pergi menuju tas Gabriel yang tergeletak di dekat situ. “Oleh-olehnya di mana kak?”
Gabriel tersenyum malu, “Ahh… Lo pasti tahu lah, gue ngga bakal pernah lupain dia, Zy, ngga akan pernah!” jawab Gabriel mantap, lalu tiduran lagi. “Kenapa emangnya?”
“Engga apa apa…” jawab Ozy. “Mana deh oleh-olehnya? Kok ngga ada di tas? Ooh, di koper ya?” Ozy buru-buru menyambar koper Gabriel, namun Gabriel cepat-cepat merebutnya, takut Ozy mengobrak-abrik isi kopernya.
“Weiittts, ntar dulu, Zy, lo main serobot aja.” Gabriel membenahi kopernya, lalu membukanya pelan-pelan. “Lo kira gue karya wisata minta oleh-oleh?” Gabriel lalu mengambil sebuah kantong hitam kecil, isinya kamera.
“Apaan tuh kak?” Ozy penasaran.
“Ini kamera, masa ngga tau? Katrok lo!” Gabriel membuka kantong itu dan sebuah kamera digital dikeluarkannya. Ozy hanya manyun, Gabriel tertawa. “Haha, becanda, Zy! Nih buat lo, kan gue belum kasih kado ulang tahun kemaren.” Ozy tersenyum.
“Waah, makasih kakaaaaaak!” Ozy memeluk Gabriel lebay. “Eh, tapi kan lo ngelewatin ulang tahun gue lima kali… Masa kadonya cuma satu?”
“Elaah, itu kan juga hasil gue nabung dua tahun, Zy, kaga makan kaga minum! Ngga ngehargain banget deh!” kata Gabriel.
“Buset dah, pantes lo kurusan. Ternyata ngga makan buat gue.” Ozy lalu menyalakan kamera dari Gabriel. “Loh, kak, kok, ada foto-foto apaan nih?” Ozy memencet-mencet tombol di kamera itu dan menemukan foto-foto yang pasti hasil jepretan Gabriel.
“Eh maap, memorinya belum gue ambil.. Hehe. Ini foto-foto gue ambil pas di Batam.” Gabriel lalu berlalu menuju kasurnya lagi. “Gue mau ngajarin lo fotografi, Zy. Lo mau kan?” tanya Gabriel.
“Hapaaa? Serius lo? Mau mau mau…” Ozy beranjak mendekati Gabriel.
“Tapi ntar kalo gue nya udah nemu kamera yang bagus. Di sini kamera analog mahal ngga, Zy?” ucap Gabriel lalu berusaha memejamkan mata.
“Ngapain pake beli, kak? Di lemari masih ada kok kamera kakak yang dulu…” Ozy buru-buru membuka lemari Gabriel dan membuka sebuah tas kecil yang berisi sebuah kamera. “Ini yang dikasih papa ke kakak dulu, kan, waktu SD?” Ozy memberikan kamera pada Gabriel.
“Haah? Masih ada nih kamera?” Gabriel tersentak. Sudah lama dia tak memegang kamera itu, dia meninggalkannya di lemari saat dia memutuskan pindah ke Batam. Gabriel lalu mengusap-usap kamera lamanya.
“Ya masih lah. Foto-foto kak Sivia juga masih ada tuh di lemari!”
Gabriel tersentak, lalu menengok ke arah lemari. Banyak foto Sivia yang tertempel di belakang pintu lemari. “Oh, gitu… Bagus deh lo ngga buangin.” Gabriel kini membayangkan wajah Sivia saat mereka terakhir kali dia melihatnya, sudah sangat lama.
“Ngga bakalan lah gue buangin barang-barang itu. Gue kan tahu perasaan kakak sama kak Sivia yang bener-bener gedeeeeeeee.” ucap Ozy.
Gabriel hanya berdehem. “Hmmm.” dia masih sibuk dengan kameranya. “Padahal gue niat beli yang baru, eeh, malah yang lama masih ada. Masih bagus juga…” ucapnya.
“Eh, kak! Kok kak Iyel mau ujian kok malah pindah sekolah sih?” Ozy duduk di kasur Iyel.
“Hah? Eeh, kenapa ya? Gue rada bosen di sana.” jawab Gabriel enteng.
‘Hah? Bosen? Masa cuma karena bosen kak Iyel sampe pindah jauh Jakarta? Aneh!’ batin Ozy. “Ya udah deh, kak, Ozy keluar dulu deh. Kakak istirahat aja, bentar lagi makan malem Ozy panggil deh…” ucap Ozy sambil keluar kamar Gabriel dan menutup pintu.
Setelah Ozy benar-benar keluar, Gabriel mendekati lemarinya dan menatap lekat-lekat foto-foto di balik pintunya. Gabriel tersenyum kecil. Dia lalu membayangkan saat-saat dia mulai mengagumi Sivia, sudah lama, namun perasaan itu belum juga hilang.
Dia lalu melihat di pojokan setiap foto-foto di depannya.
“Gie’s” tulisan itu yang tertera di setiap foto. Gabriel lalu tertawa kecil.
“Hmmm… Andai dulu ngga ada…..” Gabriel menggantung kata-katanya. “Aga…” ucapnya pelan lalu menutup pintu lemarinya.
Gabriel membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia mamandang langit-langit yang terpampang wajah teduh perempuan yang selalu membuatnya lupa cara bernapas saat ada di dekatnya, tapi itu hanya bayangannya.
“Sivia Azizah…” bisiknya. Lalu memejamkan mata untuk tidur setelah menghela napas panjang.
***
Sivia telah siap dengan seragam SMA-nya, menggendong ransel hitam dan mengenakan sepatu kets miliknya. Rambutnya dia ikat ke belakang sekenanya, tak terlalu rapi. Dia berjalan agak lemas menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana nampak Alvin sedang melahap semangkuk bubur.
“Dapet makan dari mana lo?” tanya Sivia heran dengan makanan di depan Alvin, mama dan papanya belum pulang, pembantu juga belum kembali dari kampung.
“Gue ngga bego banget ya, Vi! Ada bubur instant di lemari ya gue bikin aja!” jawabnya cuek, sambil terus memakan buburnya.
“Sial lo, kok gue ngga lo bikinin?”
“Lo ngga minta!” kata Alvin tanpa melirik Sivia, dia masih sibuk dengan buburnya.
“Ah, sompret. Yuk berangkat, udah mau jam 7…” ucap Sivia setelah melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.
“Lah? Lo ngga sarapan?” tanya Alvin.
Sivia menatap Alvin dengan muka malas. “Lo lama-lama gue hajar, Vin! Udah ah cepetan!” kata Sivia kesal. “Gue sarapan di sekolah aja!”
Alvin menghabiskan buburnya cepat, lalu menyambar ranselnya dan bergegas ke garasi mengeluarkan ninja putih miliknya. Dia mendorong motornya ke luar pagar, Sivia menutup pagar rumahnya setelah sebelumnya mengunci pintu rumahnya.
“Bentar kak, gue nitipin kunci dulu…” kata Sivia lalu pergi ke rumah yang ada tepat di sebelah rumahnya. Dia mengetuk pintu yang sebenarnya telah terbuka. Seorang laki-laki membuka pintu itu. Itu bukan Ozy, Sivia yang bingung hanya tersenyum. Tanpa piker panjang, dan tanpa memikirkan sosok yang tak dikenalnya di rumah Ozy itu, dia langsung menyerahkan kunci rumahnya. “Gue Sivia, gue nitip kunci rumah. Kasihin ke Tante Nana, ya?” katanya langsung pergi.
“Eh, eh, ini…” laki-laki itu bingung. Tapi… ‘Eh, siapa tadi namanya? Sivia?’ dia tiba-tiba tersenyum dan masuk ke dalam rumah dengan lemas.
Sivia menghampiri Alvin yang sudah siap di atas motornya. Sebenarnya dia masih bingung dengan laki-laki di rumah Ozy itu, dia belum pernah melihatnya sebelumnya. ‘Ah, ngapain jug ague pikirin?’ batin Sivia yang langsung mendekati Alvin.
“Udah?” tanya Alvin. Sivia mengangguk dan naik motor Alvin. Alvin tancap gas keluar kompleks Bumi Intan menuju SMA VICAS yang tak terlalu jauh jaraknya. Di sepanjang jalan Sivia masih saja memikirkan laki-laki asing di rumah Ozy tadi.
***
@ SMA VICAS – Parkiran
Alvin dan Sivia sampai di sekolah.
“Jangan bikin masalah ya?” ucap Alvin begitu sampai di parkiran SMA VICAS.
“Gila lo Vin, ngga bosen ngomong hal itu melulu?” Sivia gerah, kakaknya terlalu parno. “Udah ah, gue duluan!” kata Sivia sambil berjalan santai menggendong ranselnya. Dia tak mempedulikan rambutnya yang acak-acakan, toh masih cantik.
Tanpa Sivia sadari, tali sepatu kirinya belum dia ikat, walhasil sepatu kanannya menginjak tali sepatu kiri yang menjuntai dan….. BUKK!!! dia terjatuh dengan sempurna. Kedua lututnya yang menumpu terluka. Tak banyak darah yang keluar, tapi cukup untuk membuatnya meringis kesakitan. Alvin yang melihat Sivia terjatuh secara refleks menghampirinya dan memastikan keadaan Sivia.
“Ya ampun, Vi, makannya tali sepatu diiket yang bener dong.” Ucap Alvin perhatian. “Sakit ngga?” katanya sambil memegang luka di lutut Sivia. Sontak Sivia menjerit.
“Auww! Sakit lah, lo pencet-pencet gitu gimana ngga sakit?” Sivia meniup lukanya, lalu mengipaskan tangannya di dekat luka itu. “Udah lo ke kelas aja! Gue bisa berdiri.” kata Sivia mencoba bangkit. Lututnya perih, dia memejamkan mata kuat-kuat dan menegangkan rahang,menahan sakit. Pelan-pelan Sivia berdiri dan berjalan biasa.
Di kejauhan, tampak dua orang siswa memperhatikan gerak-gerik Sivia-Alvin.
“Tuh kan? Lo liat dong Cak, si Alvin punya gebetan baru ngga bilang-bilang…” ucap Rio dengan mata masih tertuju pada Sivia-Alvin.
“Hah?” ucap Cakka datar.
“Itu si Rio boncengin cewe, terus cewenya jatoh, terus Alvin perhatian banget sama cewe itu!” kata Rio menggebu-gebu. Cakka tak bereaksi lagi. Paling-paling hanya…
“Haah?” katanya kembali DATAR. Cakka terlihat masih memainkan PSP-nya, sama sekali tak mempedulikan Rio yang dengan semangat berkobar memata-matai Alvin berasa menjadi agen rahasia macam FBI. Rio kini menatap Cakka. “Yaelaaah Cakka! Lo liatin dong…” katanya sambil memalingkan wajah Cakka dari PSP-nya kea rah Alvin-Sivia.
Cakka dengan malas memperhatikan Alvin di parkiran, tetapi matanya kini tertuju pada sosok perempuan di depan Alvin. ‘Hah? Cewe rese itu? Ngapain dia sama Alvin?’
“Beneran lo ngga apa-apa?” Alvin masih cemas.
“Ngga papa kok…” Sivia berjalan meninggalkan Alvin.
“Gue anter ke kelas, ya, Vi?” tawar Alvin sambil berjalan menjejeri Sivia.
“Ngga usah, kak. Ntar gue dikatain banci lagi, pake acara dianterin ke kelas.” ucap Sivia sambil nyengir kuda. “Udah sono pergi!” katanya, dia juga pergi meninggalkan Alvin yang terpaku.
Alvin sebenarnya tak tega membiarkan Sivia berjalan sendirian. ‘Ah, tapi Sivia emang ngga apa-apa kayanya. Gue aja kali ya yang over…” batin Alvin.
“Woy Cakka! Lo liat kan, Alvin udah ngga nganggep kita temen. Kita harus melakukan unjuk rasa, Cak…” ucap Rio kesal. “Masa dia ngegebet cewe, mana cantik lagi, ngga bilang-bilang sama kita. Ayo kita protes, Cak!” Rio menarik tangan Cakka.
“Halaaah! Protes, kepala lo protes!” kata Cakka. “Protes sendiri sanah, gue ogah.”
“Yaah, ini melanggar hak-hak pertemanan, Cak! Kita harus membela hak-hak kita sebagai temen Alvin…” Rio membujuk Cakka dengan gigih.
Namun Cakka keburu bete setelah melihat Sivia, cewe yang selalu membuatnya kesal. “Berisik lo, Yo! Gue ke kelas aja lah.” Cakka ngeloyor pergi meninggalkan Rio yang ternyata masih betah mengintip, walaupun targetnya sudah pergi entah ke mana.
‘Cewe super rese itu gebetannya Alvin? Masa sih, gue ngga yakin deh! Masa Alvin mau sama cewe model gitu? Kaya ngga ada cewe beneran aja sampe-sampe nge-gebet cewe gadungan…’ batin Cakka.
***
Sivia masih tertatih, dia tak tahu kalau Alvin yang tak bias melepas rasa khawatirnya dari tadi membuntutinya berjalan ke arah kelas. Sivia terkadang meringis karena kakinya terasa tak mau digerakkan. Tiba-tiba seseorang di persimpangan (jaelah persimpangan! pokoknya yang mau belok gitu lah) menarik tangannya dengan kasar.
Sivia menahan sakit di kakinya yang terseok, dilihatnya sosok yang menariknya dengan kasar. Seorang perempuan yang dia kenal, namun tak pernah menyapanya.
“Shilla?” ucapnya lirih. Dilihatnya juga dua orang perempuan dnegan muka kesal menatapnya tajam. Siapa lagi kalau bukan… “Angel, Zahra?”
“Apa? Lo tuh dasar cewe gatel ya?” Angel memulai pembicaraan.
Alvin yang tadi ada di belakang Sivia menghentikan langkahnya, tak jauh dari Sivia, mencoba mendnegar apa yang tengah mereka bicarakan.
“Ngga punya malu lo nge-deketin kak Alvin?” Zahra juga mulai bicara. Shilla masih diam menatap Sivia lebih tajam dari Angel maupun Zahra. Sivia kini memasang wajah bingungnya. “Lo kurang kerjaan ya?”
Sivia hanya membatin. ‘Apa maksudnya? Nge-deketin kak…..’
“Hey! Ngomong dong!” bentak Angel tepat di depan muka Sivia.
“Gini… Gue sama sekali ngga ngerti apa maksud lo berdua, dan…”
PLAKK!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Sivia, refleks dia memegangi pipinya yang memerah seketika. Shilla mengepalkan tangannya yang barusan menyentuh pipi Sivia. Sivia membelalakkan matanya tak percaya.
‘Salah gue apa?’ batin Sivia bingung dan shock. Sivia tak mampu bergerak sama sekali, apalagi balik memukul atau menghajar tiga perempuan menyebalkan di hadapannya – seperti yang biasa dia lakukan pada saat semacam itu.
“Jangan ngedeketin kak Alvin lagi…” ucap Shilla lirih.
Alvin keluar dari persembunyiannya dengan muka merah padam. Dia paling marah kalau seseorang memperlakukan adiknya sekasar itu tanpa alas an, walaupun dia sendiri tahu Sivia tak selemah yang ada di bayangannya. Alvin dengan kasar mendorong Shilla menjauhi Sivia, lalu menggenggam tangan Sivia dan menariknya pergi. Dia sama sekali tak menghiraukan Sivia yang meringis kesakitan karena kakinya terasa perih. Alvin terus berjalan.
“Kak Alvin!” jerit Shilla yang masih terduduk lemas setelah Alvin mendorongnya. Kedua temannya seketika membantunya berdiri. Shilla menangis hebat. Dasar cewe!
***
@ UKS
“Kak!” ucap Sivia menatap kakaknya yang kini tengah membersihkan lukanya dengan kapas basah. Alvin sama sekali tak bergeming. “Kak Alvin…” panggil Sivia pelan sekali lagi.
Kini Alvin menatapnya.
“Biar gue aja yang bersihin lukanya, lo ke kelas. Udah bel, kan, dari tadi?” ucap Sivia sambil merebut kapas yang menumpuk di tangan Alvin. “Gue ngga mau lo dimarahin guru atau sampe dihukum karena lo ngurusin gue…”
Alvin masih diam, tak ada bunyi apapun dari mulutnya. ‘Gue takut lo kenapa-kenapa, Vi…’ batin Alvin.
“Gue beneran ngga apa apa, kak…” ucap Sivia seolah membaca pikiran Alvin.
Alvin yang terus terdiam sedikit tersenyum, lalu dengan berat hati meninggalkan Sivia di UKS sendirian. Alvin berjalan gontai menggendong tas-nya menuju kelasnya. Sudah tak dipedulikannya apa omelan atau makian yang akan dia terima dari Pak Duta, guru kimia-nya.
***
“Ya ampun Sivia!” seru Agni yang melihat Sivia dengan tertatih memasuki kelas dan berjalan menuju bangkunya. “Lo kenapa, Vi?”
Sivia kini duduk di bangkunya, di sebelah Septian yang seketika menanyainya ini itu sewajarnya orang khawatir.
“Gue ngga apa-apa kok. Cuma jatoh gara-gara tali sepatu kelupaan diiket. Hehehe…” katanya sambil nyengir, berusaha menghilangkan kepanikan teman-temannya. “Kok ngga ada guru sih?”
“Bu Winda ngga masuk, tapi, beeeeuuhh ngasih tugas ngga kira-kira…” Agni merubah raut mukanya. Sivia terkekeh, begitu pula Septian. Mereka lalu tenggelam dalam obrolan, sama sekali tak mempedulikan tugas yang diberikan. Toh ujung-ujungnya tak akan dibahas.
Sivia sebenarnya tahu Shilla sejak tadi memperhatikannya sejak dia masuk kelas. Namun Sivia berusaha mengabaikannya, tak mau membuat masalah sesuai janjinya, juga dalam pikirannya hanya akan membuang waktunya kalau meladeni Shilla. Jadi dia memilih diam dan bersikeras menghindari Shilla. ‘Ogah juga sih ngeladenin cewe macem dia, ngga ada tantangannya!’ batin Sivia.
TEEEETTTTT!!!! – irama surga pertama (istirahat) –
Brakkk!
“Hey cewe ganjen…” Angel menggebrak meja Sivia. Ada Shilla di sampingnya, juga Zahra tentunya. “Apa kabar lo?” Sivia masih diam menatap balik mereka satu per satu.
“Eh, Sivia Azizah. Seneng ya kak Alvin nolongin lo?” Zahra gentian bicara, dia mendekatkan mukanya ke Sivia.
“Lo bertiga ngga ada kerjaan lain selain sok berkuasa di sini, ya?” ucap Sivia dengan dingin, tak bernada bertanya. “Minggir! Gue mau ke kantin. Yuk Agni, Tian!” Sivia berdiri dari kursinya namun Angel kembali mendudukannya dengan mendorong bahunya.
“Eh, lo pikir kak Alvin bakal suka sama cewe model lo gini?” ucap Angel memandangi Sivia dari atas sampai bawah. “Lo bahkan ngga pantes disebut cewe tau!”
“Lo tuh nyadar dong BERANDALAN kaya lo itu NGGA PANTES sekolah di sini. Pake acara ngedeketin kak Alvin lagi… Nyadar, nyadar!!!” Shilla akhirnya bersuara, dia menekankan kata BERANDALAN dan NGGA PANTES dengan penekanan yang cukup mengena, namun Sivia masih bertampang santai.
Sivia melirik jam tangannya. “Udah selese ngomongnya? Gue laper. Ke kantin dulu ya? Ntar lagi ngobrolnya…” Sivia berdiri dari duduknya tanpa dorongan dari Angel lagi. “Bye Shilla…” ucapnya santai dan cool, tanpa beban dan sukses membuat Angel dan Zahra cengo, Shilla kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai meratapi kepergian Sivia bersama Septian dan Agni.
“Awas aja lo!” ucap Shilla lirih.
@ Kantin
“Sumpah deh Vi gue suka gaya lo. Pas ngomong: BYE SHILLA…” ucap Agni sambl menirukan gaya Sivia yang cool abis waktu mengucapkan dua kata yang membuat Angel dan Zahra diam. “Hahaha…” Agni tertawa renyah. Sivia hanya tersenyum dan geleng-geleng.
“Eh, tapi ada apa deh sama mereka, kok mereka gangguin lo?” Septian berhenti memakan bakwan udang yang barusan dibelinya.
Sivia diam, mengaduk-aduk terus mie goreng nya tak berniat memakannya. “Gue ngga tau deh.” jawabnya datar. “Eh, gue beli minum dulu ya?” kata Sivia sambil berlalu meninggalkan mejanya dan berjalan setengah tertatih – karena lututnya masih sakit – menuju refrigerator di pojok kantin.
Sesampainya di sana, dia mengambil sebotol Coca Cola dan membuka tutupnya lalu memasukkan sebuah sedotan ke mulut botol. Kantin sangat ramai, dia harus berdesak-desakkan melewati kerumunan siswa yang berebut makanan untuk sampai di mejanya. Saat hampir saja terbebas dari kerumunan itu, di jalan yang lumayan sempit dia hampir saja menabrak seorang laki-laki. Untung dia bisa mengendalikan badannya agar tak menabrak (wuiih canggih!).
“Hati-hati dong, untung lo ngga nabrak gue!” ucap laki-laki itu. Sivia mengenal suaranya, dia mendongak untuk melihat wajahnya. Dan…. “Eloo?” laki-laki itu merubah tampang datarnya menjadi tampang kesal setelah menyadari Sivia yang ada di depannya.
“Stop! Gue ngga mau cari ribut!” Sivia dengan buru-buru melangkah cepat menjauhi sosok di depannya. Namun, hal yang tak diinginkan terjadi. Tali sepatunya tak bisa diajak kompromi, tali itu lepas lagi dan kembali diinjaknya sehingga.
BRUKK… Sivia terjatuh dan laki-laki itu juga. Sivia panik bukan main menyadari sebotol Coca Cola di tangannya tumpah setengah ke baju OSIS laki-laki di depannya. Sivia membelalakkan matanya, terlukis keterkejutan di wajahnya. Dia melihat sorot mata laki-laki di depannya berubah tajam, siap menghujam jantung Sivia yang sudah lemas.
“DASAAR CEWE RUSSUUUUHHH!!!!!”
Tempat Yang Paling Indah part 4
by: tia (http://facebook/tiantium)
5 Januari
Dear, buku hitam…
Mama ngasih dua buku, hitam-putih di ulang tahun gue tahun lalu. Mama bilang, kalo gue sedih, marah, dan kesel, gue tulis semua masalah gue di buku hitam. Dan kalo gue seneng, gue tulis di buku putih. Dan hampir setahun gue ngga nyentuh dua buku itu. Gue sebenernya jijik sama diary – walaupun mama ngga bilang ini diary, tapi tetep aja ini diary – karena gue bukan cewek melankolis yang suka curhat sama buku. Tapi, gue rasa ini saatnya gue jadi cewek melankolis, karena gue ngga punya siapa-siapa buat numpahin isi hati gue.
Ini hari pertama gue nangis sejak gue naik kelas lima. Gue bukan cewek yang gampang nangis, tapi hal yang bikin gue nangis kali ini adalah papa. PAPA NAMPAR GUE!!! Gue masih kelas lima, tapi udah ngerasain tamparan papa.
Gue emang salah, gue emang bego dan ngga pantes jadi anak papa. Kepala sekolah nganter surat peringatan langsung ke papa gue tadi pagi. Itu surat peringatan yang ke-5, tapi itu adalah yang pertama yang nyampe ke tangan papa, yang lainnya gue buang sebelum papa nemuin di tas gue. Di surat itu, gue resmi diskors satu minggu gara-gara sering bolos sekolah. Tapi papa ngga pernah tanya kenapa gue bolos, dia cuma bilang: “KAMU BUKAN ANAK PAPA!” setelah berhasil nampar gue. Padahal andaikan papa tanya kenapa gue jadi kaya gini, gue bakal teriakin kalo gue pengen diperhatiin sama papa, gue pengen dianggep!!!
Gue ngga ngerasa sakit dengan tamparan itu, tapi hati gue sakit punya papa yang berani main tangan ke gue, anak dia satu-satunya. Dan air mata pertama gue jatuh di depan papa. Ya, cewek berandal, suka berantem, suka cari masalah, dan suka bolos ini bisa nangis juga.
Dan satu hal yang gue syukurin waktu itu, mama ngga ada di rumah. Gue tau jantung mama lemah, dia ngga mungkin bisa ngadepin hal semacam ini, kan? Kemungkinan terburuk yang bakal gue dapet kalau mama ada di rumah adalah kematian mama karena serangan jatung, mungkin! Dan papa juga ngga kasih tau mama, gue agak lega! Tapi, sampai skearang pun gue belum bisa berhenti nangis…
Huh, cukup. Gue ngga mau lo basah karena air mata gue… Bye!
“Via…” bisik Alvin sambil membalik halaman buku hitam di tangannya. Dia tak membaca buku putih itu, karena tak ada catatan di dalamnya. ‘Apa Sivia belum pernah bahagia?’ batinnya.
26 Januari
Gue kesel sama Aga! Gue bener-bener ngga kenal dia. Gue cuma tau, namanya Aga, cuma itu. Eh, ngga. Gue tau namanya Aga, kelas 6B. Itu aja, gue bener ngga kenal dia. Masalahnya gue kelas 5A, letaknya jauh dari kelas 6B. Dan lo tau apa yang dia buat dan udah bikin gue malu? Dia minta pacaran sama gue. GILA!!! Niatnya mau gue cuekin aja. Tapi, temennya – yang selalu ada di sebelah Aga, dan ngedukung Aga di manapun – narik tangan gue kasar banget. Gini, gue certain aja…
Tadi pagi upacara. Guru-guru nyuruh anak-anak pulang karena ada rapat guru dan komite, ya udah, gue pulang kaya biasa. Tapi, tiba-tiba pas gue keluar kelas, cowok yang sumpah gue ngga kenal, narik tangan gue dan gue dipaksa ikut dia ke taman sekolah. Mau ngapa coba anak itu. Gue berontak, tapi dia tambah kuat nariknya, tangan gue sakit banget.
Pas sampe di taman, ternyata Aga ada di sana. Dan lo tau dia ngapain? Dia mainin gitarnya dan nyanyi lagu yang paling gue benci. Lagu yang ngga layak gue certain, lagu cinta yang melankolis, gombal, najis setengah mampus deh! Gue langsung pergi, tapi temen Aga yang sampe sekarang gue ngga tau namanya nahan gue, dia pegang tangan gue kenceng banget dan itu sakit banget. Gue sebel sama lo,*entah siapa nama lo*! Dan pas Aga selese nyanyi, dia deketin gue dan bilang: SIVIA, LO MAU NGGA JADI PACAR GUE? Huh, apa-apaan sih ini anak? Gue pukul deh hidungnya sampe mimisan, dan dia malah senyum-senyum sendiri. Terus gue bilang: SINTING LO, GA! dan pergi dari tempat itu. TEMENNYA AGA yang “unknown” ngga nahan gue karena dia sibuk sama sohibnya yang mimisan. Dia panik setengah mampus deh kayaknya,,,
Dan yang gue heran. Ada yang mau sama gue yang dicap berandal ini? Semoga aja dia kapok abis gue tonjok! Gue males banget masalah begituan deh!
Alvin tertawa kecil, lalu kembali membolak balik buku hitam Sivia. Kadang-kadang dia tertawa membaca tulisan-tulisan Sivia di lembar-lembar berikutnya yang memaki-maki Aga juga temannya karena mereka terus mengusik Sivia. Mereka tak kenal kata menyerah walaupun Sivia tetap dingin dan bahkan kadang kasar. Tapi terkadang Alvin juga miris mengetahui adik tirinya itu benar-benar berandal, terbaca dari catatannya. Dan mata Alvin tertarik membaca tanggal di satu catatan. itu catatan 30 Januari.
30 Januari
Buku hitam, gue ngga nagis kali ini. Tapi banyak banget air mata gue yang ingin keluar, terpaksa gue tahan karena gue ngga mau nangis di sini, di rumah sakit.
Dan sekarang hati gue sakit, bener-bener sakit, sama sakitnya waktu papa nampar gue. Gue di sini, di bangku kayu deket ruang ICU tempat mama berjuang melawan sakitnya. Dada gue sesak nahan amarah, sedih, kesel dan semuanya. Gue cuma bisa certain ini ke elo sekarang… Gue duduk sambil nulisin semua hal di hati gue yang hampir meledak.
SEMUA GARA-GARA AGA! SEMUA GARA-GARA DIA!!!! Mama kena serangan jantung gara-gara Aga…
Gue benci sama Aga sekarang, gue benci sama dia. Selama ini, papa ngejaga masalah gue yang diskors, suka bolos dan suka bikin masalah termasuk berantem, papa diem demi mama, agar mama ngga kaget dan kaya gini sekarang! Tapi Aga udah bikin semua kacau!
Tadi sore, dia masih pake seragam pramuka dia, dan dia dateng ke rumah gue entah mau apa. Gue ngga tau apa mau dia, dan kebetulan mama di rumah jadi Aga nemuin mama. Gue dengerin pembicaraan mereka, dan Aga kayaknya ngerayu mama biar mama ngijinin gue pacaran.
Alvin mengehla napas, lalu melanjutkan membaca tulisan Sivia.
Dan Aga terus ngerayu mama biar diijinin pacaran sama gue. Sampai akhirnya mama tanya: Apa Aga sayang sama Sivia? Dan Aga bilang: “Aga bener-bener sayang Sivia, ya, walaupun Sivia berandal, suka bolos, suka berantem, suka mukul anak cowok, suka ngelawan guru, suka ngga ikut tambahan pelajaran, dan bahkan walaupun Sivia sampai diskors Aga tetep sayang Sivia kok tante.” Dia ngga sadar waktu dia ngomong kaya gitu, mama shock banget dan gue langsung datengin mama. Gue liat mama pegangin dadanya dan napasnya ngga teratur. Gue bentak Aga dan usir dia, tapi dia ngga mau pergi dari rumah. Akhirnya mama dibawa sama Mang Ahmad ke Rumah Sakit. Dan gue ngga peduliin Aga yang pergi gitu aja, dia keliatannya takut, tapi gue ngga peduli sama dia. Gue benci dia… GUE BENCI DIA!!!
Catatan berakhir. Alvin mulai mengerti siapa Aga, dan alasan Sivia menangis setiap memimpikannya. Alvin membuka halaman selanjutnya, itu sepertinya catatan terakhir Sivia, tulisannya acak-acakan dan hurufnya seluruhnya capital, dan kalimat-kalimat di kertas itu penuh coretan. Sivia pasti kalut, atau mungkin marah.
31 JANUARI
GUE NGGA TAU TUHAN PUNYA RENCANA APA!!!
GUE BENCI HIDUP INI, SAMA KAYA GUE BENCI AGA, GUE BENCI AGA, GUE BENCI AGA!!!!!!!!
GUE NGGA BAKALAN PERNAH MAAFIN DIA! GUE BENCI DIA!!!
DIA BIKIN MAMA MASUK RUMAH SAKIT DAN AKHIRNYA MAMA NINGGALIN GUE GITU AJA, AGA UDAH BIKIN GUE NGGA PUNYA MAMA… AGA UDAH BIKIN GUE NANGIS DARI TADI PAGI, SAAT DOKTER BILANG MAMA MENINGGAL. DAN GUE NGGA NYANGKA, AGA BAHKAN NGGA DATENG KE PEMAKAMAN MAMA SEKEDAR BUAT NGUCAPIN BELA SUNGKAWA. APA DIA TAKUT? APA DIAA NYESEL? APA DIA BAHKAN NGGA PUNYA RASA TANGGUNG JAWAB? GUE BENCI DIA!!!!!!! SELAMANYA BENCI DIA!!!!!!!!!
DAN GUE NGGA MAU NULIS LAGI, GUE NGGA MAU INGET MAMA, DAN LALU INGET AGA. GUE MAU LUPAIN AGA, LUPAIN SEMUANYA!! GUE BENCI AGGAAA!
Deg! Jantung Alvin tersentak, dia lalu memandang foto kusut di tangannya, itu mengingatkannya pada hari Sivia menangis malam-malam beberapa tahun lalu, saat di mana Alvin belum terlalu dekat dengan Sivia, masih bersikap dingin.
--- FLASH-BACK---
Alvin melangkah pelan menuju kamarnya. Mamanya sedang pergi dengan Pak Zakki, lelaki yang belum lama menikahi mamanya. Dia sendirian di rumah besar, di tengah hujan petir. Sampai di kamar, saat hendak menutup pintu tiba-tiba semua menjadi gelap. Lalu terdengar jeritan oleh Alvin, dari kamar yang tak jauh dari kamarnya. Alvin mencoba berjalan di tengah gelap, dengan hanya mengandalkan cahaya handphone-nya. Alvin melangkah pelan ke sebuah kamar yang dilewatinya, dipegangnya handle pintu lalu didorongnya pintu itu perlahan. Jeritan itu kian heboh, menjadikan Alvin panik. Dilihatnya anak perempuan yang menutup telinganya, menekuk lututnya dan berada di pojok kamar. Dia terus menjerit. Alvin mendekatinya dan mencoba menenangkannya, tapi Alvin masih canggung, itu adalah anak perempuan dari lelaki yang menikahi mamanya. Namanya Sivia.
“Sivia, kamu kenapa?” tanya Alvin lirih dan berlutut di dekat Sivia.
Tak ada jawaban, Sivia masih menjerit. Alvin lalu mendekatkan tangannya ke bahu Sivia dan mengusapnya. Sivia tiba-tiba memeluknya sangat erat dan menangis hebat di dada Alvin. Alvin yang terkejut tak tahu harus berbuat apa. Dia lalu pelan-pelan dan dengan canggung membelai rambut Sivia, dan lama-lama membalas pelukan Sivia. Sivia masih menangis dalam pelukan Alvin.
“Sivia kenapa? Jangan nangis dong, nanti kak Alvin dimarahin papa Sivia gimana?” bisik Alvin merasa aneh menambahkan kata ‘kak’ di depan namanya, walau jarak umurnya hanya satu tahun lebih tua dari Sivia.
Sivia masih menangis. “Takut…” ucapnya di tengah tangisannya.
“Takut apa? Kan ada kak Alvin, jangan takut…” ucap Alvin. Lalu Alvin mengirim SMS pada mamanya agar cepat pulang karena Sivia terus menangis tanpa dia tahu sebabnya.
Sivia masih tetap menangis sampai lampu tiba-tiba menyala. Dilihatnya mata Sivia, ada ketakutan luar biasa di sana. “Nih, udah nyala lampunya, jangan nangis ya?”
Sivia mengangguk dan melepaskan pelukannya. Alvin lalu mengajak Sivia naik ke tampat tidur, lalu menyelimutinya. “Sekarang kamu tidur, ya?” bisik Alvin.
“Kak Alvin jangan pergi. Sivia takut.” kata Sivia memegang tangan Alvin, dia masih sesenggukan.
Alvin tak bisa pergi, diputuskannya untuk menemani Sivia sampai tidur. ‘Apaan nih?’ Alvin membuka genggaman tangan Sivia, ada foto yang sepertinya baru saja diremas oleh Sivia. Di balik foto itu ada tulisan: GUE BENCI LO, AGA, SELAMANYA!!! Alvin lalu mengembalikan foto itu ke tangan Sivia dan pelan-pelan membetulkan selimut Sivia.
Dan tak lama kemudian, Pak Zakki dan mamanya datang ke kamar Sivia bersama seorang dokter. Ternyata mama Alvin memberi tahu Pak Zakki tentang Sivia, dan Pak Zakki pun langsung menghubungi dokter keluarga.
“Sivia kenapa sih, Om?” tanya Alvin pada Pak Zakki, dia belum bisa memanggilnya dengan sebutan ‘papa’
“Sivia phobia sama gelap, Vin.” jawab Pak Zakki pelan, sambil tersenyum pada Alvin yang belum juga memanggilnya papa. “Kamu mau janji sama papa, mulai sekarang kamu jagain Sivia, ya?” pinta Pak Zakki.
Alvin mengangguk pelan, lalu mamanya merangkulnya. ‘Alvin janji bakal jagain Sivia…’ batinnya. Alvin masih membayangkan juga foto yang Sivia genggam dan remas tadi, foto itu kini masih Sivia pegang tanpa seorangpun tahu kecuali dirinya.
--- BACK TO MAIN STORY ---
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu kamar Alvin membuat Alvin tersentak. Dengan secepat kilat Alvin menyelipkan dua buah buku yang dibawanya dari kamar Sivia ke bawah bantalnya, juga foto anak laki-laki di tangannya. Sedangkan CD-nya Alvin lempar ke meja belajarnya. Dengan sigap, Alvin telah bersiap membuka pintu. Dilihatnya Sivia berdiri di depan pintu membawa bola basket.
“Ada apa Vi?” tanya Alvin biasa.
“Ehh, ehheehe… Engga… Mau tanya aja, topinya udah ketemu, kak?” Sivia cengengesan.
‘Ini anak punya masa lalu kayak gitu kok keliatannya biasa aja ya?’ batin Alvin, di aterus menatap Sivia yang mukanya memang biasa saja.
“Kak?” Sivia melambaikan tangannya ke muka Alvin.
“Heeh? Udah udah...” jawab Alvin terkejut.
Sivia menyatukan alisnya heran. “Oh, oke.”
Sivia lalu berbalik menuju kamarnya. Begitu pula Alvin, dia kembali ke kamarnya dan membenahi barang-barang Sivia setelah menutup pintu kamarnya. “CD ini kira-kira isinya apa, ya?” bisik Alvin membolak-balik CD-case di tangannya. “Gue setel aja deh.” Alvin lalu beranjak dan mengambil notebook miliknya. Dia menaruhnya di meja belajar, lalu menarik kursi dan menyalakan notebook itu.
Alvin memasukkan CD di dalam case yang dipegangnya sedari tadi, lalu buru-buru memutarnya. Beberapa saat setelah dia menunggu gambar apa yang akan muncul, akhirnya gambar yang ditunggunya muncul juga.
Jrengg… Suara gitar terdengar saat gambar itu muncul, seorang anak laki-laki memegang gitar nampak tersenyum.
“Tunggu!” ucap Alvin, lalu mem-pause video yang sedang disaksikannya. Dia berlari ke tempat tidurnya, diangkatnya bantal di sana lalu dia mengambil selembar foto yang kusut. Dia kembali duduk tenang, mendekatkan foto kusut itu ke arah screen. “Ini Aga!” bisiknya, lalu menekan tombol play.
“Hai Sivia cantik…” kata anak dalam video itu. “Di sini, Aga mau kasih kamu tentang isi hati Aga.”
Alvin makin serius. Matanya tak berkedip, memandang wajah anak itu lekat-lekat.
“Aga bakal nyanyiin satu lagu buat kamu. Kemarin, Aga baru sadar kalau Sivia ngga suka lagu cinta yang melankolis yang Aga nyanyiin di taman. Dan dari temen-temen Sivia, Aga tau Sivia suka banget lagu ini. Dengerin yaa…” anak dalam video itu lalu memainkan gitarnya untuk intro lagu. Lalu…
“Hmm… aku, ku terlalu mencintaimu
terlebih ku menggilaimu
salahkah ku”
Gitarnya dia mainkan lagi.
“Hingga ku tak tahu arah hidupku
ku telah buta karenamu
tolong aku
ku lelaki yang tak bisa menangis
apa yang harus ku lakukan”
Lalu gitarnya berhenti sesaat, sebelum dia melanjutkannya. Nampak penghayatan luar biasa dari raut mukanya.
“Aku, ku begitu menginginkanmu
takkan mampu hidup tanpamu
mengertilah
hingga kuingin kau genggam hatiku
dan dekatkan pada hatimu
tolong aku
ku lelaki yang tak bisa menangis
apa yang harus ku lakukan
bila kau menjadi milikku
dan kurelakan semua sisa hidupku
kan ku jadikan kau ratuku
di tempat yang paling indah
di tempat yang paling indah
di hidupku
di hidupku
bila kau menjadi milikku
kan kurelakan semua sisa hidupku
kan ku jadikan kau ratuku
di tempat yang paling indah
di hidupku…”
Aga memainkan gitarnya, dia sangat terampil, melodi pendek sempat dia mainkan sebelum dia sampai pada reff kedua lagu itu.
“Bila kau menjadi milikku
kan kurelakan semua sisa hidupku
kan ku jadikan kau ratuku
di tempat yang paling indah
di tempat yang paling indah
di tempat yang paling indah
di hidupku…”
Dia selesai menyanyikannya. Alvin tak tahu lagu apa itu, dia sempat berpikir lagu itu adalah ciptaan Aga untuk Sivia. Dan beberapa saat setelah lagu itu selesai, Aga – anak dalam video itu – tersenyum sambil mengatakan sebuah kalimat.
“Aga loves Sivia. Lagu Tempat yang Paling Indah ini, hanya untuk Sivia seorang.” katanya pelan dan tersenyum sangat manis.
Alvin tak habis pikir dengan anak bernama Aga di depannya. ‘Ini anak, anak siapa si? Anak tarzan? Dia udah dipukul sampai mimisan masih aja mati-matian ngejar Sivia?’ batin Alvin sambil geleng-geleng kagum. “Tapi tetep aja dia yang udah bikin Sivia nangis…” ucap Alvin.
"Ahh, ini anak mirip siapa sih, ya? Kayaknya familiar banget!" Alvin menggaruk-garuk kepalanya.
Video itu belum sepenuhnya berakhir. Masih ada beberapa foto-foto Sivia yang ditampilkan, dan sangat lama saking banyaknya foto-foto itu.
‘Ini anak memang udah pol-polan sama Sivia, sampe foto-foto Sivia dia punya banyak.’ ucap Alvin. Dia lalu meninggalkan video yang masih terus berjalan itu untuk mengambil air minum di dapur. Ada bagian yang tak Alvin lihat, yaitu bagian terakhir video itu, yang juga pasti tidak Sivia lihat saat dia menyaksikan video Aga itu. Jarang ada orang yang melihat video sampai benar-benar pol di bagian akhir. Yang mereka lewatkan yaitu satu potong kalimat: VIDEO, PHOTO COLLECTION, AND EDITING by Gie’s for my buddy who fall in love with a princess. Alvin sungguh tak melihatnya. [ada yang tau apa itu Gie’s?? hahahah...]
***
Hari sudah petang, seorang pemuda, mengenakan pakaian casual menggendong ranselnya yang lumayan besar dan menarik kopernya menuju sebuah rumah. Dia berjalan memasuki halaman sebuah rumah asri penuh tanaman. Dia mengetuk pintu pelan. beberapa saat kemudian pintu terbuka.
“Eh, kakak… Masuk sini, kak, masuk.” suara heboh seorang anak membuat pemuda itu tersenyum geli, lalu mengacak-acak rambut anak di depannya. Dia lalu masuk, anak itu menutup pintu.
“Eh, kamu udah dateng? Tante tungguin dari tadi…” kata seorang ibu yang kini menutup majalah yang tadi dibacanya, lalu menyalami pemuda yang barusan datang. “Tante kan nyuruh kamu langsung ke sini dari kemarin, kok baru dateng sih?” ucapnya lagi.
“Hehe, iya tante. Agak males juga sih ke sini pas pada liburan. Ya udah hari ini aja…” ucap pemuda itu.
“Ooh, ya udah deh!” kata wanita itu. “Kamu taroh dulu gih baju-baju kamu, terus istirahat, kan capek banget pasti kamunya jauh banget dari Batam. Oh, iya Zy, anterin ke kamarnya ya?”
“Sip, Mother!” kata anak yang langsung berlari ke lantai atas. “Ayo, kak!”
Pemuda itu berjalan pelan mengikuti anak laki-laki yang memanggilnya kakak, meski dia bukan kakaknya. Dia mengangkat kopernya hati-hati. Beberapa saat kemudian, dia sampai di kamarnya.
“Eh, kak! Kakak tau ngga, ngga ada yang nempatin kamar ini sejak kakak ngikut papa ke Batam.” ucap anak itu. “Oh iya, kak, papa Ozy kok ngga ikut pulang?” tanyanya. Itu Ozy.
“Hah? Ngga tau deh. Om Adrian katanya pulang bulan depan.” Ozy mengangguk mendengar ucapan pemuda di depannya.
Ehm, sebenarnya dia adalah sepupu jauh Ozy yang sudah sejak lama dirawat oleh papa dan mama Ozy, sejak Ozy masuk SD dan sangat girang saat tahu dia punya kakak baru – walaupun hanya kakak sepupu. Dia yatim piatu, dan Pak Adrian, papa Ozy memutuskan untuk mengangkatnya menjadi anak, namun pemuda itu tak pernah memanggil Pak Adrian dengan sebutan papa sampai sekarang, Om Adrian begitu panggilannya.
“Kak Gabriel.” seru Ozy. Namanya Gabriel, dia baru saja datang dari Batam karena selepas SD dia memutuskan ikut papa Ozy pindah ke Batam yang mengurus perusahaannya di sana. Namun belum lulus SMA, Gabriel memutuskan pindah lagi ke Jakarta, tak betah, itu alasan yang diungkapkannya. Sebenarnya ada alasan lain di dalam hati Gabriel.
“Apaan Zy?” Gabriel tiduran di atas kasur yang Ozy duduki.
“Kakak kangen kak Sivia?” tanya Ozy pelan.
Gabriel bangkit dari tidurnya karena kaget. “Apa?” dia ingin Ozy mengulang kata-katanya. “Lo bilang apa?”
Ozy senyam-senyum sendiri. Gabriel menatapnya heran, nama itu, bagi Gabriel adalah nama yang paling membuatnya tak keruan rasa. Gabriel masih terpaku menatap Ozy yang terus mesem dan menatapnya tanpa berkedip.
wOoops! Gabriel ada hubungan apa ya sama Sivia?
Dan, apa yang akan Alvin lakukan setelah tahu tentang Aga?
Lalu, siapa Gie ? Apa hubungannya dengan Sivia juga Aga ? Teman ? Musuh ? [halah ngaco !!]
5 Januari
Dear, buku hitam…
Mama ngasih dua buku, hitam-putih di ulang tahun gue tahun lalu. Mama bilang, kalo gue sedih, marah, dan kesel, gue tulis semua masalah gue di buku hitam. Dan kalo gue seneng, gue tulis di buku putih. Dan hampir setahun gue ngga nyentuh dua buku itu. Gue sebenernya jijik sama diary – walaupun mama ngga bilang ini diary, tapi tetep aja ini diary – karena gue bukan cewek melankolis yang suka curhat sama buku. Tapi, gue rasa ini saatnya gue jadi cewek melankolis, karena gue ngga punya siapa-siapa buat numpahin isi hati gue.
Ini hari pertama gue nangis sejak gue naik kelas lima. Gue bukan cewek yang gampang nangis, tapi hal yang bikin gue nangis kali ini adalah papa. PAPA NAMPAR GUE!!! Gue masih kelas lima, tapi udah ngerasain tamparan papa.
Gue emang salah, gue emang bego dan ngga pantes jadi anak papa. Kepala sekolah nganter surat peringatan langsung ke papa gue tadi pagi. Itu surat peringatan yang ke-5, tapi itu adalah yang pertama yang nyampe ke tangan papa, yang lainnya gue buang sebelum papa nemuin di tas gue. Di surat itu, gue resmi diskors satu minggu gara-gara sering bolos sekolah. Tapi papa ngga pernah tanya kenapa gue bolos, dia cuma bilang: “KAMU BUKAN ANAK PAPA!” setelah berhasil nampar gue. Padahal andaikan papa tanya kenapa gue jadi kaya gini, gue bakal teriakin kalo gue pengen diperhatiin sama papa, gue pengen dianggep!!!
Gue ngga ngerasa sakit dengan tamparan itu, tapi hati gue sakit punya papa yang berani main tangan ke gue, anak dia satu-satunya. Dan air mata pertama gue jatuh di depan papa. Ya, cewek berandal, suka berantem, suka cari masalah, dan suka bolos ini bisa nangis juga.
Dan satu hal yang gue syukurin waktu itu, mama ngga ada di rumah. Gue tau jantung mama lemah, dia ngga mungkin bisa ngadepin hal semacam ini, kan? Kemungkinan terburuk yang bakal gue dapet kalau mama ada di rumah adalah kematian mama karena serangan jatung, mungkin! Dan papa juga ngga kasih tau mama, gue agak lega! Tapi, sampai skearang pun gue belum bisa berhenti nangis…
Huh, cukup. Gue ngga mau lo basah karena air mata gue… Bye!
“Via…” bisik Alvin sambil membalik halaman buku hitam di tangannya. Dia tak membaca buku putih itu, karena tak ada catatan di dalamnya. ‘Apa Sivia belum pernah bahagia?’ batinnya.
26 Januari
Gue kesel sama Aga! Gue bener-bener ngga kenal dia. Gue cuma tau, namanya Aga, cuma itu. Eh, ngga. Gue tau namanya Aga, kelas 6B. Itu aja, gue bener ngga kenal dia. Masalahnya gue kelas 5A, letaknya jauh dari kelas 6B. Dan lo tau apa yang dia buat dan udah bikin gue malu? Dia minta pacaran sama gue. GILA!!! Niatnya mau gue cuekin aja. Tapi, temennya – yang selalu ada di sebelah Aga, dan ngedukung Aga di manapun – narik tangan gue kasar banget. Gini, gue certain aja…
Tadi pagi upacara. Guru-guru nyuruh anak-anak pulang karena ada rapat guru dan komite, ya udah, gue pulang kaya biasa. Tapi, tiba-tiba pas gue keluar kelas, cowok yang sumpah gue ngga kenal, narik tangan gue dan gue dipaksa ikut dia ke taman sekolah. Mau ngapa coba anak itu. Gue berontak, tapi dia tambah kuat nariknya, tangan gue sakit banget.
Pas sampe di taman, ternyata Aga ada di sana. Dan lo tau dia ngapain? Dia mainin gitarnya dan nyanyi lagu yang paling gue benci. Lagu yang ngga layak gue certain, lagu cinta yang melankolis, gombal, najis setengah mampus deh! Gue langsung pergi, tapi temen Aga yang sampe sekarang gue ngga tau namanya nahan gue, dia pegang tangan gue kenceng banget dan itu sakit banget. Gue sebel sama lo,*entah siapa nama lo*! Dan pas Aga selese nyanyi, dia deketin gue dan bilang: SIVIA, LO MAU NGGA JADI PACAR GUE? Huh, apa-apaan sih ini anak? Gue pukul deh hidungnya sampe mimisan, dan dia malah senyum-senyum sendiri. Terus gue bilang: SINTING LO, GA! dan pergi dari tempat itu. TEMENNYA AGA yang “unknown” ngga nahan gue karena dia sibuk sama sohibnya yang mimisan. Dia panik setengah mampus deh kayaknya,,,
Dan yang gue heran. Ada yang mau sama gue yang dicap berandal ini? Semoga aja dia kapok abis gue tonjok! Gue males banget masalah begituan deh!
Alvin tertawa kecil, lalu kembali membolak balik buku hitam Sivia. Kadang-kadang dia tertawa membaca tulisan-tulisan Sivia di lembar-lembar berikutnya yang memaki-maki Aga juga temannya karena mereka terus mengusik Sivia. Mereka tak kenal kata menyerah walaupun Sivia tetap dingin dan bahkan kadang kasar. Tapi terkadang Alvin juga miris mengetahui adik tirinya itu benar-benar berandal, terbaca dari catatannya. Dan mata Alvin tertarik membaca tanggal di satu catatan. itu catatan 30 Januari.
30 Januari
Buku hitam, gue ngga nagis kali ini. Tapi banyak banget air mata gue yang ingin keluar, terpaksa gue tahan karena gue ngga mau nangis di sini, di rumah sakit.
Dan sekarang hati gue sakit, bener-bener sakit, sama sakitnya waktu papa nampar gue. Gue di sini, di bangku kayu deket ruang ICU tempat mama berjuang melawan sakitnya. Dada gue sesak nahan amarah, sedih, kesel dan semuanya. Gue cuma bisa certain ini ke elo sekarang… Gue duduk sambil nulisin semua hal di hati gue yang hampir meledak.
SEMUA GARA-GARA AGA! SEMUA GARA-GARA DIA!!!! Mama kena serangan jantung gara-gara Aga…
Gue benci sama Aga sekarang, gue benci sama dia. Selama ini, papa ngejaga masalah gue yang diskors, suka bolos dan suka bikin masalah termasuk berantem, papa diem demi mama, agar mama ngga kaget dan kaya gini sekarang! Tapi Aga udah bikin semua kacau!
Tadi sore, dia masih pake seragam pramuka dia, dan dia dateng ke rumah gue entah mau apa. Gue ngga tau apa mau dia, dan kebetulan mama di rumah jadi Aga nemuin mama. Gue dengerin pembicaraan mereka, dan Aga kayaknya ngerayu mama biar mama ngijinin gue pacaran.
Alvin mengehla napas, lalu melanjutkan membaca tulisan Sivia.
Dan Aga terus ngerayu mama biar diijinin pacaran sama gue. Sampai akhirnya mama tanya: Apa Aga sayang sama Sivia? Dan Aga bilang: “Aga bener-bener sayang Sivia, ya, walaupun Sivia berandal, suka bolos, suka berantem, suka mukul anak cowok, suka ngelawan guru, suka ngga ikut tambahan pelajaran, dan bahkan walaupun Sivia sampai diskors Aga tetep sayang Sivia kok tante.” Dia ngga sadar waktu dia ngomong kaya gitu, mama shock banget dan gue langsung datengin mama. Gue liat mama pegangin dadanya dan napasnya ngga teratur. Gue bentak Aga dan usir dia, tapi dia ngga mau pergi dari rumah. Akhirnya mama dibawa sama Mang Ahmad ke Rumah Sakit. Dan gue ngga peduliin Aga yang pergi gitu aja, dia keliatannya takut, tapi gue ngga peduli sama dia. Gue benci dia… GUE BENCI DIA!!!
Catatan berakhir. Alvin mulai mengerti siapa Aga, dan alasan Sivia menangis setiap memimpikannya. Alvin membuka halaman selanjutnya, itu sepertinya catatan terakhir Sivia, tulisannya acak-acakan dan hurufnya seluruhnya capital, dan kalimat-kalimat di kertas itu penuh coretan. Sivia pasti kalut, atau mungkin marah.
31 JANUARI
GUE NGGA TAU TUHAN PUNYA RENCANA APA!!!
GUE BENCI HIDUP INI, SAMA KAYA GUE BENCI AGA, GUE BENCI AGA, GUE BENCI AGA!!!!!!!!
GUE NGGA BAKALAN PERNAH MAAFIN DIA! GUE BENCI DIA!!!
DIA BIKIN MAMA MASUK RUMAH SAKIT DAN AKHIRNYA MAMA NINGGALIN GUE GITU AJA, AGA UDAH BIKIN GUE NGGA PUNYA MAMA… AGA UDAH BIKIN GUE NANGIS DARI TADI PAGI, SAAT DOKTER BILANG MAMA MENINGGAL. DAN GUE NGGA NYANGKA, AGA BAHKAN NGGA DATENG KE PEMAKAMAN MAMA SEKEDAR BUAT NGUCAPIN BELA SUNGKAWA. APA DIA TAKUT? APA DIAA NYESEL? APA DIA BAHKAN NGGA PUNYA RASA TANGGUNG JAWAB? GUE BENCI DIA!!!!!!! SELAMANYA BENCI DIA!!!!!!!!!
DAN GUE NGGA MAU NULIS LAGI, GUE NGGA MAU INGET MAMA, DAN LALU INGET AGA. GUE MAU LUPAIN AGA, LUPAIN SEMUANYA!! GUE BENCI AGGAAA!
Deg! Jantung Alvin tersentak, dia lalu memandang foto kusut di tangannya, itu mengingatkannya pada hari Sivia menangis malam-malam beberapa tahun lalu, saat di mana Alvin belum terlalu dekat dengan Sivia, masih bersikap dingin.
--- FLASH-BACK---
Alvin melangkah pelan menuju kamarnya. Mamanya sedang pergi dengan Pak Zakki, lelaki yang belum lama menikahi mamanya. Dia sendirian di rumah besar, di tengah hujan petir. Sampai di kamar, saat hendak menutup pintu tiba-tiba semua menjadi gelap. Lalu terdengar jeritan oleh Alvin, dari kamar yang tak jauh dari kamarnya. Alvin mencoba berjalan di tengah gelap, dengan hanya mengandalkan cahaya handphone-nya. Alvin melangkah pelan ke sebuah kamar yang dilewatinya, dipegangnya handle pintu lalu didorongnya pintu itu perlahan. Jeritan itu kian heboh, menjadikan Alvin panik. Dilihatnya anak perempuan yang menutup telinganya, menekuk lututnya dan berada di pojok kamar. Dia terus menjerit. Alvin mendekatinya dan mencoba menenangkannya, tapi Alvin masih canggung, itu adalah anak perempuan dari lelaki yang menikahi mamanya. Namanya Sivia.
“Sivia, kamu kenapa?” tanya Alvin lirih dan berlutut di dekat Sivia.
Tak ada jawaban, Sivia masih menjerit. Alvin lalu mendekatkan tangannya ke bahu Sivia dan mengusapnya. Sivia tiba-tiba memeluknya sangat erat dan menangis hebat di dada Alvin. Alvin yang terkejut tak tahu harus berbuat apa. Dia lalu pelan-pelan dan dengan canggung membelai rambut Sivia, dan lama-lama membalas pelukan Sivia. Sivia masih menangis dalam pelukan Alvin.
“Sivia kenapa? Jangan nangis dong, nanti kak Alvin dimarahin papa Sivia gimana?” bisik Alvin merasa aneh menambahkan kata ‘kak’ di depan namanya, walau jarak umurnya hanya satu tahun lebih tua dari Sivia.
Sivia masih menangis. “Takut…” ucapnya di tengah tangisannya.
“Takut apa? Kan ada kak Alvin, jangan takut…” ucap Alvin. Lalu Alvin mengirim SMS pada mamanya agar cepat pulang karena Sivia terus menangis tanpa dia tahu sebabnya.
Sivia masih tetap menangis sampai lampu tiba-tiba menyala. Dilihatnya mata Sivia, ada ketakutan luar biasa di sana. “Nih, udah nyala lampunya, jangan nangis ya?”
Sivia mengangguk dan melepaskan pelukannya. Alvin lalu mengajak Sivia naik ke tampat tidur, lalu menyelimutinya. “Sekarang kamu tidur, ya?” bisik Alvin.
“Kak Alvin jangan pergi. Sivia takut.” kata Sivia memegang tangan Alvin, dia masih sesenggukan.
Alvin tak bisa pergi, diputuskannya untuk menemani Sivia sampai tidur. ‘Apaan nih?’ Alvin membuka genggaman tangan Sivia, ada foto yang sepertinya baru saja diremas oleh Sivia. Di balik foto itu ada tulisan: GUE BENCI LO, AGA, SELAMANYA!!! Alvin lalu mengembalikan foto itu ke tangan Sivia dan pelan-pelan membetulkan selimut Sivia.
Dan tak lama kemudian, Pak Zakki dan mamanya datang ke kamar Sivia bersama seorang dokter. Ternyata mama Alvin memberi tahu Pak Zakki tentang Sivia, dan Pak Zakki pun langsung menghubungi dokter keluarga.
“Sivia kenapa sih, Om?” tanya Alvin pada Pak Zakki, dia belum bisa memanggilnya dengan sebutan ‘papa’
“Sivia phobia sama gelap, Vin.” jawab Pak Zakki pelan, sambil tersenyum pada Alvin yang belum juga memanggilnya papa. “Kamu mau janji sama papa, mulai sekarang kamu jagain Sivia, ya?” pinta Pak Zakki.
Alvin mengangguk pelan, lalu mamanya merangkulnya. ‘Alvin janji bakal jagain Sivia…’ batinnya. Alvin masih membayangkan juga foto yang Sivia genggam dan remas tadi, foto itu kini masih Sivia pegang tanpa seorangpun tahu kecuali dirinya.
--- BACK TO MAIN STORY ---
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu kamar Alvin membuat Alvin tersentak. Dengan secepat kilat Alvin menyelipkan dua buah buku yang dibawanya dari kamar Sivia ke bawah bantalnya, juga foto anak laki-laki di tangannya. Sedangkan CD-nya Alvin lempar ke meja belajarnya. Dengan sigap, Alvin telah bersiap membuka pintu. Dilihatnya Sivia berdiri di depan pintu membawa bola basket.
“Ada apa Vi?” tanya Alvin biasa.
“Ehh, ehheehe… Engga… Mau tanya aja, topinya udah ketemu, kak?” Sivia cengengesan.
‘Ini anak punya masa lalu kayak gitu kok keliatannya biasa aja ya?’ batin Alvin, di aterus menatap Sivia yang mukanya memang biasa saja.
“Kak?” Sivia melambaikan tangannya ke muka Alvin.
“Heeh? Udah udah...” jawab Alvin terkejut.
Sivia menyatukan alisnya heran. “Oh, oke.”
Sivia lalu berbalik menuju kamarnya. Begitu pula Alvin, dia kembali ke kamarnya dan membenahi barang-barang Sivia setelah menutup pintu kamarnya. “CD ini kira-kira isinya apa, ya?” bisik Alvin membolak-balik CD-case di tangannya. “Gue setel aja deh.” Alvin lalu beranjak dan mengambil notebook miliknya. Dia menaruhnya di meja belajar, lalu menarik kursi dan menyalakan notebook itu.
Alvin memasukkan CD di dalam case yang dipegangnya sedari tadi, lalu buru-buru memutarnya. Beberapa saat setelah dia menunggu gambar apa yang akan muncul, akhirnya gambar yang ditunggunya muncul juga.
Jrengg… Suara gitar terdengar saat gambar itu muncul, seorang anak laki-laki memegang gitar nampak tersenyum.
“Tunggu!” ucap Alvin, lalu mem-pause video yang sedang disaksikannya. Dia berlari ke tempat tidurnya, diangkatnya bantal di sana lalu dia mengambil selembar foto yang kusut. Dia kembali duduk tenang, mendekatkan foto kusut itu ke arah screen. “Ini Aga!” bisiknya, lalu menekan tombol play.
“Hai Sivia cantik…” kata anak dalam video itu. “Di sini, Aga mau kasih kamu tentang isi hati Aga.”
Alvin makin serius. Matanya tak berkedip, memandang wajah anak itu lekat-lekat.
“Aga bakal nyanyiin satu lagu buat kamu. Kemarin, Aga baru sadar kalau Sivia ngga suka lagu cinta yang melankolis yang Aga nyanyiin di taman. Dan dari temen-temen Sivia, Aga tau Sivia suka banget lagu ini. Dengerin yaa…” anak dalam video itu lalu memainkan gitarnya untuk intro lagu. Lalu…
“Hmm… aku, ku terlalu mencintaimu
terlebih ku menggilaimu
salahkah ku”
Gitarnya dia mainkan lagi.
“Hingga ku tak tahu arah hidupku
ku telah buta karenamu
tolong aku
ku lelaki yang tak bisa menangis
apa yang harus ku lakukan”
Lalu gitarnya berhenti sesaat, sebelum dia melanjutkannya. Nampak penghayatan luar biasa dari raut mukanya.
“Aku, ku begitu menginginkanmu
takkan mampu hidup tanpamu
mengertilah
hingga kuingin kau genggam hatiku
dan dekatkan pada hatimu
tolong aku
ku lelaki yang tak bisa menangis
apa yang harus ku lakukan
bila kau menjadi milikku
dan kurelakan semua sisa hidupku
kan ku jadikan kau ratuku
di tempat yang paling indah
di tempat yang paling indah
di hidupku
di hidupku
bila kau menjadi milikku
kan kurelakan semua sisa hidupku
kan ku jadikan kau ratuku
di tempat yang paling indah
di hidupku…”
Aga memainkan gitarnya, dia sangat terampil, melodi pendek sempat dia mainkan sebelum dia sampai pada reff kedua lagu itu.
“Bila kau menjadi milikku
kan kurelakan semua sisa hidupku
kan ku jadikan kau ratuku
di tempat yang paling indah
di tempat yang paling indah
di tempat yang paling indah
di hidupku…”
Dia selesai menyanyikannya. Alvin tak tahu lagu apa itu, dia sempat berpikir lagu itu adalah ciptaan Aga untuk Sivia. Dan beberapa saat setelah lagu itu selesai, Aga – anak dalam video itu – tersenyum sambil mengatakan sebuah kalimat.
“Aga loves Sivia. Lagu Tempat yang Paling Indah ini, hanya untuk Sivia seorang.” katanya pelan dan tersenyum sangat manis.
Alvin tak habis pikir dengan anak bernama Aga di depannya. ‘Ini anak, anak siapa si? Anak tarzan? Dia udah dipukul sampai mimisan masih aja mati-matian ngejar Sivia?’ batin Alvin sambil geleng-geleng kagum. “Tapi tetep aja dia yang udah bikin Sivia nangis…” ucap Alvin.
"Ahh, ini anak mirip siapa sih, ya? Kayaknya familiar banget!" Alvin menggaruk-garuk kepalanya.
Video itu belum sepenuhnya berakhir. Masih ada beberapa foto-foto Sivia yang ditampilkan, dan sangat lama saking banyaknya foto-foto itu.
‘Ini anak memang udah pol-polan sama Sivia, sampe foto-foto Sivia dia punya banyak.’ ucap Alvin. Dia lalu meninggalkan video yang masih terus berjalan itu untuk mengambil air minum di dapur. Ada bagian yang tak Alvin lihat, yaitu bagian terakhir video itu, yang juga pasti tidak Sivia lihat saat dia menyaksikan video Aga itu. Jarang ada orang yang melihat video sampai benar-benar pol di bagian akhir. Yang mereka lewatkan yaitu satu potong kalimat: VIDEO, PHOTO COLLECTION, AND EDITING by Gie’s for my buddy who fall in love with a princess. Alvin sungguh tak melihatnya. [ada yang tau apa itu Gie’s?? hahahah...]
***
Hari sudah petang, seorang pemuda, mengenakan pakaian casual menggendong ranselnya yang lumayan besar dan menarik kopernya menuju sebuah rumah. Dia berjalan memasuki halaman sebuah rumah asri penuh tanaman. Dia mengetuk pintu pelan. beberapa saat kemudian pintu terbuka.
“Eh, kakak… Masuk sini, kak, masuk.” suara heboh seorang anak membuat pemuda itu tersenyum geli, lalu mengacak-acak rambut anak di depannya. Dia lalu masuk, anak itu menutup pintu.
“Eh, kamu udah dateng? Tante tungguin dari tadi…” kata seorang ibu yang kini menutup majalah yang tadi dibacanya, lalu menyalami pemuda yang barusan datang. “Tante kan nyuruh kamu langsung ke sini dari kemarin, kok baru dateng sih?” ucapnya lagi.
“Hehe, iya tante. Agak males juga sih ke sini pas pada liburan. Ya udah hari ini aja…” ucap pemuda itu.
“Ooh, ya udah deh!” kata wanita itu. “Kamu taroh dulu gih baju-baju kamu, terus istirahat, kan capek banget pasti kamunya jauh banget dari Batam. Oh, iya Zy, anterin ke kamarnya ya?”
“Sip, Mother!” kata anak yang langsung berlari ke lantai atas. “Ayo, kak!”
Pemuda itu berjalan pelan mengikuti anak laki-laki yang memanggilnya kakak, meski dia bukan kakaknya. Dia mengangkat kopernya hati-hati. Beberapa saat kemudian, dia sampai di kamarnya.
“Eh, kak! Kakak tau ngga, ngga ada yang nempatin kamar ini sejak kakak ngikut papa ke Batam.” ucap anak itu. “Oh iya, kak, papa Ozy kok ngga ikut pulang?” tanyanya. Itu Ozy.
“Hah? Ngga tau deh. Om Adrian katanya pulang bulan depan.” Ozy mengangguk mendengar ucapan pemuda di depannya.
Ehm, sebenarnya dia adalah sepupu jauh Ozy yang sudah sejak lama dirawat oleh papa dan mama Ozy, sejak Ozy masuk SD dan sangat girang saat tahu dia punya kakak baru – walaupun hanya kakak sepupu. Dia yatim piatu, dan Pak Adrian, papa Ozy memutuskan untuk mengangkatnya menjadi anak, namun pemuda itu tak pernah memanggil Pak Adrian dengan sebutan papa sampai sekarang, Om Adrian begitu panggilannya.
“Kak Gabriel.” seru Ozy. Namanya Gabriel, dia baru saja datang dari Batam karena selepas SD dia memutuskan ikut papa Ozy pindah ke Batam yang mengurus perusahaannya di sana. Namun belum lulus SMA, Gabriel memutuskan pindah lagi ke Jakarta, tak betah, itu alasan yang diungkapkannya. Sebenarnya ada alasan lain di dalam hati Gabriel.
“Apaan Zy?” Gabriel tiduran di atas kasur yang Ozy duduki.
“Kakak kangen kak Sivia?” tanya Ozy pelan.
Gabriel bangkit dari tidurnya karena kaget. “Apa?” dia ingin Ozy mengulang kata-katanya. “Lo bilang apa?”
Ozy senyam-senyum sendiri. Gabriel menatapnya heran, nama itu, bagi Gabriel adalah nama yang paling membuatnya tak keruan rasa. Gabriel masih terpaku menatap Ozy yang terus mesem dan menatapnya tanpa berkedip.
wOoops! Gabriel ada hubungan apa ya sama Sivia?
Dan, apa yang akan Alvin lakukan setelah tahu tentang Aga?
Lalu, siapa Gie ? Apa hubungannya dengan Sivia juga Aga ? Teman ? Musuh ? [halah ngaco !!]
Tempat Yang Paling Indah part 3
“Thank you ma bro, Cakka!” kata Rio senang dan langsung menyeret piring dengan mie goreng pesanannya. Cakka hanya tersenyum simpul.
“Mana Alvin?”
“Kamar mandi.” jawab Rio mengambil garpu di depannya dan mengaduk-aduk mie-nya.
Cakka menghela napas. Rio menikmati mie ayamnya tanpa melirik hal lain. Cakka masih terlihat kesal dengan Sivia, tapi ada sedikit rasa puas karena tadi dia menang adu mulut. Cakka mendengus dan tersenyum, kepalanya geleng-geleng. Lalu disedotnya teh dalam
botol.
“Cak!” seseorang memegang bahu Cakka. Itu Alvin, Cakka menoleh dan bergeser, ternyata tempat yang didudukinya tadi adalah tempat Alvin.
Alvin melihat sepiring siomay dengan saus kacang di atasnya. “Hmmm… Makanan gratis!” kata Alvin sambil mengambil garpu dan menusuk satu butir siomay (satu butir, satu biji, atau satu buah si? auk ah!)
“Gue dapetin itu siomay penuh perjuangan, Vin.” Cakka berkata sambil senyum-senyum.
“Oh, gitu? Thanks bro!” ucap Alvin sambil melahap makanan itu. “Gue ngga bisa bales dengan apapun.” lanjutnya.
“Gue cuma bisa makasih, Cak.” kata Alvin mulai lebay.
“Kok lo jadi melankolis, Vin?” Cakka mengerutkan dahinya. “Gue harus negangin otot buat dapet siomay lima biji itu, Vin. Kebayang ngga?”
Alvin berhenti mengunyah, mulutnya sesak dengan sebutir siomay yang dilahapnya langsung tadi. “Hoh? Ngopoin lo nogongon otot? Obo-obo konton odoh jodo bodok yo, jodo lo jorot jorot dolo?” katanya dengan ekspresi kaget.
“Bodok? Obo obo?! Jorot jorot??” kata Cakka. “Apaan lo Vin? Ngomong pake bahasa mana sih?”
Alvin meminum teh botol Rio untuk membantunya menelan makanan. “Emang ibu-ibu kantin udah mulai budek sampe lo harus negangin otot buat teriak dan jerit-jerit?” kata Alvin setengah berteriak lalu menghabiskan teh botol Rio.
Rio menabok tangan Alvin dengan keras. “Vin, lo jahat banget ya? Masa minuman gue diabisin?”
“Impas, ya, Yo?” kata Alvin sambil meringis.
“Gue bukan neriakin ibu-ibu kantin. Gue neriakin tu cewek!” Cakka menunjuk Sivia yang duduk membelakanginya, jaraknya dua meja dari tempatnya duduk.
Alvin menatap cewek itu. Dia lalu menghela napas. “Cak, lo jangan ngusilin adek kelas deh. Kasian tau!” Alvin sok bijak.
“Iya, Pak Ketua OSIS!!!” kata Cakka sok manis. “Lagian gue ngga ngusilin, dia aja yang suka cari masalah terus sama gue.” Cakka mengeluarkan HP-nya, dan dia terkejut begitu menyadari ada pesan masuk di HP-nya. “Masya Allah!” teriaknya Cakka.
“Apaan Cak? Tumben lo nyebut?” Rio kaget mendengar Cakka.
Rio merebut HP Cakka. Tiba-tiba dia tertawa kecil. Ternyata jumlah pesan yang baru masuk ke HP Cakka yang membuat Cakka nyebut. 18 pesan baru yang belum Cakka buka – karena dia sendiri juga baru tahu tadi – kini sedang Rio baca satu-satu.
“Hai kak Cakka, kakak tambah cakep deh!” seru Rio. Alvin ikut nimbrung.
“Pagi kak Cakka… Pipi kakak kok lucu ya? Aku cubit boleh deh! I LOVE YOU!” Rio tertawa terbahak-bahak. “Kak… Gue cubit yaaaa???” ledek Rio dengan muka sok imut dan maksa banget. Lalu dia mengedipkan satu matanya.
“Rese lo Yo! Cakka paling males kalau fans gila nya mengirim SMS menjijikan seperti itu dan ketahuan Rio. Pasti Cakka habis digoda Rio.
“Kak Cakka aku sayang kakak. <3. Love, Zahra.” lanjut Rio, membaca SMS berikutnya.
“Zahra?” kata Alvin dan Rio bersamaan. Lalu mereka tertawa bersama.
“Zahra anak XI IPA I?” kata Alvin.
“Temennya nenek lampir yang naksir Alvin itu? Yang pake behel itu? Yang ikut ekskul basket tapi kerjaannya cuma duduk di pinggir lapangan itu?” tanya Rio bertubi-tubi. Dia memanggil Shilla, adiknya sendiri dengan sebutan nenek lampir.
Cakka hanya diam, meratapi nasibnya yang digempur habis kedua temannya. “Auk ah, gila!!!!!” kata Cakka cuek. Alvin geleng-geleng. Rio terus membaca SMS lain.
“Siapa sih yang nyebar-nyebar nomor HP gue? Sial!” Cakka menggerutu, lalu menarik piring berisi siomay milik Alvin. “Bagi dong, Vin!” katanya sambil menusuk satu butir siomay dan memakannya langsung. Pipinya yang gembil pun membesar karena mengunyah siomay
itu.
“Kenapa ngga beli aja, Cak?” tanya Alvin.
“Kalo masih ada, gue juga ngga bakal tegang sama cewek itu tadi buat ngerebut siomay ini! Ini siomay terakhir tau!” kata Cakka sambil menelan siomay-nya.
Alvin manggut-manggut. “Berarti gue beruntung dong, Cak, dapet ini siomay?!” Alvin nyengir.
“Bukan! Lo beruntung karena punya temen kaya gue.” ucap Cakka tanpa ekspresi.
drrrtt… drrrtt… drrrtt… [ceritanya hape cakka getar]
“Cak, Cak, telpon, Cak!!” seru Rio kaget. “Gue angkat yoh?” katanya langsung mengangkat telepon dari nomor tanpa nama itu.
“Halo, kak Cakka, lagi apa nih?” kata suara di seberang. Rio iseng mengaktifkan loudspeaker hp Cakka. Rio meletakkan hp itu di atas meja dan membesarkan volume suaranya.
“Kakak lagi di kantin ya bareng kak Rio sama kak Alvin? Kakak lucu deh waktu makan siomay. Aku liatin kakak tau. Pipinya makin cubby gimanaaaa getoh!Aku jadi gemeess sama kakak!” suara dari seberang langsung nyerocos ngga jelas, dan terdengar sangat keras oleh
mereka bertiga, lalu suara itu tertawa dengan centilnya.
Cakka melongo, wajahnya konyol. Rio tertawa puas. Alvin hanya tersenyum [jaga image, kan dia terkenal dingin dan cuek]. Cakka lalu tampak kesal. Cakka merebut hp-nya dan menonaktifkannya cepat. Dia membuka casing hp-nya dan mengeluarkan SIM-card di dalamnya.
“Mau ngapain lo, Cak?” Rio heran dengan apa yang Cakka lakukan.
“Gue mau bebas dari anak-anak berisik itu, Yo!” kata Cakka tanpa melihat Rio, dan langsung mematahkan SIM-card di tangannya. Patah…tah…tahhhh. “Good bye, pengganggu!” kata Cakka melempar patahan SIM-card nya ke belakang.
“Gila lo Cak! Ngapain lo patahin? Kan sayaaang.” kata Rio aneh.
“Ngapa lo yang protes, Yo, harusnya kan cewek-cewek itu yang protes?” tanya Cakka heran.
“Lo demen sama Cakka ya? Tuh kan lo mulai ngga normal!” Alvin curiga.
Rio melotot kaget [kaget dan melotot] ke kedua temannya. “Woy, gue normal, Vin, Cak!”
“Sumpeh lo Yo?” Alvin ragu, dia menatap Rio aneh.
Rio mengangkat jari jari tangannya yang kini membentuk huruf V [RUMUS ---> telunjuk + jari tengah = sueerrr] “SUERR VIN! Gue normal deh.” [bener kan?]
“Tapi tadi…” Alvin tak melanjutkan kalimatnya, keburu dipotong Rio.
“Kan cuma sayang ajaa…” Rio berhenti berkata-kata saat Alvin memotongnya.
“Sayang sama Cakka???”
“Kaga!” bentak Rio. “Sayang aja kalo nomornya dipatahin gitu!”
“Tenang, Yo! Nomor maah gampang, ceban aja dapet dua di deket rumah gue!” kata Cakka enteng.
“Tapi kan sayang kalo nomor-nomor penting pada ilang.” Rio menjelaskan maksud kata SAYANG-nya.
“Ohh, tenaang… Gue simpen nomor penting di hape bukan di SIM card.” Cakka memasukkan hapenya ke saku. “Vin, kok lo ngga sampe ditelpon kayak gue? Padahal kan banyakan fans lo ketimbang gue?”
“Yee, mana ada yang berani nelpon gue. Yang ada kalo mereka telpon gue, belum apa apa pasti mereka udah gugup terus pingsan deh!” kata Alvin ke-PD-an
“Pede amat lu? Setahu gue, ngga ada yang berani sama orang sedingin, sejutek, dan secuek dia.” ucap Rio sambil cengengesan.
“Kurang asem lo Yo!” kata Alvin. “Gue kan kaga ngasih nomor gue ke sembarang orang, Cak. Emangnya elo, sengaja nulis nomor di pager lapangan biar seisi dunia tau!”
“Yeee, gue ngga nulis di pager lapangan, Vin.” protes Cakka. “Si Dayat tuh yang suka jual nomor gue ke cewek-cewek. Untung di dia, rugi di gue!”
“Halaaah… Lo harusnya seneng banyak yang ngejer. Nah gue?” Rio manyun.
“Helooo Mario? Lo udah punya Dea, bro!” protes Cakka. Rio manggut manggut.
Alvin melirik jam tangan di tangan kirinya -----> 09.25. “Eh, balik ke kelas yuk.”
“Ayook!” seru Rio dan Cakka berbarengan. Mereka lalu berjalan menuju kelas. Cakka tak menghiraukan seruan-seruan namanya yang keluar dari mulut cewek-cewek yang melihatnya.
“Kak Cakkaa…”
“Hai, Kak!”
“Kakaaaaak…”
Alvin stay cool, berjalan tanpa beban. halangan, rintangan, membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran [senandung monyet]. Sedangkan Rio juga berjalan biasa di sebelah Alvin. Sementara Cakka merasa risih, dan akhirnya berjalan lebih cepat, menjauh dari
koridor yang berjajar anak-anak kelas X dan XI.
@ XI IPA I
“Vi, jangan dipikirin dong soal yang tadi!” Tian masih khawatir dengan Sivia yang masih diam.
“Nggak kok tenang aja! Gue ngga mikirin yang tadi.” jawab Sivia, enteng dan pelan.
“Gue jadi ngga enak deh, lo kan anak baru, masa udah dibentak bentak gitu. Sama kakak kelas lagi!” lanjut Tian.
“Kenapa lo harus ngerasa ngga enak? Gue ngga apa apa lagi!” Sivia tersenyum, tak terlalu lebar. “Tadi, lo bilang dia kakak kelas? Beneran dia kakak kelas?” tanya Sivia.
“Iya, kenapa?”
“Ehm, ngga kok, ngga papa.” kata Sivia sambil melanjutkan menulis jadwal pelajaran yang sedang disalinnya dari buku Tian. Tian mengalah, dia lalu pergi ke meja Agni yang tampaknya seru membicarakan sesuatu.
“Shill, lo jangan diem aja gitu dong!” protes Angel melihat Shilla yang hanya diam menatap Sivia, cewek yang tadi pagi dibonceng oleh Alvin cowok pujaannya, seperti cerita kedua sahabatnya. “Lo peringatin, kek. Atau lo labrak kek!” Angel emosi.
“Ngel, gue belum liat dengan mata kepala gue sendiri kak Alvin bareng dia. Jadi, biar gue selidikin dulu deh! Dan kalau ternyata dia sodaranya, kan malu gue!” Shilla tak henti hentinya menatap Sivia ‘Cantik juga, ya?’ batin Shilla.
“Ih, mana ada sodara yang pegangan tangan gitu?” Angel kembali mengoceh.
“Udah deh, Ngel, hargain keputusan Shilla dong.” Zahra menengahi sebelum terjadi perdebatan.
“Okeh, Ra. Tapi gue ngga yakin mereka pacaran!” bisik Angel lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Pasti dia tuh yang ngedeketin kak Alvin. Iiiiyhh…” Angel bergidik dan duduk disebelah Shilla.
Shilla tetap menatap Sivia yang masih menyalin tulisan Tian dengan tatapan iri, kagum, dan cemburu.
@ XII IPA II (kelas Alvin, Cakka, Rio)
“Gue benci elo!” Cakka masih membayangkan suara itu, suara itu terus menghantuinya. ‘Siapa sih dia?’ batin Cakka. Dia memikirkan hal itu lagi saat tiba di kelasnya. Dia duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpuk di
atas meja.
“Cak!” panggil Alvin. Cakka tak bergerak, apalagi menoleh.
“Cakka!” bentak Alvin lumayan keras. Cakka akhirnya menoleh, namun mukanya masih tanpa ekspresi.
“Apa Vin?” katanya datar.
Alvin mendekati meja Cakka, lalu memberi komando pada Dayat yang ada di samping Cakka untuk menyingkir. Dayat yang sedang membaca buku sejarah setebal lima ratus halaman pun bangkit dan merelakan tempat duduknya direbut Alvin.
“Gini, kata Bu Winda waktu gue ngasihin proposal tadi pagi, nanti siang ada rapat OSIS di ruang OSIS. Kita bakal bahas proposal penyelenggaraan pensi itu bareng Bu Ira rencananya. Anggota inti yang kelas duabelas diwajibin hadir.” ucap Alvin panjang lebar
tinggi sama dengan volume balok *ngelantur*. Alvin bicara panjang lebar tentu
untuk mengajak Cakka berbicara dan menghindari melamun. (Tumben setumben tumbennya
Alvin ngomong banyak dan ngga to the point, banyak sebanyak banyaknya Alvin
ngomong dalam emosi stabil sestabil stabilnya itu lima kata sekali ngomong. Dan
kalimat tadi, kayaknya bisa deh diringkas jadi lima kata: Ntar siang ada rapat OSIS) *haha penulisnya bawel yaa?*
“Oh.” respon Cakka singkat, singkat banget, dua huruf O-H. Tumben… Sedikit sesedikit sedikitnya Cakka ngomong, adalah dua huruf O dan H, ngga sepadan dnegan kalimat Alvin yang panjang banget.
“Elaah, Cak! Gue udah bela belain ngomong banyak kok lo jawabnya gitu.” kata Alvin emosi. “Lo ngomong apa kek!”
“Ngomong apa dong gue harusnya?” Cakka menatap Alvin.
“Auk akh! Lo ngelamun ajeh, gue dicuekin.” Alvin ngembek. “Ngelamunin apa sih lo sebenernya? Gue liatin lo kayaknya terus terusan ngelamun sejak dua bulan lalu.” Alvin menatap Cakka lekat-lekat.
Cakka menggeleng pelan dan menghindari tatapan Alvin dengan menunduk.
“Kenapa lo, hah?” Alvin menurunkan wajahnya berusaha melihat wajah Cakka. “Lo ngga kaya gini sebelumnya, Cak. Cerita dong ke gue.”
“Gue ngga apa apa, Vin.” kata Cakka. Dia menyembunyikan sesuatu.
“Kalo ada masalah, lo bisa cerita ke gue atau ke Rio, Cak. Kita berdua masih temen lo yang nampung curhatan lo!” kata Alvin, kadang kadang – walaupun jutek setengah idup – Alvin memang sangat perhatian terlebih pada sahabatnya. “Kita kan temenan udah lama…”
Cakka terus menggeleng. “Gue belum siap, Vin. Belum.”
Alvin menepuk bahu Cakka dan mengusapnya. “Oke, gue sama Rio siap kapanpun lo butuh, kok.” kata Alvin sambil pergi menuju belakang kelas.
Guru-guru memang meninggalkan kelas begitu saja karena mendadak ada rapat wali kelas untuk penyampaian rencana kegiatan pembelajaran dan juga perayaan hari jadi SMA VICAS sebentar lagi. Jadi, semua kelas masih nganggur.
Rio, kini dia tidur-tiduran [bukan tidur boongan, maksudnya berbaring gitu deh] di belakang kelas. Dia mengenakan headphone-nya dan manggut-manggut menikmati lagu yang tengah dia dengarkan. Dia juga mengubah fungsi tas yang seharusnya untuk membawa barang-barang menjadi sebuah
bantal. Kaki kanannya yang ditopangkan ke atas lutut kirinya bergerak-gerak
seirama dengan tempo lagu.
“Yo!” panggil Alvin. Rio malah memejamkan matanya menghayati lagu yang mulai dinyanyikannya.
“Yo!” seru Alvin. Rio belum menengok juga.
“Rio!” teriak Alvin lebih keras. Dia geram. Akhirnya dicopotnya headphone di kepala Rio sambil berseru “MARIO STEVANO ADITYA HALIIIINGGGGGG!!!”
Rio sontak terlonjak, dia membuka mata dan melompat kaget mendengar teriakan Alvin. “HAPAAA… ALVIN JONATHAN SINDUNAATAAAAA?????!!!” balasnya berteriak. Anehnya tak ada yang mendengar teriakan mereka.
“Berisik lo akh. Gue mau ngomong.” kata Alvin ketus.
“Hoaahmm… Apaan Vin ngomong aja.” Rio menguap.
“Cakka, Yo! Cakka kayanya ada masalah deh!” Alvin duduk di sebelah Rio.
“Masalah apaan?” tanya Rio tak bersemangat.
“Itu dia. Cakka ngga mau cerita.” kata Alvin.
“Lahh, terus ngapa lo ke sini pake teriak teriak?”
“Kita harus bantuin dia, Yo. Gue ngga tega ngeliat dia yang lama-lama jadi diem, lemes, dan tertutup gitu.” Alvin mulai terlihat serius. Rio juga memasang wajah serius.
“Iya, gue juga mikir gitu.” kara Rio.
“Nanti malem lo ke rumah gue, ya? Kita omongin di sana! Kebetulan bokap sama nyokap lagi ke Bandung, gue sendirian.” ucap Alvin.
“Oke, gue juga males di rumah. Kuping gue soak lama-lama kalo dengerin rengekan dia yang terus-terusan minta dideketin sama lo.” kata Rio.
Alvin nyengir. “Jahat lo sama adek sendiri! Masa dikatain nenek lampir.”
“Haayaahhh habisnya dia suaranya cempreng, suka teriak, suka ketawa ngikik, suka kayak nenek lampir gitu deh! Lo belum ngerasain aja.” Rio geleng geleng kepala.
“Widiih ngapain juga.” kata Alvin lalu bangkit dari duduknya mau pergi.
“Asik deh jadi lo yang ngga punya adek!” keluh Rio sambil kembali berbaring.
Alvin hanya mesem, lalu pergi. Saking cuek, dingin, dan diamnya teman-teman Alvin tak pernah tahu tentang adiknya, Sivia karena memang tak ada yang menanyakan hal itu. Alvin juga malas untuk bercerita tentang keluarganya pada teman-temannya. Dia menganggap itu tak
penting untuk dibicarakan.
*****
TTEEEEEEETTT [bel pulang, aseekk!!!]
“Yo, lo sama Cakka ke ruang OSIS dulu, gue mau umumin dulu ke anak-anak lain.” kata Rio.
“Sip!” jawab Rio singkat lalu pergi ke ruang OSIS bersama Cakka.
*****
Sivia berjalan gontai menuju ruang kelas Alvin, Alvin pernah mengatakan bahwa kelasnya adalah kelas XII IPA 2. Sivia mencarinya susah payah dan akhirnya menemukan kelas itu. Dilongoknya kelas itu dan tak dilihatnya seorangpun kecuali satu siswi perempuan [yaealah
masa siswi laki-laki (?)] sedang membereskan beberapa kertas yang dimasukkannya
ke dalam map.
“Ehh, kak!” panggil Sivia pelan. Perempuan itu menengok, dan menatap Sivia tajam. “Liat kak Alvin ngga?”
“Ngga!” jawabnya ketus. Dia lalu pergi tanpa mempedulikan Sivia.
“Ih, jutek banget deh!” bisik Sivia lalu bersiap pergi dari kelas itu, tapi pandangannya tertuju pada sebuah buku catatan kecil berwarna merah. ‘apan tuh? gue ambil ahh!’ batinnya.
Dibacanya nama yang tertulis di buku itu. Dia tersenyum. Sivia lalu membawa buku itu pergi.
“Via!” teriak seseorang di belakang Sivia.
“Kak Alvin?” Sivia diam di tempatnya, dan Alvin berlari ke arahnya. “Tadi Via cari di kelas kok ngga ada?”
“Kakak udah keluar. Oh iya! Kakak ada rapat OSIS, kamu pulang sendiri mu ngga?” Alvin menarik napas, lalu membuangnya. “Kalo ngga mau, kamu tungguin kakak. Ngga lama kok, palingan cuma satu jam.”
Sivia mengangguk. “Via tunggu di depan.” katanya. “Oh iya, kak! Ni buku kakak ketinggalan di kelas tadi.” Sivia menyerahkan buku catatan berwarna merah yang ternyata milik Alvin. Dia lalu pergi meninggalkan Alvin yang belum sempat berterima kasih.
‘Nah ini gue cariin, taunya ketinggalan.’ batin Alvin. Alvin dengan langkah tergesa-gesa pergi ke ruang OSIS, rapat pasti akan segera dimulai.
---> r.a.p.a.t. d.i.m.u.l.a.i. <---
“Oke, Alvin, silakan bagi tugas yang sudah kamu susun.” pinta Bu Winda [ceritanya udah mulai masuk ke tengah rapat deh!]
“Ya, makasih, bu!” kata Alvin sambil membuka buku catatan berwarna merahnya.
“Baik, seperti yang Bu Winda sampaikan, karena Ujian Nasional dilaksanakan lebih awal dari biasanya, jadi acara pentas seni tahunan yang kita minta sebelumnya terpaksa ditiadakan, seperti hasil rapat guru dan kepala sekolah tadi barusan. Sebagai gantinya,
akan diadakan acara bakti sosial di Panti Asuhan milik Yayasan VICAS, dan pelaksanaannya
sudah disampaikan oleh Bu Winda tadi…”
“Cepetan dong, Vin. Lo lama amat ngomongnya?” keluh Rio.
“Berisik lo!” bisik Alvin. “Saya sudah menyusun nama-nama dengan tugas masing masing untuk menjadi panitia acara bakti sosial tersebut. Nama-nama yang menjadi panitia adalah sebagai berikut: Alvin Jonathan Sindunata – Ketua Panitia. Cakka Kawekas Nuraga – Bendahara,
[bla bla bla]… Terima kasih.”
“Baik, kalian semua tau tugasnya masing-masing kan. Ibu berharap kalian menjalankan tugas dengan sepenuh hati dan dengan rasa tanggung jawab yang besar.” ucap Bu Winda. “Rapat cukup sampai di sini. Kalin boleh pulang.” Bu Winda keluar dari ruang OSIS.
Alvin buru-buru meninggalkan ruang OIS karena Sivia pasti sudah menunggunya. Tak diduga rapat tak berjalan satu jam seperti perkiraan Alvin, karena pembatalan acara pensi sekolah membuat anggota inti OSIS menyusun kegiatan lain.
“Guys, gue duluan ya?” ucap Alvin sambil menepuk bahu Cakka dan Rio yang sedang berjalan menuju parkiran bergantian. Alvin langsung berlari.
“Ke mana lo, Vin?” teriak Rio.
“Buru-buru!” jawab Alvin teriak juga.
“Ngapain sih ni anak?” Rio berbisik. “Oggh!” Rio memekik kaget.
Cakka melirik Rio yang aneh banget mukanya. “Kenapa lo Yo?”
“Jangan jangaaannn…” Rio memanjangkan kata terakhirnya, membuat Cakka penasaran. “Jangan jangan Alvin punya gebetan baru!” tebak Rio asal.
“Halah ngaco!” Cakka membantah. “Kesimpulan apaan noh?”
“Ngaco gimana, Cak? Siapa tau aja dia memang punya gebetan baru, dan ngga cerita sama kita-kita!” Rio masih keukeuh dengan tebakannya. “Iyo toh iyo toh?” Rio menaik turunkan alisnya.
“Iyo toh iyo toh… Engga juga toh!” ucap Cakka meniru dialek Rio, lalu berjalan terus menuju motornya. Rio hanya diam, dia tak mau berdebat lagi.
Di tempat lain, Sivia duduk di bangku kecil di sebelah pos satpam SMA VICAS, menopang dagunya dengan kedua tangannya. Matanya sesekali terpejam tak mampu menahan kantuk yang menggodanya [jiaahaha menggoda]
‘Kak Alvin mana sih, katanya cuma satu jam?’ batinnya.
Dari kejauhan, motor Alvin nampak mendekati Sivia, namun Sivia kini menutup mukanya dengan kedua tangannya dengan lutut menopang keduanya. dia mengantuk. Alvin menghentikan motornya di depan Sivia.
“Vi! Pulang yok!” ajak Alvin datar.
Sivia menatap kakaknya dengan muka kusut. “Lama amat lo, hah? Lumutan gue nunggu lo!”
“Yaah, maaf Vi. Gue ngga tau kalo bakalan ada tambahan tadi. Maaf deh, yaa?” Alvin memberikan senyuman paling manisnya untuk mendapatkan maaf Sivia.
“Rese! Cepet jalan!” kata Sivia langsung naik motor Alvin.
“Oke, cantik!” kata Alvin. Alvin memang suka menggoda Sivia sekedar untuk membuat adiknya tersenyum, tidak bersedih, karena dia sudah berjanji akan menjaga senyum Sivia.
@ Perumahan Bumi Intan
“Vi, lo minta kunci ke rumah sebelah gih!” pinta Alvin begitu sampai di depan rumah.
“Hidih, males. Lo aja sana!” jawab Sivia jutek, dia langsung membuka gerbang rumahnya dan duduk di kursi di beranda.
“Hmmm…” Alvin turun dari motor dan menuju rumah di samping kiri rumahnya. Gerbangnya tidak ditutup, jadi Alvin tinggal masuk. “Tante, mau ambil kunci rumah.” ucap Alvin begitu menemukan wanita yang sedang menyiram tanaman.
“Oh, kamu, Vin? Baru pulang?” tanya wanita itu. Alvin hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. “Ozy, ambilin kunci di atas lemari kaca, Nak!” teriaknya. Itu mama Ozy.
“Yoi, Mother!” terdengar suara teriakan dari dalam. Tante Nana meringis, Alvin tersenyum.
‘Mother? Gaul amat nih Ozy!’ pikirnya.
“Nih!” Ozy menyodorkan sebuah kunci. “Eh, halo kak!” sapa Ozy cuek seakan baru melihat Alvin berdiri di depan rumahnya.
“Hai Zy, tambah cakep aja!” goda Alvin.
“Emang.” ucap Ozy, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Makasih tante!” kata Alvin seraya meninggalkan rumah tetangganya itu dan menuju rumahnya sambil menuntun motor. “Via, nih kuncinya. Buka pintunya!” suruh Alvin. Sivia merebut kunci di tangan Alvin dan segera masuk.
***
“Hoaaahhmm” Sivia menguap lebar, tetapi dia tak mau tidur siang. “Main basket asik, neh! Ajak Riko ahh!” ucapnya lirih lalu mengambil HP-nya untuk SMS Riko.
To: Rikokok [hihi, namanya lucu!]
“Riko, main basket yuk!”
Beberapa saat kemudian…
From: Rikokok
“Ayoooookkkkkk! Sekarang?”
To: Rikokok
“Kaga! Nunggu cucu gue lahir deh! Sekaraaaaang!!!!!! (BeTe mode: on)”
From: Rikokok
“Berangkaat!”
Sivia lalu berganti pakaian dengan cepat dan mengambil bola basket di atas lemarinya. Dia lalu mengantongi HP-nya dan berlari turun ke lantai bawah.
“Ka Alvin gue ke lapangan.”
“Hah?” Alvin tak mendnegar kata-kata Sivia.
“Lapangaaaan!” teriak Sivia. Tak ada jawaban, pasti Alvin sudah mendengarnya. Jadi Sivia langsung pergi berlari ke lapangan basket kompleks.
@ Lapangan Perumahan Bumi Intan
Sivia tak mau menunggu Riko, sahabatnya waktu di SMA Voundras. Sivia memutuskan untuk memulai bermain. Sivia tersenyum. Dia lalu men-drible bola basketnya, melakukan lay-up dan… MASUK!
Plok-plok-plok terdengar tepuk tangan dari pinggir lapangan.
“Lo masih keren aja, Vi!” seru seorang lelaki di pinggir lapangan. Dia memakai kaos putih dan celana jeans pendek. Di tangannya masih ada kunci motor, itu Riko.
“Hey, my bro! Masih hidup lo?” Sivia melemparkan bola basketnya ke arah Riko dan dia menangkapnya. “Masih suka nongkrong di lampu merah lo?”
“Hahah, bisa aja lo! Kaga, gue udah pindah k etas jembatan.” Riko lalu men-drible bola basket di tangannya dan melakukan jump-shoot tiba-tiba. MASUK!
“Gimana di VICAS?” mereka mulai mengobrol sambil berlari dan men-drible.
“Elaah, gue baru sehari udah ditanyain gimana gimana.” Sivia tersenyum.
“Ya, siapa tau di hari pertama lo udah bikin kacau, atau udah bikin temen sebangku lo nangis gara-gara lo jailin? HAhah!” Riko kembali melakukan shoot, MASUK (lagi).
“Yah, gue udah janji sama bokap buat berubah, bro!”
“Halaah, lo juga bilangnya gitu dulu pas baru masuk Voundras!” Riko terkekeh.
Sivia manyun. “Sekarang gue beneran. Gue juga ngga mau kecewain kak Alvin sama Mama.” Riko berdehem. “Eh, lo jago main basket ya sekarang? Sialan! Padahal gue mau ngajakin satu lawan satu.”
“Hah? Terus? Liat gue sehebat, sekeren, seterampil ini jadinya batal dong?” kata Riko PD. Sivia tersenyum. “Eh, lo ikut turnamen basket di SMA Bakti dua bulan lagi?”
“Wow, mantan SMA gue tuh. Ada acara apaan emangnya? Ulang tahun? Atau iseng bikin turnamen?” Sivia terus berlari mengejar bola di tangan Riko.
“Yah, elo! Emang ngga ada jiwa cinta almamater ya? Ulang tahun mantan SMA udah dilupain aja!” Sivia hanya terkekeh mendnegar ucapan Riko. “HUT SMA Bakti kan selalu ngadain turnamen. Masa lo lupa?”
“Ya, udah lupa mau diapain, bang?” ucap Sivia datar. “Ngga tau deh ikut atau engga. Males juga ke sana, mungkin udah di-black-list gue sama orang sana!”
“Hahahaha, dan belum sempet megang bola lo udah diusir satpam! Vi, tangkep!” Riko melempar bola ke arah Sivia. “Satpam yang lo gunting-gunting celananya!” Riko tertawa lebar. Dia memang tahu banyak tentang Sivia, tapi tidak dengan masa lalunya.
“Hmmm,” Sivia hanya ber-hmm dan langsung saja ber-jump-shoot. MASUK!
Give me freedom, give me fire. Give me reasons, take me higher…
‘Wavin Flag’ terdengar nyaring dari HP-Sivia. Terpampang sebuah nama ---> Alvinvon [wih Sivia suka nambah-nambahin huruf di nama kontak yah? ckckck]
“Halo, kak? Kenapa?”
“Halo, Vi.” sapa suara di sana. “Eh, Vi, lo inget topi gue kasih ke elo waktu ultah?” tanya Alvin.
“Topi apaan deh?” Sivia bingung.
“Topi Adidas warna putih, masih ada ngga? Gue pinjem!” kata Alvin.
“Yaah, gue lupa di mana, kak! Hehe, udah lama banget.” kata Sivia sambil menatap Riko yang sedang memainkan bola miliknya. “Ehh, lo cari aja di laci lemari yang paling gede, paling bawah. Di situ gue taroh barang-barang yang udah lama.” ucapnya.
“Oh, oke!” Alvin mematikan teleponnya.
@ Rumah Sivia-Alvin
“Laci lemari, laci lemari. Oke!” ucap Alvin begitu masuk kamar Sivia. Dia langsung mendekati laci yang Sivia maksud dan menariknya. “Nah, ini dia!” seru Alvin. Kini tatapannya berpindah ke sebuah kotak hitam di pojokan laci itu, agak dalam.
‘Apaan nih?’ batin Alvin, lalu entah kenapa dia mengambilnya karena memang kotak itu menarik perhatiannya. Dia lalu membuka kotak itu. Di dalamnya ada beberapa barang: buku hitam, buku putih, sekeping CD, slayer, bunga kering dan benda-benda lain. Satu benda yang
langsung Alvin ambil begitu membuka kotak hitam itu, sebuah foto yang tampak
kusut karena diremas. Di foto itu, seorang anak laki-laki berwajah manis tersenyum
menghadap kamera dan memegang gitarnya. Alvin membalik foto itu dan mendapatkan
sepotong kalimat: GUE BENCI LO, AGA, SELAMANYA!!!
Alvin menghela napas. ‘Aga? Siapa Aga?’ batin Alvin. ‘Mirip siapa ya anak ini? Kayanya ngga asing deh mukanya!’ Alvin lalu mengambil CD yang tadi sempat disentuhnya. Juga dua buku berukuran sedang, yang hitam dan putih.
“Sorry, Vi. Kayanya gue mesti tau hal yang selama ini bikin lo nangis tiba-tiba.” ucap Alvin lirih. “Aga, nama itu yang bikin lo nangis!”
Alvin menutup kembali kotak hitam itu dan menaruhnya di laci Sivia. Tapi, dua buku, sekeping CD dan foto kusut itu dibawanya ke kamar.
Buku apa yang dibawa Alvin itu?
Apa yang akan Alvin lakukan? Apa dia akan membenci Aga seperti Sivia membencinya? Atau justru akan membalaskan kesedihan Sivia pada Aga?
“Mana Alvin?”
“Kamar mandi.” jawab Rio mengambil garpu di depannya dan mengaduk-aduk mie-nya.
Cakka menghela napas. Rio menikmati mie ayamnya tanpa melirik hal lain. Cakka masih terlihat kesal dengan Sivia, tapi ada sedikit rasa puas karena tadi dia menang adu mulut. Cakka mendengus dan tersenyum, kepalanya geleng-geleng. Lalu disedotnya teh dalam
botol.
“Cak!” seseorang memegang bahu Cakka. Itu Alvin, Cakka menoleh dan bergeser, ternyata tempat yang didudukinya tadi adalah tempat Alvin.
Alvin melihat sepiring siomay dengan saus kacang di atasnya. “Hmmm… Makanan gratis!” kata Alvin sambil mengambil garpu dan menusuk satu butir siomay (satu butir, satu biji, atau satu buah si? auk ah!)
“Gue dapetin itu siomay penuh perjuangan, Vin.” Cakka berkata sambil senyum-senyum.
“Oh, gitu? Thanks bro!” ucap Alvin sambil melahap makanan itu. “Gue ngga bisa bales dengan apapun.” lanjutnya.
“Gue cuma bisa makasih, Cak.” kata Alvin mulai lebay.
“Kok lo jadi melankolis, Vin?” Cakka mengerutkan dahinya. “Gue harus negangin otot buat dapet siomay lima biji itu, Vin. Kebayang ngga?”
Alvin berhenti mengunyah, mulutnya sesak dengan sebutir siomay yang dilahapnya langsung tadi. “Hoh? Ngopoin lo nogongon otot? Obo-obo konton odoh jodo bodok yo, jodo lo jorot jorot dolo?” katanya dengan ekspresi kaget.
“Bodok? Obo obo?! Jorot jorot??” kata Cakka. “Apaan lo Vin? Ngomong pake bahasa mana sih?”
Alvin meminum teh botol Rio untuk membantunya menelan makanan. “Emang ibu-ibu kantin udah mulai budek sampe lo harus negangin otot buat teriak dan jerit-jerit?” kata Alvin setengah berteriak lalu menghabiskan teh botol Rio.
Rio menabok tangan Alvin dengan keras. “Vin, lo jahat banget ya? Masa minuman gue diabisin?”
“Impas, ya, Yo?” kata Alvin sambil meringis.
“Gue bukan neriakin ibu-ibu kantin. Gue neriakin tu cewek!” Cakka menunjuk Sivia yang duduk membelakanginya, jaraknya dua meja dari tempatnya duduk.
Alvin menatap cewek itu. Dia lalu menghela napas. “Cak, lo jangan ngusilin adek kelas deh. Kasian tau!” Alvin sok bijak.
“Iya, Pak Ketua OSIS!!!” kata Cakka sok manis. “Lagian gue ngga ngusilin, dia aja yang suka cari masalah terus sama gue.” Cakka mengeluarkan HP-nya, dan dia terkejut begitu menyadari ada pesan masuk di HP-nya. “Masya Allah!” teriaknya Cakka.
“Apaan Cak? Tumben lo nyebut?” Rio kaget mendengar Cakka.
Rio merebut HP Cakka. Tiba-tiba dia tertawa kecil. Ternyata jumlah pesan yang baru masuk ke HP Cakka yang membuat Cakka nyebut. 18 pesan baru yang belum Cakka buka – karena dia sendiri juga baru tahu tadi – kini sedang Rio baca satu-satu.
“Hai kak Cakka, kakak tambah cakep deh!” seru Rio. Alvin ikut nimbrung.
“Pagi kak Cakka… Pipi kakak kok lucu ya? Aku cubit boleh deh! I LOVE YOU!” Rio tertawa terbahak-bahak. “Kak… Gue cubit yaaaa???” ledek Rio dengan muka sok imut dan maksa banget. Lalu dia mengedipkan satu matanya.
“Rese lo Yo! Cakka paling males kalau fans gila nya mengirim SMS menjijikan seperti itu dan ketahuan Rio. Pasti Cakka habis digoda Rio.
“Kak Cakka aku sayang kakak. <3. Love, Zahra.” lanjut Rio, membaca SMS berikutnya.
“Zahra?” kata Alvin dan Rio bersamaan. Lalu mereka tertawa bersama.
“Zahra anak XI IPA I?” kata Alvin.
“Temennya nenek lampir yang naksir Alvin itu? Yang pake behel itu? Yang ikut ekskul basket tapi kerjaannya cuma duduk di pinggir lapangan itu?” tanya Rio bertubi-tubi. Dia memanggil Shilla, adiknya sendiri dengan sebutan nenek lampir.
Cakka hanya diam, meratapi nasibnya yang digempur habis kedua temannya. “Auk ah, gila!!!!!” kata Cakka cuek. Alvin geleng-geleng. Rio terus membaca SMS lain.
“Siapa sih yang nyebar-nyebar nomor HP gue? Sial!” Cakka menggerutu, lalu menarik piring berisi siomay milik Alvin. “Bagi dong, Vin!” katanya sambil menusuk satu butir siomay dan memakannya langsung. Pipinya yang gembil pun membesar karena mengunyah siomay
itu.
“Kenapa ngga beli aja, Cak?” tanya Alvin.
“Kalo masih ada, gue juga ngga bakal tegang sama cewek itu tadi buat ngerebut siomay ini! Ini siomay terakhir tau!” kata Cakka sambil menelan siomay-nya.
Alvin manggut-manggut. “Berarti gue beruntung dong, Cak, dapet ini siomay?!” Alvin nyengir.
“Bukan! Lo beruntung karena punya temen kaya gue.” ucap Cakka tanpa ekspresi.
drrrtt… drrrtt… drrrtt… [ceritanya hape cakka getar]
“Cak, Cak, telpon, Cak!!” seru Rio kaget. “Gue angkat yoh?” katanya langsung mengangkat telepon dari nomor tanpa nama itu.
“Halo, kak Cakka, lagi apa nih?” kata suara di seberang. Rio iseng mengaktifkan loudspeaker hp Cakka. Rio meletakkan hp itu di atas meja dan membesarkan volume suaranya.
“Kakak lagi di kantin ya bareng kak Rio sama kak Alvin? Kakak lucu deh waktu makan siomay. Aku liatin kakak tau. Pipinya makin cubby gimanaaaa getoh!Aku jadi gemeess sama kakak!” suara dari seberang langsung nyerocos ngga jelas, dan terdengar sangat keras oleh
mereka bertiga, lalu suara itu tertawa dengan centilnya.
Cakka melongo, wajahnya konyol. Rio tertawa puas. Alvin hanya tersenyum [jaga image, kan dia terkenal dingin dan cuek]. Cakka lalu tampak kesal. Cakka merebut hp-nya dan menonaktifkannya cepat. Dia membuka casing hp-nya dan mengeluarkan SIM-card di dalamnya.
“Mau ngapain lo, Cak?” Rio heran dengan apa yang Cakka lakukan.
“Gue mau bebas dari anak-anak berisik itu, Yo!” kata Cakka tanpa melihat Rio, dan langsung mematahkan SIM-card di tangannya. Patah…tah…tahhhh. “Good bye, pengganggu!” kata Cakka melempar patahan SIM-card nya ke belakang.
“Gila lo Cak! Ngapain lo patahin? Kan sayaaang.” kata Rio aneh.
“Ngapa lo yang protes, Yo, harusnya kan cewek-cewek itu yang protes?” tanya Cakka heran.
“Lo demen sama Cakka ya? Tuh kan lo mulai ngga normal!” Alvin curiga.
Rio melotot kaget [kaget dan melotot] ke kedua temannya. “Woy, gue normal, Vin, Cak!”
“Sumpeh lo Yo?” Alvin ragu, dia menatap Rio aneh.
Rio mengangkat jari jari tangannya yang kini membentuk huruf V [RUMUS ---> telunjuk + jari tengah = sueerrr] “SUERR VIN! Gue normal deh.” [bener kan?]
“Tapi tadi…” Alvin tak melanjutkan kalimatnya, keburu dipotong Rio.
“Kan cuma sayang ajaa…” Rio berhenti berkata-kata saat Alvin memotongnya.
“Sayang sama Cakka???”
“Kaga!” bentak Rio. “Sayang aja kalo nomornya dipatahin gitu!”
“Tenang, Yo! Nomor maah gampang, ceban aja dapet dua di deket rumah gue!” kata Cakka enteng.
“Tapi kan sayang kalo nomor-nomor penting pada ilang.” Rio menjelaskan maksud kata SAYANG-nya.
“Ohh, tenaang… Gue simpen nomor penting di hape bukan di SIM card.” Cakka memasukkan hapenya ke saku. “Vin, kok lo ngga sampe ditelpon kayak gue? Padahal kan banyakan fans lo ketimbang gue?”
“Yee, mana ada yang berani nelpon gue. Yang ada kalo mereka telpon gue, belum apa apa pasti mereka udah gugup terus pingsan deh!” kata Alvin ke-PD-an
“Pede amat lu? Setahu gue, ngga ada yang berani sama orang sedingin, sejutek, dan secuek dia.” ucap Rio sambil cengengesan.
“Kurang asem lo Yo!” kata Alvin. “Gue kan kaga ngasih nomor gue ke sembarang orang, Cak. Emangnya elo, sengaja nulis nomor di pager lapangan biar seisi dunia tau!”
“Yeee, gue ngga nulis di pager lapangan, Vin.” protes Cakka. “Si Dayat tuh yang suka jual nomor gue ke cewek-cewek. Untung di dia, rugi di gue!”
“Halaaah… Lo harusnya seneng banyak yang ngejer. Nah gue?” Rio manyun.
“Helooo Mario? Lo udah punya Dea, bro!” protes Cakka. Rio manggut manggut.
Alvin melirik jam tangan di tangan kirinya -----> 09.25. “Eh, balik ke kelas yuk.”
“Ayook!” seru Rio dan Cakka berbarengan. Mereka lalu berjalan menuju kelas. Cakka tak menghiraukan seruan-seruan namanya yang keluar dari mulut cewek-cewek yang melihatnya.
“Kak Cakkaa…”
“Hai, Kak!”
“Kakaaaaak…”
Alvin stay cool, berjalan tanpa beban. halangan, rintangan, membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran [senandung monyet]. Sedangkan Rio juga berjalan biasa di sebelah Alvin. Sementara Cakka merasa risih, dan akhirnya berjalan lebih cepat, menjauh dari
koridor yang berjajar anak-anak kelas X dan XI.
@ XI IPA I
“Vi, jangan dipikirin dong soal yang tadi!” Tian masih khawatir dengan Sivia yang masih diam.
“Nggak kok tenang aja! Gue ngga mikirin yang tadi.” jawab Sivia, enteng dan pelan.
“Gue jadi ngga enak deh, lo kan anak baru, masa udah dibentak bentak gitu. Sama kakak kelas lagi!” lanjut Tian.
“Kenapa lo harus ngerasa ngga enak? Gue ngga apa apa lagi!” Sivia tersenyum, tak terlalu lebar. “Tadi, lo bilang dia kakak kelas? Beneran dia kakak kelas?” tanya Sivia.
“Iya, kenapa?”
“Ehm, ngga kok, ngga papa.” kata Sivia sambil melanjutkan menulis jadwal pelajaran yang sedang disalinnya dari buku Tian. Tian mengalah, dia lalu pergi ke meja Agni yang tampaknya seru membicarakan sesuatu.
“Shill, lo jangan diem aja gitu dong!” protes Angel melihat Shilla yang hanya diam menatap Sivia, cewek yang tadi pagi dibonceng oleh Alvin cowok pujaannya, seperti cerita kedua sahabatnya. “Lo peringatin, kek. Atau lo labrak kek!” Angel emosi.
“Ngel, gue belum liat dengan mata kepala gue sendiri kak Alvin bareng dia. Jadi, biar gue selidikin dulu deh! Dan kalau ternyata dia sodaranya, kan malu gue!” Shilla tak henti hentinya menatap Sivia ‘Cantik juga, ya?’ batin Shilla.
“Ih, mana ada sodara yang pegangan tangan gitu?” Angel kembali mengoceh.
“Udah deh, Ngel, hargain keputusan Shilla dong.” Zahra menengahi sebelum terjadi perdebatan.
“Okeh, Ra. Tapi gue ngga yakin mereka pacaran!” bisik Angel lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Pasti dia tuh yang ngedeketin kak Alvin. Iiiiyhh…” Angel bergidik dan duduk disebelah Shilla.
Shilla tetap menatap Sivia yang masih menyalin tulisan Tian dengan tatapan iri, kagum, dan cemburu.
@ XII IPA II (kelas Alvin, Cakka, Rio)
“Gue benci elo!” Cakka masih membayangkan suara itu, suara itu terus menghantuinya. ‘Siapa sih dia?’ batin Cakka. Dia memikirkan hal itu lagi saat tiba di kelasnya. Dia duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpuk di
atas meja.
“Cak!” panggil Alvin. Cakka tak bergerak, apalagi menoleh.
“Cakka!” bentak Alvin lumayan keras. Cakka akhirnya menoleh, namun mukanya masih tanpa ekspresi.
“Apa Vin?” katanya datar.
Alvin mendekati meja Cakka, lalu memberi komando pada Dayat yang ada di samping Cakka untuk menyingkir. Dayat yang sedang membaca buku sejarah setebal lima ratus halaman pun bangkit dan merelakan tempat duduknya direbut Alvin.
“Gini, kata Bu Winda waktu gue ngasihin proposal tadi pagi, nanti siang ada rapat OSIS di ruang OSIS. Kita bakal bahas proposal penyelenggaraan pensi itu bareng Bu Ira rencananya. Anggota inti yang kelas duabelas diwajibin hadir.” ucap Alvin panjang lebar
tinggi sama dengan volume balok *ngelantur*. Alvin bicara panjang lebar tentu
untuk mengajak Cakka berbicara dan menghindari melamun. (Tumben setumben tumbennya
Alvin ngomong banyak dan ngga to the point, banyak sebanyak banyaknya Alvin
ngomong dalam emosi stabil sestabil stabilnya itu lima kata sekali ngomong. Dan
kalimat tadi, kayaknya bisa deh diringkas jadi lima kata: Ntar siang ada rapat OSIS) *haha penulisnya bawel yaa?*
“Oh.” respon Cakka singkat, singkat banget, dua huruf O-H. Tumben… Sedikit sesedikit sedikitnya Cakka ngomong, adalah dua huruf O dan H, ngga sepadan dnegan kalimat Alvin yang panjang banget.
“Elaah, Cak! Gue udah bela belain ngomong banyak kok lo jawabnya gitu.” kata Alvin emosi. “Lo ngomong apa kek!”
“Ngomong apa dong gue harusnya?” Cakka menatap Alvin.
“Auk akh! Lo ngelamun ajeh, gue dicuekin.” Alvin ngembek. “Ngelamunin apa sih lo sebenernya? Gue liatin lo kayaknya terus terusan ngelamun sejak dua bulan lalu.” Alvin menatap Cakka lekat-lekat.
Cakka menggeleng pelan dan menghindari tatapan Alvin dengan menunduk.
“Kenapa lo, hah?” Alvin menurunkan wajahnya berusaha melihat wajah Cakka. “Lo ngga kaya gini sebelumnya, Cak. Cerita dong ke gue.”
“Gue ngga apa apa, Vin.” kata Cakka. Dia menyembunyikan sesuatu.
“Kalo ada masalah, lo bisa cerita ke gue atau ke Rio, Cak. Kita berdua masih temen lo yang nampung curhatan lo!” kata Alvin, kadang kadang – walaupun jutek setengah idup – Alvin memang sangat perhatian terlebih pada sahabatnya. “Kita kan temenan udah lama…”
Cakka terus menggeleng. “Gue belum siap, Vin. Belum.”
Alvin menepuk bahu Cakka dan mengusapnya. “Oke, gue sama Rio siap kapanpun lo butuh, kok.” kata Alvin sambil pergi menuju belakang kelas.
Guru-guru memang meninggalkan kelas begitu saja karena mendadak ada rapat wali kelas untuk penyampaian rencana kegiatan pembelajaran dan juga perayaan hari jadi SMA VICAS sebentar lagi. Jadi, semua kelas masih nganggur.
Rio, kini dia tidur-tiduran [bukan tidur boongan, maksudnya berbaring gitu deh] di belakang kelas. Dia mengenakan headphone-nya dan manggut-manggut menikmati lagu yang tengah dia dengarkan. Dia juga mengubah fungsi tas yang seharusnya untuk membawa barang-barang menjadi sebuah
bantal. Kaki kanannya yang ditopangkan ke atas lutut kirinya bergerak-gerak
seirama dengan tempo lagu.
“Yo!” panggil Alvin. Rio malah memejamkan matanya menghayati lagu yang mulai dinyanyikannya.
“Yo!” seru Alvin. Rio belum menengok juga.
“Rio!” teriak Alvin lebih keras. Dia geram. Akhirnya dicopotnya headphone di kepala Rio sambil berseru “MARIO STEVANO ADITYA HALIIIINGGGGGG!!!”
Rio sontak terlonjak, dia membuka mata dan melompat kaget mendengar teriakan Alvin. “HAPAAA… ALVIN JONATHAN SINDUNAATAAAAA?????!!!” balasnya berteriak. Anehnya tak ada yang mendengar teriakan mereka.
“Berisik lo akh. Gue mau ngomong.” kata Alvin ketus.
“Hoaahmm… Apaan Vin ngomong aja.” Rio menguap.
“Cakka, Yo! Cakka kayanya ada masalah deh!” Alvin duduk di sebelah Rio.
“Masalah apaan?” tanya Rio tak bersemangat.
“Itu dia. Cakka ngga mau cerita.” kata Alvin.
“Lahh, terus ngapa lo ke sini pake teriak teriak?”
“Kita harus bantuin dia, Yo. Gue ngga tega ngeliat dia yang lama-lama jadi diem, lemes, dan tertutup gitu.” Alvin mulai terlihat serius. Rio juga memasang wajah serius.
“Iya, gue juga mikir gitu.” kara Rio.
“Nanti malem lo ke rumah gue, ya? Kita omongin di sana! Kebetulan bokap sama nyokap lagi ke Bandung, gue sendirian.” ucap Alvin.
“Oke, gue juga males di rumah. Kuping gue soak lama-lama kalo dengerin rengekan dia yang terus-terusan minta dideketin sama lo.” kata Rio.
Alvin nyengir. “Jahat lo sama adek sendiri! Masa dikatain nenek lampir.”
“Haayaahhh habisnya dia suaranya cempreng, suka teriak, suka ketawa ngikik, suka kayak nenek lampir gitu deh! Lo belum ngerasain aja.” Rio geleng geleng kepala.
“Widiih ngapain juga.” kata Alvin lalu bangkit dari duduknya mau pergi.
“Asik deh jadi lo yang ngga punya adek!” keluh Rio sambil kembali berbaring.
Alvin hanya mesem, lalu pergi. Saking cuek, dingin, dan diamnya teman-teman Alvin tak pernah tahu tentang adiknya, Sivia karena memang tak ada yang menanyakan hal itu. Alvin juga malas untuk bercerita tentang keluarganya pada teman-temannya. Dia menganggap itu tak
penting untuk dibicarakan.
*****
TTEEEEEEETTT [bel pulang, aseekk!!!]
“Yo, lo sama Cakka ke ruang OSIS dulu, gue mau umumin dulu ke anak-anak lain.” kata Rio.
“Sip!” jawab Rio singkat lalu pergi ke ruang OSIS bersama Cakka.
*****
Sivia berjalan gontai menuju ruang kelas Alvin, Alvin pernah mengatakan bahwa kelasnya adalah kelas XII IPA 2. Sivia mencarinya susah payah dan akhirnya menemukan kelas itu. Dilongoknya kelas itu dan tak dilihatnya seorangpun kecuali satu siswi perempuan [yaealah
masa siswi laki-laki (?)] sedang membereskan beberapa kertas yang dimasukkannya
ke dalam map.
“Ehh, kak!” panggil Sivia pelan. Perempuan itu menengok, dan menatap Sivia tajam. “Liat kak Alvin ngga?”
“Ngga!” jawabnya ketus. Dia lalu pergi tanpa mempedulikan Sivia.
“Ih, jutek banget deh!” bisik Sivia lalu bersiap pergi dari kelas itu, tapi pandangannya tertuju pada sebuah buku catatan kecil berwarna merah. ‘apan tuh? gue ambil ahh!’ batinnya.
Dibacanya nama yang tertulis di buku itu. Dia tersenyum. Sivia lalu membawa buku itu pergi.
“Via!” teriak seseorang di belakang Sivia.
“Kak Alvin?” Sivia diam di tempatnya, dan Alvin berlari ke arahnya. “Tadi Via cari di kelas kok ngga ada?”
“Kakak udah keluar. Oh iya! Kakak ada rapat OSIS, kamu pulang sendiri mu ngga?” Alvin menarik napas, lalu membuangnya. “Kalo ngga mau, kamu tungguin kakak. Ngga lama kok, palingan cuma satu jam.”
Sivia mengangguk. “Via tunggu di depan.” katanya. “Oh iya, kak! Ni buku kakak ketinggalan di kelas tadi.” Sivia menyerahkan buku catatan berwarna merah yang ternyata milik Alvin. Dia lalu pergi meninggalkan Alvin yang belum sempat berterima kasih.
‘Nah ini gue cariin, taunya ketinggalan.’ batin Alvin. Alvin dengan langkah tergesa-gesa pergi ke ruang OSIS, rapat pasti akan segera dimulai.
---> r.a.p.a.t. d.i.m.u.l.a.i. <---
“Oke, Alvin, silakan bagi tugas yang sudah kamu susun.” pinta Bu Winda [ceritanya udah mulai masuk ke tengah rapat deh!]
“Ya, makasih, bu!” kata Alvin sambil membuka buku catatan berwarna merahnya.
“Baik, seperti yang Bu Winda sampaikan, karena Ujian Nasional dilaksanakan lebih awal dari biasanya, jadi acara pentas seni tahunan yang kita minta sebelumnya terpaksa ditiadakan, seperti hasil rapat guru dan kepala sekolah tadi barusan. Sebagai gantinya,
akan diadakan acara bakti sosial di Panti Asuhan milik Yayasan VICAS, dan pelaksanaannya
sudah disampaikan oleh Bu Winda tadi…”
“Cepetan dong, Vin. Lo lama amat ngomongnya?” keluh Rio.
“Berisik lo!” bisik Alvin. “Saya sudah menyusun nama-nama dengan tugas masing masing untuk menjadi panitia acara bakti sosial tersebut. Nama-nama yang menjadi panitia adalah sebagai berikut: Alvin Jonathan Sindunata – Ketua Panitia. Cakka Kawekas Nuraga – Bendahara,
[bla bla bla]… Terima kasih.”
“Baik, kalian semua tau tugasnya masing-masing kan. Ibu berharap kalian menjalankan tugas dengan sepenuh hati dan dengan rasa tanggung jawab yang besar.” ucap Bu Winda. “Rapat cukup sampai di sini. Kalin boleh pulang.” Bu Winda keluar dari ruang OSIS.
Alvin buru-buru meninggalkan ruang OIS karena Sivia pasti sudah menunggunya. Tak diduga rapat tak berjalan satu jam seperti perkiraan Alvin, karena pembatalan acara pensi sekolah membuat anggota inti OSIS menyusun kegiatan lain.
“Guys, gue duluan ya?” ucap Alvin sambil menepuk bahu Cakka dan Rio yang sedang berjalan menuju parkiran bergantian. Alvin langsung berlari.
“Ke mana lo, Vin?” teriak Rio.
“Buru-buru!” jawab Alvin teriak juga.
“Ngapain sih ni anak?” Rio berbisik. “Oggh!” Rio memekik kaget.
Cakka melirik Rio yang aneh banget mukanya. “Kenapa lo Yo?”
“Jangan jangaaannn…” Rio memanjangkan kata terakhirnya, membuat Cakka penasaran. “Jangan jangan Alvin punya gebetan baru!” tebak Rio asal.
“Halah ngaco!” Cakka membantah. “Kesimpulan apaan noh?”
“Ngaco gimana, Cak? Siapa tau aja dia memang punya gebetan baru, dan ngga cerita sama kita-kita!” Rio masih keukeuh dengan tebakannya. “Iyo toh iyo toh?” Rio menaik turunkan alisnya.
“Iyo toh iyo toh… Engga juga toh!” ucap Cakka meniru dialek Rio, lalu berjalan terus menuju motornya. Rio hanya diam, dia tak mau berdebat lagi.
Di tempat lain, Sivia duduk di bangku kecil di sebelah pos satpam SMA VICAS, menopang dagunya dengan kedua tangannya. Matanya sesekali terpejam tak mampu menahan kantuk yang menggodanya [jiaahaha menggoda]
‘Kak Alvin mana sih, katanya cuma satu jam?’ batinnya.
Dari kejauhan, motor Alvin nampak mendekati Sivia, namun Sivia kini menutup mukanya dengan kedua tangannya dengan lutut menopang keduanya. dia mengantuk. Alvin menghentikan motornya di depan Sivia.
“Vi! Pulang yok!” ajak Alvin datar.
Sivia menatap kakaknya dengan muka kusut. “Lama amat lo, hah? Lumutan gue nunggu lo!”
“Yaah, maaf Vi. Gue ngga tau kalo bakalan ada tambahan tadi. Maaf deh, yaa?” Alvin memberikan senyuman paling manisnya untuk mendapatkan maaf Sivia.
“Rese! Cepet jalan!” kata Sivia langsung naik motor Alvin.
“Oke, cantik!” kata Alvin. Alvin memang suka menggoda Sivia sekedar untuk membuat adiknya tersenyum, tidak bersedih, karena dia sudah berjanji akan menjaga senyum Sivia.
@ Perumahan Bumi Intan
“Vi, lo minta kunci ke rumah sebelah gih!” pinta Alvin begitu sampai di depan rumah.
“Hidih, males. Lo aja sana!” jawab Sivia jutek, dia langsung membuka gerbang rumahnya dan duduk di kursi di beranda.
“Hmmm…” Alvin turun dari motor dan menuju rumah di samping kiri rumahnya. Gerbangnya tidak ditutup, jadi Alvin tinggal masuk. “Tante, mau ambil kunci rumah.” ucap Alvin begitu menemukan wanita yang sedang menyiram tanaman.
“Oh, kamu, Vin? Baru pulang?” tanya wanita itu. Alvin hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. “Ozy, ambilin kunci di atas lemari kaca, Nak!” teriaknya. Itu mama Ozy.
“Yoi, Mother!” terdengar suara teriakan dari dalam. Tante Nana meringis, Alvin tersenyum.
‘Mother? Gaul amat nih Ozy!’ pikirnya.
“Nih!” Ozy menyodorkan sebuah kunci. “Eh, halo kak!” sapa Ozy cuek seakan baru melihat Alvin berdiri di depan rumahnya.
“Hai Zy, tambah cakep aja!” goda Alvin.
“Emang.” ucap Ozy, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Makasih tante!” kata Alvin seraya meninggalkan rumah tetangganya itu dan menuju rumahnya sambil menuntun motor. “Via, nih kuncinya. Buka pintunya!” suruh Alvin. Sivia merebut kunci di tangan Alvin dan segera masuk.
***
“Hoaaahhmm” Sivia menguap lebar, tetapi dia tak mau tidur siang. “Main basket asik, neh! Ajak Riko ahh!” ucapnya lirih lalu mengambil HP-nya untuk SMS Riko.
To: Rikokok [hihi, namanya lucu!]
“Riko, main basket yuk!”
Beberapa saat kemudian…
From: Rikokok
“Ayoooookkkkkk! Sekarang?”
To: Rikokok
“Kaga! Nunggu cucu gue lahir deh! Sekaraaaaang!!!!!! (BeTe mode: on)”
From: Rikokok
“Berangkaat!”
Sivia lalu berganti pakaian dengan cepat dan mengambil bola basket di atas lemarinya. Dia lalu mengantongi HP-nya dan berlari turun ke lantai bawah.
“Ka Alvin gue ke lapangan.”
“Hah?” Alvin tak mendnegar kata-kata Sivia.
“Lapangaaaan!” teriak Sivia. Tak ada jawaban, pasti Alvin sudah mendengarnya. Jadi Sivia langsung pergi berlari ke lapangan basket kompleks.
@ Lapangan Perumahan Bumi Intan
Sivia tak mau menunggu Riko, sahabatnya waktu di SMA Voundras. Sivia memutuskan untuk memulai bermain. Sivia tersenyum. Dia lalu men-drible bola basketnya, melakukan lay-up dan… MASUK!
Plok-plok-plok terdengar tepuk tangan dari pinggir lapangan.
“Lo masih keren aja, Vi!” seru seorang lelaki di pinggir lapangan. Dia memakai kaos putih dan celana jeans pendek. Di tangannya masih ada kunci motor, itu Riko.
“Hey, my bro! Masih hidup lo?” Sivia melemparkan bola basketnya ke arah Riko dan dia menangkapnya. “Masih suka nongkrong di lampu merah lo?”
“Hahah, bisa aja lo! Kaga, gue udah pindah k etas jembatan.” Riko lalu men-drible bola basket di tangannya dan melakukan jump-shoot tiba-tiba. MASUK!
“Gimana di VICAS?” mereka mulai mengobrol sambil berlari dan men-drible.
“Elaah, gue baru sehari udah ditanyain gimana gimana.” Sivia tersenyum.
“Ya, siapa tau di hari pertama lo udah bikin kacau, atau udah bikin temen sebangku lo nangis gara-gara lo jailin? HAhah!” Riko kembali melakukan shoot, MASUK (lagi).
“Yah, gue udah janji sama bokap buat berubah, bro!”
“Halaah, lo juga bilangnya gitu dulu pas baru masuk Voundras!” Riko terkekeh.
Sivia manyun. “Sekarang gue beneran. Gue juga ngga mau kecewain kak Alvin sama Mama.” Riko berdehem. “Eh, lo jago main basket ya sekarang? Sialan! Padahal gue mau ngajakin satu lawan satu.”
“Hah? Terus? Liat gue sehebat, sekeren, seterampil ini jadinya batal dong?” kata Riko PD. Sivia tersenyum. “Eh, lo ikut turnamen basket di SMA Bakti dua bulan lagi?”
“Wow, mantan SMA gue tuh. Ada acara apaan emangnya? Ulang tahun? Atau iseng bikin turnamen?” Sivia terus berlari mengejar bola di tangan Riko.
“Yah, elo! Emang ngga ada jiwa cinta almamater ya? Ulang tahun mantan SMA udah dilupain aja!” Sivia hanya terkekeh mendnegar ucapan Riko. “HUT SMA Bakti kan selalu ngadain turnamen. Masa lo lupa?”
“Ya, udah lupa mau diapain, bang?” ucap Sivia datar. “Ngga tau deh ikut atau engga. Males juga ke sana, mungkin udah di-black-list gue sama orang sana!”
“Hahahaha, dan belum sempet megang bola lo udah diusir satpam! Vi, tangkep!” Riko melempar bola ke arah Sivia. “Satpam yang lo gunting-gunting celananya!” Riko tertawa lebar. Dia memang tahu banyak tentang Sivia, tapi tidak dengan masa lalunya.
“Hmmm,” Sivia hanya ber-hmm dan langsung saja ber-jump-shoot. MASUK!
Give me freedom, give me fire. Give me reasons, take me higher…
‘Wavin Flag’ terdengar nyaring dari HP-Sivia. Terpampang sebuah nama ---> Alvinvon [wih Sivia suka nambah-nambahin huruf di nama kontak yah? ckckck]
“Halo, kak? Kenapa?”
“Halo, Vi.” sapa suara di sana. “Eh, Vi, lo inget topi gue kasih ke elo waktu ultah?” tanya Alvin.
“Topi apaan deh?” Sivia bingung.
“Topi Adidas warna putih, masih ada ngga? Gue pinjem!” kata Alvin.
“Yaah, gue lupa di mana, kak! Hehe, udah lama banget.” kata Sivia sambil menatap Riko yang sedang memainkan bola miliknya. “Ehh, lo cari aja di laci lemari yang paling gede, paling bawah. Di situ gue taroh barang-barang yang udah lama.” ucapnya.
“Oh, oke!” Alvin mematikan teleponnya.
@ Rumah Sivia-Alvin
“Laci lemari, laci lemari. Oke!” ucap Alvin begitu masuk kamar Sivia. Dia langsung mendekati laci yang Sivia maksud dan menariknya. “Nah, ini dia!” seru Alvin. Kini tatapannya berpindah ke sebuah kotak hitam di pojokan laci itu, agak dalam.
‘Apaan nih?’ batin Alvin, lalu entah kenapa dia mengambilnya karena memang kotak itu menarik perhatiannya. Dia lalu membuka kotak itu. Di dalamnya ada beberapa barang: buku hitam, buku putih, sekeping CD, slayer, bunga kering dan benda-benda lain. Satu benda yang
langsung Alvin ambil begitu membuka kotak hitam itu, sebuah foto yang tampak
kusut karena diremas. Di foto itu, seorang anak laki-laki berwajah manis tersenyum
menghadap kamera dan memegang gitarnya. Alvin membalik foto itu dan mendapatkan
sepotong kalimat: GUE BENCI LO, AGA, SELAMANYA!!!
Alvin menghela napas. ‘Aga? Siapa Aga?’ batin Alvin. ‘Mirip siapa ya anak ini? Kayanya ngga asing deh mukanya!’ Alvin lalu mengambil CD yang tadi sempat disentuhnya. Juga dua buku berukuran sedang, yang hitam dan putih.
“Sorry, Vi. Kayanya gue mesti tau hal yang selama ini bikin lo nangis tiba-tiba.” ucap Alvin lirih. “Aga, nama itu yang bikin lo nangis!”
Alvin menutup kembali kotak hitam itu dan menaruhnya di laci Sivia. Tapi, dua buku, sekeping CD dan foto kusut itu dibawanya ke kamar.
Buku apa yang dibawa Alvin itu?
Apa yang akan Alvin lakukan? Apa dia akan membenci Aga seperti Sivia membencinya? Atau justru akan membalaskan kesedihan Sivia pada Aga?
Tempat Yang Paling Indah part 2
by: tia (http://facebook/tiantium)
“Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa lembar kertas di tangannya, seakan akan mau jatuh lagi.
“Tau ah!” katanya kesal.
“Pagi pagi jangan bete gitu dong! Ntar fans lo kabur semua.” kata Alvin menggoda Cakka, dia merangkulnya. Mereka berjalan bersama di koridor menuju kelas.
“Peduli setan sama fans gue! Gue bete!” katanya ketus pada Alvin, seraya mempercepat langkahnya melepaskan rangkulan Alvin.
Alvin melongo, lalu mengejar Cakka yang meninggalkannya. “Eh, tunggu Cak!”
*****
@ kelas XI IPA I
Beberapa menit setelah bel masuk, bu guru belum datang ke kelas. Siswa-siswa masih rebut menceritakan tentang liburan semester mereka. Yah, maklum deh hari itu hari pertama di semester dua.
Ada yang cerita tentang natalan di Paris lah, liburan ke Bali lah, taun baruan
di Puncak lah, atau cerita-cerita lain yang intinya satu: PAMER. Biasanya,
Angel yang paling heboh cerita tentang liburan akhir taun plus taun baruan
bareng keluarganya, entah itu ke eropa, ke Australia, ke amerika, ke afrika, ke
antartika, ke jamaika :ngelantur: tapi sekarang Angel lagi sibuk sama Shilla,
jadi kelas ngga terlalu rame karena sorakan kekaguman pas Angel dongengin
liburannya.
Zahra dan Angel ada di dekat Shilla. Mereka tampak serius.
“Shill, masa kak Alvin boncengin cewek!” Zahra memulai pembicaraannya.
“Ah, masak sih?” Shilla biasa aja, sambil membuka halaman novel yang lagi dia baca.
“Ye, elo kita bilangin kaga percaya!” Angel duduk di samping Shilla.
Shilla hanya meringis. “Lagian ngapa juga kalo kak Alvin boncengin cewek?”
“Ih, Shill, lo ngga jealous apa? Kayaknya itu pacarnya kak Alvin deh.” Zahra mulai memancing.
Shilla hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Apaan sih kalian?”
Angel gantian geleng-geleng. “Ckckck, ini anak dodol ya? Kalo itu beneran pacarnya kak Alvin gimana? Lo rela?”
“Ngga mungkin lah kak Alvin punya cewek, kak Alvinnya kan cuek, jutek, dingin dan ngga ada romantis-romantisnya sama cewek.” kata Shilla mengejutkan kedua sahabatnya.
“Widih, lo kok jadi jelek-jelekin dia?” Angel kaget.
“Ya engga juga, kan kenyataannya gitu, dan cuma gue yang bakal berhasil menghancurkan semua sifat sifat itu karena gue yang paling sabar ngadepin kak Alvin.” Shilla mesem mesem sendiri
sambil menatap novel teenlit yang dipegangnya. Dia kepedean banget.
“Aduuuuh, temen gue yang satu ini tambah dongo ya? Lo belum liat aja sih ceweknya!” kata Zahra duduk di bangkunya, di depan meja Shilla-Angel.
“Shill, dengerin kita!” Angel merebut novel yang Shilla baca.
“Iih, apaan sih lo Ngel? Balikin!” rengek Shilla.
“Lo dengerin deh makannya.” kata Angel. “Tadi, kak Alvin beneran ngeboncengin cewek dan…”
“Dan, itu mamanya kali mau ke mana gitu.” kata Shilla. Dia ngga mau ngurusin kabar tentang kak Alvin dari kedua sahabatnya, dia memutuskan untuk keluar kelas. (mau kemana coba?)
“Oh, iya! Bener juga lo, mamanya kak Alvin mungkin lagi ganti style fashionnya, dan sekarang pake seragam SMA VICAS dan bawa tas sekolah, ya?” teriak Zahra agar Shilla mendengarnya.
“Apa lo bilang, Ra? Mamanya Alvin sekolah di sini? Lho, bukannya dia ngantor ya?” kata Shilla menghampiri temannya. (dongonya kumat)
“Shill, gue tau lo cinta mati sama kak Alvin, tapi lo jangan jadi dongo gini dong!” Zahra menatap Shilla kesal.
“Ih, apaan sih lu Ra!” Shilla mulai manyun. “Ngel, gimana gimana certain!” sekarang Shilla ngebet pengen tau.
“Cewek itu kayanya sekolah di sini, deh! Tapi gue ngga tau dia kakak kelas, ato adek kelas. Ato mungkin juga satu angkatan sama kita.” jelas Angel.
“Gue liat kak Alvin ngegandeng tangannya gitu pas turun dari motor. Ih, nyebelin banget tau ngga?” kata Zahra membuat Shilla panas. “Mereka jalan juga gandengan tangan, Shill. Bayangin!”
Shilla makin panas. Perasaannya kini tak karuan, dia merasa mendidih.
Angel mengangguk setuju. “Sumpah deh Shill, gue liat pake mata gue sendiri, ngga ada rekayasa, ngga ada manipulasi, ngga ada kebohongan, ngga ada penipuan, ngga ada…”
“Stop, Ngel! Biasa ajeh ngomongnya. Shilla tambah panas kalo lo menggebu-gebu gitu.” Zahra memotong kata-kata Angel yang kayak kereta. tuut… tuut… (?)
Shilla sendiri terlihat manyun dan matanya terasa panas saat Angel dan Zahra mengabarkan kabar teraktual dari Alvin, cowok dingin plus cuek tapi keren yang Shilla suka.
“Kak Alviiiiiiiiiiiiinnnnnn!!!” jerit Shilla sangat keras sehingga setelahnya kelas yang tadinya rame kaya pasar tanah abang menjadi sepi kayak kuburan jeruk purut.
Dan semua mata tertuju pada Shilla.
“Kenape lo Shill?” Tanya Irsyad yang sedang membersihkan papan tulis.
“Eehhh, engga engga. Ngga papa, kalian lanjutin aja diskusinya, ya? Oke?” Zahra panik, dia menenangkan seisi kelas yang kaget lalu mencoba menenangkan Shilla, dia mengajaknya duduk.
Semua mata lalu berpaling dari Shilla, mengurusi urusan masing-masing. Sion, anak paling rame di kelas melirik jam tangannya. -----> 07:14:52
“tujuh, enam, lima, empat, tiga.” kata Sion lagi. “dua… satu…”
‘tok tok tok tok tok’. lima kali pintu diketuk
“bu guru woy, bu guru!” teriak Sion begitu mendengar suara ketukan di pintu kelas. semua anak langsung siap siaga mengambil posisi dan tiarap (hah? ngga ngga, yang terakhir engga!) di
bangku mereka masing-masing.
Zahra masih menenangkan Shilla yang sesenggukan bersama Angel yang duduk sebangku, di belakang tempatnya duduk bersama Irsyad.
‘tok tok tok’ pintu diketuk lagi.
‘loh, kok bu guru ngga masuk-masuk si?’ batin Sion. Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu.
‘crrreeeeeeeettttttt’ (Q: kaya suara pintu dibuka, ya? A: iya.) pintu dibuka oleh seseorang di luar. Semua siswa diam, menanti siapa yang masuk, apa itu bu guru wali kelas mereka atau
bukan.
Seorang perempuan masuk dan memandang seisi kelas dengan tatapan polos. Siswa-siswa masih diam, namun beberapa saat kemudian…
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhh!” seisi kelas menyoraki perempuan itu. Kecuali Sion, Shilla, Angel dan Zahra yang masih menatap wajah perempuan di depan kelas mereka.
‘Kok nyorakin? Gila ni kelas!’ batin Sivia. Lalu dia melihat Sion yang tersenyum ke arahnya. Sivia membalas senyumnya dengan tersenyum simpul.
Kelas kembali ramai, entah membicarakan Sivia, atau kembali ke dongeng-dongeng liburan.
‘Heuuh? Ngga ada penyambutan anak baru, ya?’ batin Sivia.
“Ehm, lo anak baru, ya?” kata Sion mendekati Sivia yang masih berdiri. Sivia mengangguk.
“Bener ini kelas XI IPA I? Gue ngga salah masuk kan?”
Sion senyum senyum sendiri.
“Kenapa lo? Sakit gigi?”
“Kaga! Lo udah liat, kan di pintu ada tulisan XI IPA I? katanya. Sivia hanya tersenyum.
“Lo ngga ngasih gue tempat duduk, nih?” Tanya Sivia.
“Oh, iya. Eh, lo udaah…”
Sivia memotong seketika “Udah. Gue udah ke Bu Ira, dan katanya gue suruh masuk kelas aja.” Sion mengangguk. “Mana kursi gue? Gue capek nih!”
Sivia mulai bersikap dingin.
Sion mengajak Sivia ke kursinya. Di sudut lain, Trio Centil (Angel, Shilla, Zahra) bisik-bisik.
“Shill, liat tu cewek!” kata Zahra. Shilla memandang Sivia dengan mata yang masih basah air mata.
“Dia yang diboncengin kak Alvin, Shill!” kata Angel dan itu membuat Shilla semakin parah. Dia terus menangis dengan menutup matanya. Irsyad di sebelah Zahra sempat melirik, dan langsung
membuang muka begitu Angel melototinya.
“Tian, lo pindah gih ke Lintar! Biar Zeva sama dia.” kata Sion sambil menunjuk ke arah Sivia.
“Ih, apa apaan lo hah? Engga deh, gue ngga mau di depan!” kata Septian bersikukuh memegangi tasnya.
“Ngalah dong sama anak baru lo!” ucap Sion.
“Kaga bisa!” Septian tetap pada pendiriannya.
“Lo nyari ribut?” Sion emosi (halah, kenapa ni bocah pakek emosi segala?)
“Ngapa sih lo, Ion, pakek emosi segala?” Septian kesal.
“Hussssssss udah udah, ngapa juga pada ribut. Biar gue yang ke Lintar.” kata Zevana sambil membawa tas warna ungu-nya dan meletakkannya di meja sebelah lintar.
“Nah, sekarang lo duduk di sini!” kata Sion.
Sivia melangkah pelan menuju meja yang tadi milik Zevana. Lalu dia meletakkan tas hitamnya di atas meja, lalu duduk di kursi di sebelah Septian.
“Pergi lo, masalah lo selesai, kan Ion?” kata Septian mengusir.
Sion hanya melotot ke arah Septian, lalu pergi ke bangkunya.
Septian senyum senyum, jarang-jarang ada perempuan yang duduk sebangku dengannya. Sivia melihatnya, dahinya berkerut.
“Kenapa lo senyum senyum gitu? Ngga lagi sakit perut kan lo?” kata Sivia lalu geleng-geleng kepala.
“Engga lah!” kata Septian lalu mengulurkan tangannya. “Septian, boleh dipanggil Tian.”
Sivia membalas uluran tangannya. “Sivia.” katanya singkat. Lalu masuklah seorang perempuan, itu bu guru mereka.
“Beri salaam!” teriak Sion. Serentak seisi kelas memberikan salam pada perempuan itu. Namanya Bu Romi.
Sion bukanlah ketua kelas, melainkan wakil ketua. Ketua sebenarnya adalah Angel, tapi dia bertugas cuma kalau title-nya MENGKOORDINASI KEGIATAN KELAS. tugas paling mudah ke mana mana buat
seorang ketua, di mana tugasnya cuma nyuruh nyuruh doang. Tapi kalo yang
lainnya, Angel udah ogah deh ngerjainnya, jadi dia suruh Sion buat gantiin.
(Sion-nya kok mau aja!)
“Selamat datang, anak-anak di semester baru.” kata Bunda Romi. “Kita kedatangan siswi baru, kalian sudah tahu?”
“Sudaaah.” kata beberapa anak serentak.
“Sudah kenal?” Tanya bu Romi.
“Beluuummm…” sekarang yang berseru lebih banyak.
“Sekarang, kamu Sivia, perkenalkan diri kamu pada teman-teman!”
Sivia berdiri dari kursinya, lalu melangkah pelan ke depan kelas, ke sebelah bu romi.
“Ehmm…” Sivia berdehem dan seisi kelas menatapnya, menenti kata-kata yang akan dikeluarkannya. “Gue Sivia Azizah, dipanggil Sivia atau Via, dari SMA Voundras.” katanya singkat, irit
kata, tepatnya, dia malas basa-basi ngga penting.
“Apa? Voundras? SMA-nya orang tajir tuh!” kata seorang siswa pelan.
“Voundras kan tempatnya anak-anak pejabat tuh?” bisaik siswa lain.
“Hmmm, banyak lho anaknya temen-temen papa gue yang sekolah di Voundras.” Angel juga ikut bicara. Temen-temen papanya, ya pastilah orang-orang berduit banyak dan punya
perusahaan sana sini.
Sivia mendnegar kalimat-kalimat itu. “Ehhmm..” Sivia berdehem lagi. “Ada pertanyaan?”
Semua diam menatap Sivia. Tapi kemudian beberapa siswa mengangkat tangan.
“Vi, kenapa lo pindah sih dari Voundras?” teriak Sion sambil berdiri.
“Gue ngga nyaman di sana!” seru Sivia gelagapan. “Ada lagi?” Sivia berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Sion, dia ngga mau seseorang tau tentang alasannya pindah ke VICAS.
“Rumah lo di mana?” tanya seorang anak.
“Bumi Intan.” jawab Sivia datar dan singkat.
“Lo punya kakak?” Lintar berseru.
“Iya gue punya.”
“Lo punya adik?” tanya Lintar lagi.
“Ngga!”
“Lo punya sahabat karib?”
“Ngga!” jawabnya ketus. “Lo ngga sekalian tanya gue punya tante, oma, opa, binatang pelihraan, boneka kesayangan, atau benda kenangan?” Sivia
mulai kesal.
Anak-anak di depannya cekikikan, dan Lintar hanya diam.
“SD-nya di mana?” seseorang mengajukan pertanyaan ngga penting, cewek dengan kuciran di belakang kepalanya, berkulit agak gelap dan terlihat tomboy.
“Apa pentingnya? Ngga usah deh.” kata Sivia agak ketus. Anak itu mengalah.
“Via, lo lahir bulan apa?” tanya Patton.
‘Aneh ni anak, kok nanya bulan lahir?’ batin Sivia. “Februari.” jawabnya datar (datar mlulu yah?).
“Nomor sepatu lo berapa?”
‘Hah?? Makin ngaco ni anak-anak!’ batin Sivia heran. “Eh, eh, ngga tau, gue ngga liatin nomornya.” katanya.
“Ehehe, gue rasa cukup. Makasih!” Sivia buru-buru duduk, walaupun bu Romi belum menyuruhnya. Dia ngga mau ditanyain ini itu yang lebih aneh karena dia males jawabnya.
“Ya, sudah, sekarang kalian keluarkan buku catatan. Kita akan merencanakan kegiatan kelas untuk menyambut ulang tahun sekolah kita tidak lama lagi.” kata Bu Romi.
-- bla bla bla --
*****
TEEETTTT (bel istirahat)
Bu Romi keluar dari kelas setelah memberi beberapa pengarahan untuk kelasnya.
“Vi, kantin yuk!” ajak Tian ke Sivia.
“Aduh… Gimana ya? Gue males ah, Yan!” Sivia mengeluarkan HP-nya dan memutar mp3 di dalamnya. “Lo aja ya sendiri.”
“Hey!” seseorang berseru berniat mengagetkan Tian dan Sivia. Tapi mereka sama sekali ngga kaget. “Loh kok diem sih?”
“Emang suruh gimana?” tanya Tian.
“Ya, kaget kek, loncat kek.” jawab Agni enteng.
“Haaaaaaaaaaahhhhh… Gue kaget, Ag!” kata Tian seakan akan kaget beneran. Gayanya lebay banget.
“Jayus lo!” kata Agni. “Eh, Sivia, gue Agni. Ke kantin yuk.” ajak Agni pada Sivia yang kini tengah mendengarkan mp3-nya.
Sivia menoleh sebentar, lalu berkata tanpa melepas handsfree-nya. “Males ah!” katanya singkat.
“Alaaaahh, ayo!” Agni menarik tangan Sivia, baru kali ini ada anak perempuan seberani ini pada Sivia, setelah Siti yang berani memukulnya. “Yuk, Tian!”
Tian mengikuti Agni yang terus menarik tangan Sivia. Sivia pun mengalah, dan tak mau berontak – dia tak mau buat masalah dan cari musuh, itu janjinya. Mereka menuju ke kantin.
“Shill, kapan kita labrak dia?” kata Zahra tak sabar. Mereka mengamati gerak gerik Sivia dari tadi.
“Ntar aja. Gue masih penasaran sama dia.” kata Shilla lemas, dia masih capek setelah menangis (hah, nangis aja capek!) “Kantin, yuk!”
@ kantin
“gue benci elo! selamanya benci elo” sebuah suara terngiang di pikiran Cakka, entah dari mana.
Selama ini Cakka terus-terusan diganggu kata-kata itu, di mimpinya, di setiap lamunannya, dan di setiap saat dia sendiri pasti ada suara itu. Anehnya, Cakka tak tahu suara siapa itu,
suaranya lembut tapi menyimpan kebencian yang besar.
Dia selalu melamun sejak papanya meninggal, tapi suara itu selalu darang. Sekarang dia ada di kantin, duduk di bangku orange dan tangan kirinya menopang dagu sementara tangan kanannya
mengaduk aduk mie ayam pesanannya tadi. Melamun. Alvin ada di sebelahnya,
memainkan BB-nya sambil menyeruput jus jeruknya.
“Woy, Vin!” tegor Rio yang baru datang.
“Hey!” ucap Alvin datar tanpa menatap Rio.
Rio melihat Cakka yang ngelamun lagi, dia menghela napas. “Vin?”
“Hah.” Alvin masih sibuk BBM-an.
“Vin?” panggil Rio sekali lagi, lebih keras.
“Apa?” Alvin masih menatap layer HP-nya tanpa mempedulikan Rio.
“Alviiin!” panggil Rio kesal, sambil memukul bahu Alvin.
“Apaan sih, Yo?” Alvin geram, tiga kali saudah bahunya dipikul hari ini.
Rio menunjuk Cakka dan memasang muka bingung. Cakka masih ngelamun. Alvin mendengus, lalu menghela napas pendek.
“Lo kaya ngga tau dia aja, Yo, Yo!” ucap Alvin tanpa ekspresi, kembali ke HP-nya. “Udah ngga usah dipusingin, dia biasa gitu kan?” kata Alvin.
“Lo jahat banget, Vin. Kalo dia kena penyakit apa apa gimana?” Rio mengambil jus jeruk Alvin dan menyeruputnya sampai habis.
Alvin yang sadar jusnya dihabiskan Rio langsung berpaling menatap Rio taja. “Ada juga lo yang jahat, Yo! Jus gue lo abisin, dasar Mario ngga modal. Ganti ngga?” Alvin melotot.
“Berbagi dong Vin!” kata Rio polos. “Apa yang ku rasakan, kuingin engkau tau, KITA BERBAGI BERSAMA.” Rio menyanyikan lagu Buka Semangat Baru, lagu kesukaan Alvin.
“Ngeles lo! Lagu gue lo bawa-bawa lagi.” Alvin sewot.
@ meja lain
“Lo mau apa Vi?”
“Bakso dong, Tian! Tapi ngga pake bawang goreng.” Agni menyahut.
“Gue nawarin Sivia, neng. Bukan lo!” kata Tian.
“Ada siomay ngga di sini?” tanya Sivia.
“Ada kok. Lo mau siomay?” tanya Tian. Sivia mengangguk cepat. Tian lalu pergi memesan makanan.
“Tian, bakso!” teriak Agni.
“Iya bawel!” seru Tian terus berjalan. Dia lalu memesan makanan dan kembali duduk.
“Vi, lo kok bisa pindah ke VICAS sih, kayaknya enakan di Voundras deh!” Septian memulai pembicaraan.
Sivia bingung bagaimana menjelaskannya. Dia diam.
@ meja Alvin – Rio – Cakka
“Yah… Jangan marah dong, Vin.” Rio tersenyum dan menaik turunkan alisnya. “Alvin cakep deh!”
Alvin melirik Rio di sampingnya dan mengkerutlah dahinya. “Sumpah deh Yo, gue masih normal.” kata Alvin ketakutan.
“Yeee, maksud lo apaan?” kata Rio.
“Yah elo ngapa baru sekarang bilang gue cakep padahal udah dari dulu?” kata Alvin sambil menatap Rio. (iihiy koko narsis…^.^) “Haaa, lo mau gue beliin makan ya sampe ngerayu gitu? Ogah!”
“Ah, Alvin, jangan gitu dong. Ntar gantengnya ilang…” rayu Rio.
“Daripada lo cape ngerayu gue, mending lo ambil noh!” Alvin menunjuk mie ayam di depan Cakka. “Dia ngga bakal tau kalo lo ambil mie-nya. Gih sonoh!”
Rio diam-diam melihat muka Cakka, pandangannya entah kabur ke mana, tatapannya kosong. Rio tersenyum, lalu pelan-pelan tangannya mendekati mangkok Cakka. Tapi tanpa diduga, Cakka memukul
tangannya.
“Aduh!” kata Rio kesakitan plus kaget. Dilihatnya Alvin cekikikan puas.
“Ngapain lo Yo?” kata Cakka.
“Gue disuruh Alvin, Cak.” jawab Rio enteng.
“Eh, gue kok dibawa bawa. Engga engga, dia yang pengen.” Alvin membela diri.
“Gue beliin deh. Mau apaan lo?” Cakka menawarkan diri.
“Siomay dong, Cak.” Alvin berseru.
“Woy, Cakka nawarin gue, dodol! Bukan elo.” protes Rio. “Mie goreng aja deh gue, sama ambilin teh botol satu. GPL ya?”
“Berapa biji siomay-nya Vin?” tanya Cakka pelan.
“Terserah lo aja.” kata Alvin sambil memainkan HP-nya lagi.
Cakka lalu beranjak dari tempatnya menuju ibu-ibu kantin. Dia memesan pesanan Rio dan Alvin, lalu mengambil dua teh botol dan mengacungkannya ke ibu-ibu kantin tadi, lalu kembali ke mejanya
daripada menunggu lama.
@ meja Sivia – Tian – Agni
“Hah? Ehhh…” Sivia bingung mau jawab apa. “Ehh, itu..”
“Ah eh ah eh! Apaan?” Tian penasaran.
“Ehhh, guee..” Sivia mencoba tenang. “Gue keluar sebelum dikeluarin.” kata Sivia sambil mengangkat bahu.
“Maksudnya?” Tian bingung. Agni diem aja.
“Sebelum gue didepak keluar, gue mendingan ngundurun diri dari sana.” kata Sivia.
“Kenapa lo harus dikeluarin? Lo nakal?”
“Gitu deh. Gue sering berantem, pukul-pukulan, bikin masalah sama siswa, guru, satpam…” jawab Sivia enteng tanpa beban. “Lo percaya ngga? Sebelum di Voundras, gue di SMA Bakti…” Sivia mulai
enteng, tak terlalu segan untuk bercerita.
“Hah? SMA yang ketat banget itu ya?” Agni tiba-tiba nimbrung.
“Yup bener!” seru Sivia. “Papa mau gue jadi anak yang bener setelah lulus SMP jadi dia masukin gue ke SMA Bakti, eh, malah gue tambah nakal.”
“Ngapain aja lo?”
“Lupa deh apa aja yang gue lakuin di sana. Tapi yang gue inget, gue sempet ngerjain satpam. Gue gunting gunting celananya jadi kaya penyanyi dangdut.”
“Hahahaha… Sadis lo Vi!” kata Tian sambil tertawa.
“Abisnya dia laporin gue ke guru BP karena gue suka manjat manjat pager sekolahan.” Sivia tersenyum sendiri.
“Ngapain lo panjat?” tanya Agni. Tian ngga bisa berhenti ngakak.
“Gue berangkat telat, dan gerbangnya udah ditutup sama satpam itu, ya udah gue panjat aja tuh pager.” kata Sivia sambil geleng-geleng kepala. “Gara-gara satpam itu, gue dihukum
suruh nyuci piring bekas anak anak makan di kantin selama sebulan.”
Tian dan Agni ngakak bener-bener mendengar cerita Sivia. Sivia hanya tersenyum memandangi kedua temannya.
“Oh, iya!” seru Tian tiba-tiba. “Gue lupa bilang bakso lo jangan dikasih bawang goreng.” Tian menatap Agni.
“Oh, biar gue aja yang bilang.” Sivia bangkit dari duduknya dan menuju ibu-ibu kantin.
“Bu, tadi bakso pesenannta Tian ngga usah dikasih bawang goreng ya?” kata Sivia pelan sambil menunjuk Tian. Ibu itu mengangguk. “Oh, iya bu! Siomay-nya udah?” Ibu itu menunjuk Siomay di depan
Sivia. Sivia lalu tersenyum dan mengambilnya.
Ibu itu sedang menuangkan kuah bakso, dan beberapa saat kemudian, dia menyerahkan mangkok bakso itu pada Sivia.
“Makasih bu!” ucap Sivia lembut lalu kembali ke Tian-Agni. “Nih.” katanya sambil menyodorkan bakso pada Agni.
“Bu, siomay sama mie gorengnya mana?” tanya Cakka pada Ibu kantin yang sedang sibuk meracik bakso.
“Itu.” dia menunjuk ke meja di mana terdapat mie goreng di sana.
“Lho, siomay-nya mana, bu?” Cakka meminta siomay pada Ibu itu.
“Abis, mas.” katanya.
“Tadi ibu-ibu itu bilang ada kok. Siomay terakhir buat saya.” Cakka menunjuk ibu-ibu lain di dekat situ.
“Tapi udah abis, Mas. Yang terakhir diambil sama mbak-mbak itu.” katanya menunjuk Sivia yang bersiap memakan siomay.
Cakka meninggalkan ibu-ibu tadi dan mendekati meja Sivia.
“Woy, balikin siomay gue.” ucap Cakka ketus.
Sivia yang sudah hampir menggigit siomay-nya lalu meletakkannya kembali. Dia menoleh ke sumber suara, dan kaget begitu melihat seseorang yang tadi pagi ditabraknya.
“Lo?” ucap mereka berbarengan.
“Sini balikin siomay gue!” Cakka semakin ketus begitu tahu cewek di depannya adalah yang membuatnya bete tadi pagi.
“Ini siomay gue, kok lo ngaku ngaku sih?”
“Gue dulu yang pesen itu siomay, sini!” Cakka merebut siomay dari tangan Sivia.
“Eh, ngga ada siapa pesen dulu dia yang dapat. Ada juga siapa cepat dia dapat. Dan gue dapet duluan!” bentak Sivia merebut kembali siomaynya.
“Rese banget lo jadi cewek?” Cakka mulai kesal. “Cari masalah aja lo!”
“Ada juga lo yang selalu gede-gedein masalah.” kata Sivia. “Kita bagi dua siomay-nya!”
“Ngga bisa, gue bayarnya full, dan gue mau siomay itu full.” kata Cakka melotot.
‘Ini anak ngeselin banget! Uhh, calm down Sivia, inget janji lo.’ batin Sivia.
“Gue yang bayar deh!” Sivia mencoba untuk tak memancing pertengkaran.
“Bukan masalah bayarnya, masalahnya gue dulu yang pesen.” bentak Cakka lagi.
Sivia menghela napas. “Oke, ambil ini siomay, dan lo pergi sekarang!”
Cakka tersenyum puas. “Nah, kayak gini dong dari tadi. Jadi gue kan ngga perlu negangin otot!” katanya. “Kalah deh lo!”
Cakka pergi, tapi sempat diliriknya Agni di sebelah Tian lalu tersenyum manis pada Agni.
“Eh, lo dibaikin ngga usah ngelunjak. Masih untung ngga gue pukul lo!” teriak Sivia lalu duduk lagi, dia berusaha menenangkan diri. Lalu dilihatnya cowok menyebalkan itu. Ternyata
cowok itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
‘Cowok aneh! Maunya apa sih?’ batin Sivia.
“Ada apa sih lo sama kak Cakka?” Tian langsung menginterogasi.
Sivia menggeleng cepat. “Ngga ada.” katanya singkat.
Agni nampak diam, entah apa yang harus dirasakannya. Marah karena temannya dibentak oleh Cakka, senang karena Cakka masih mau tersenyum padanya, atau sedih karena Cakka masih selalu
bersikap kasar. Agni melahap baksonya sekaligus tanpa memotongnya. Dia mencoba
tenang.
Sivia melihat wajah Cakka sekali lagi. Cakka kini duduk dengan Rio dan menatap Sivia. Sivia juga menatapnya. Dan sekali lagi ingatan itu muncul.
‘Namanya Cakka? Bukan. Ternyata Cakka bukan DIA! Semoga bukan DIA!’ batin Sivia. Hatinya ngilu membayangkan masa lalunya yang menyakitkan.
Sivia menunduk lesu. Tian menatap Sivia, Tian bingung akan perubahan emosi Sivia yang aneh. ‘Tadi dia gembira, lalu marah, dan sekarang nampak sangat tertekan. Kenapa dia?’ batin Tian.
‘Kak Cakka, kenapa kakak masih kasar? Apa kakak punya masalah?’ bisik Agni dalam hati.
“Aga…” bisik Sivia lirih, tak ada yang mendengarnya. Hanya dia sendiri yang mendnegarnya.
Sivia menyebut nama Aga? Siapa Aga sebenarnya? Apakah Aga itu orang di masa lalu Sivia? Adakah hubungannya Aga dengan Cakka?
Lalu, ada apa dengan Cakka dan Agni sebelumnya?
“Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa lembar kertas di tangannya, seakan akan mau jatuh lagi.
“Tau ah!” katanya kesal.
“Pagi pagi jangan bete gitu dong! Ntar fans lo kabur semua.” kata Alvin menggoda Cakka, dia merangkulnya. Mereka berjalan bersama di koridor menuju kelas.
“Peduli setan sama fans gue! Gue bete!” katanya ketus pada Alvin, seraya mempercepat langkahnya melepaskan rangkulan Alvin.
Alvin melongo, lalu mengejar Cakka yang meninggalkannya. “Eh, tunggu Cak!”
*****
@ kelas XI IPA I
Beberapa menit setelah bel masuk, bu guru belum datang ke kelas. Siswa-siswa masih rebut menceritakan tentang liburan semester mereka. Yah, maklum deh hari itu hari pertama di semester dua.
Ada yang cerita tentang natalan di Paris lah, liburan ke Bali lah, taun baruan
di Puncak lah, atau cerita-cerita lain yang intinya satu: PAMER. Biasanya,
Angel yang paling heboh cerita tentang liburan akhir taun plus taun baruan
bareng keluarganya, entah itu ke eropa, ke Australia, ke amerika, ke afrika, ke
antartika, ke jamaika :ngelantur: tapi sekarang Angel lagi sibuk sama Shilla,
jadi kelas ngga terlalu rame karena sorakan kekaguman pas Angel dongengin
liburannya.
Zahra dan Angel ada di dekat Shilla. Mereka tampak serius.
“Shill, masa kak Alvin boncengin cewek!” Zahra memulai pembicaraannya.
“Ah, masak sih?” Shilla biasa aja, sambil membuka halaman novel yang lagi dia baca.
“Ye, elo kita bilangin kaga percaya!” Angel duduk di samping Shilla.
Shilla hanya meringis. “Lagian ngapa juga kalo kak Alvin boncengin cewek?”
“Ih, Shill, lo ngga jealous apa? Kayaknya itu pacarnya kak Alvin deh.” Zahra mulai memancing.
Shilla hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Apaan sih kalian?”
Angel gantian geleng-geleng. “Ckckck, ini anak dodol ya? Kalo itu beneran pacarnya kak Alvin gimana? Lo rela?”
“Ngga mungkin lah kak Alvin punya cewek, kak Alvinnya kan cuek, jutek, dingin dan ngga ada romantis-romantisnya sama cewek.” kata Shilla mengejutkan kedua sahabatnya.
“Widih, lo kok jadi jelek-jelekin dia?” Angel kaget.
“Ya engga juga, kan kenyataannya gitu, dan cuma gue yang bakal berhasil menghancurkan semua sifat sifat itu karena gue yang paling sabar ngadepin kak Alvin.” Shilla mesem mesem sendiri
sambil menatap novel teenlit yang dipegangnya. Dia kepedean banget.
“Aduuuuh, temen gue yang satu ini tambah dongo ya? Lo belum liat aja sih ceweknya!” kata Zahra duduk di bangkunya, di depan meja Shilla-Angel.
“Shill, dengerin kita!” Angel merebut novel yang Shilla baca.
“Iih, apaan sih lo Ngel? Balikin!” rengek Shilla.
“Lo dengerin deh makannya.” kata Angel. “Tadi, kak Alvin beneran ngeboncengin cewek dan…”
“Dan, itu mamanya kali mau ke mana gitu.” kata Shilla. Dia ngga mau ngurusin kabar tentang kak Alvin dari kedua sahabatnya, dia memutuskan untuk keluar kelas. (mau kemana coba?)
“Oh, iya! Bener juga lo, mamanya kak Alvin mungkin lagi ganti style fashionnya, dan sekarang pake seragam SMA VICAS dan bawa tas sekolah, ya?” teriak Zahra agar Shilla mendengarnya.
“Apa lo bilang, Ra? Mamanya Alvin sekolah di sini? Lho, bukannya dia ngantor ya?” kata Shilla menghampiri temannya. (dongonya kumat)
“Shill, gue tau lo cinta mati sama kak Alvin, tapi lo jangan jadi dongo gini dong!” Zahra menatap Shilla kesal.
“Ih, apaan sih lu Ra!” Shilla mulai manyun. “Ngel, gimana gimana certain!” sekarang Shilla ngebet pengen tau.
“Cewek itu kayanya sekolah di sini, deh! Tapi gue ngga tau dia kakak kelas, ato adek kelas. Ato mungkin juga satu angkatan sama kita.” jelas Angel.
“Gue liat kak Alvin ngegandeng tangannya gitu pas turun dari motor. Ih, nyebelin banget tau ngga?” kata Zahra membuat Shilla panas. “Mereka jalan juga gandengan tangan, Shill. Bayangin!”
Shilla makin panas. Perasaannya kini tak karuan, dia merasa mendidih.
Angel mengangguk setuju. “Sumpah deh Shill, gue liat pake mata gue sendiri, ngga ada rekayasa, ngga ada manipulasi, ngga ada kebohongan, ngga ada penipuan, ngga ada…”
“Stop, Ngel! Biasa ajeh ngomongnya. Shilla tambah panas kalo lo menggebu-gebu gitu.” Zahra memotong kata-kata Angel yang kayak kereta. tuut… tuut… (?)
Shilla sendiri terlihat manyun dan matanya terasa panas saat Angel dan Zahra mengabarkan kabar teraktual dari Alvin, cowok dingin plus cuek tapi keren yang Shilla suka.
“Kak Alviiiiiiiiiiiiinnnnnn!!!” jerit Shilla sangat keras sehingga setelahnya kelas yang tadinya rame kaya pasar tanah abang menjadi sepi kayak kuburan jeruk purut.
Dan semua mata tertuju pada Shilla.
“Kenape lo Shill?” Tanya Irsyad yang sedang membersihkan papan tulis.
“Eehhh, engga engga. Ngga papa, kalian lanjutin aja diskusinya, ya? Oke?” Zahra panik, dia menenangkan seisi kelas yang kaget lalu mencoba menenangkan Shilla, dia mengajaknya duduk.
Semua mata lalu berpaling dari Shilla, mengurusi urusan masing-masing. Sion, anak paling rame di kelas melirik jam tangannya. -----> 07:14:52
“tujuh, enam, lima, empat, tiga.” kata Sion lagi. “dua… satu…”
‘tok tok tok tok tok’. lima kali pintu diketuk
“bu guru woy, bu guru!” teriak Sion begitu mendengar suara ketukan di pintu kelas. semua anak langsung siap siaga mengambil posisi dan tiarap (hah? ngga ngga, yang terakhir engga!) di
bangku mereka masing-masing.
Zahra masih menenangkan Shilla yang sesenggukan bersama Angel yang duduk sebangku, di belakang tempatnya duduk bersama Irsyad.
‘tok tok tok’ pintu diketuk lagi.
‘loh, kok bu guru ngga masuk-masuk si?’ batin Sion. Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu.
‘crrreeeeeeeettttttt’ (Q: kaya suara pintu dibuka, ya? A: iya.) pintu dibuka oleh seseorang di luar. Semua siswa diam, menanti siapa yang masuk, apa itu bu guru wali kelas mereka atau
bukan.
Seorang perempuan masuk dan memandang seisi kelas dengan tatapan polos. Siswa-siswa masih diam, namun beberapa saat kemudian…
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhh!” seisi kelas menyoraki perempuan itu. Kecuali Sion, Shilla, Angel dan Zahra yang masih menatap wajah perempuan di depan kelas mereka.
‘Kok nyorakin? Gila ni kelas!’ batin Sivia. Lalu dia melihat Sion yang tersenyum ke arahnya. Sivia membalas senyumnya dengan tersenyum simpul.
Kelas kembali ramai, entah membicarakan Sivia, atau kembali ke dongeng-dongeng liburan.
‘Heuuh? Ngga ada penyambutan anak baru, ya?’ batin Sivia.
“Ehm, lo anak baru, ya?” kata Sion mendekati Sivia yang masih berdiri. Sivia mengangguk.
“Bener ini kelas XI IPA I? Gue ngga salah masuk kan?”
Sion senyum senyum sendiri.
“Kenapa lo? Sakit gigi?”
“Kaga! Lo udah liat, kan di pintu ada tulisan XI IPA I? katanya. Sivia hanya tersenyum.
“Lo ngga ngasih gue tempat duduk, nih?” Tanya Sivia.
“Oh, iya. Eh, lo udaah…”
Sivia memotong seketika “Udah. Gue udah ke Bu Ira, dan katanya gue suruh masuk kelas aja.” Sion mengangguk. “Mana kursi gue? Gue capek nih!”
Sivia mulai bersikap dingin.
Sion mengajak Sivia ke kursinya. Di sudut lain, Trio Centil (Angel, Shilla, Zahra) bisik-bisik.
“Shill, liat tu cewek!” kata Zahra. Shilla memandang Sivia dengan mata yang masih basah air mata.
“Dia yang diboncengin kak Alvin, Shill!” kata Angel dan itu membuat Shilla semakin parah. Dia terus menangis dengan menutup matanya. Irsyad di sebelah Zahra sempat melirik, dan langsung
membuang muka begitu Angel melototinya.
“Tian, lo pindah gih ke Lintar! Biar Zeva sama dia.” kata Sion sambil menunjuk ke arah Sivia.
“Ih, apa apaan lo hah? Engga deh, gue ngga mau di depan!” kata Septian bersikukuh memegangi tasnya.
“Ngalah dong sama anak baru lo!” ucap Sion.
“Kaga bisa!” Septian tetap pada pendiriannya.
“Lo nyari ribut?” Sion emosi (halah, kenapa ni bocah pakek emosi segala?)
“Ngapa sih lo, Ion, pakek emosi segala?” Septian kesal.
“Hussssssss udah udah, ngapa juga pada ribut. Biar gue yang ke Lintar.” kata Zevana sambil membawa tas warna ungu-nya dan meletakkannya di meja sebelah lintar.
“Nah, sekarang lo duduk di sini!” kata Sion.
Sivia melangkah pelan menuju meja yang tadi milik Zevana. Lalu dia meletakkan tas hitamnya di atas meja, lalu duduk di kursi di sebelah Septian.
“Pergi lo, masalah lo selesai, kan Ion?” kata Septian mengusir.
Sion hanya melotot ke arah Septian, lalu pergi ke bangkunya.
Septian senyum senyum, jarang-jarang ada perempuan yang duduk sebangku dengannya. Sivia melihatnya, dahinya berkerut.
“Kenapa lo senyum senyum gitu? Ngga lagi sakit perut kan lo?” kata Sivia lalu geleng-geleng kepala.
“Engga lah!” kata Septian lalu mengulurkan tangannya. “Septian, boleh dipanggil Tian.”
Sivia membalas uluran tangannya. “Sivia.” katanya singkat. Lalu masuklah seorang perempuan, itu bu guru mereka.
“Beri salaam!” teriak Sion. Serentak seisi kelas memberikan salam pada perempuan itu. Namanya Bu Romi.
Sion bukanlah ketua kelas, melainkan wakil ketua. Ketua sebenarnya adalah Angel, tapi dia bertugas cuma kalau title-nya MENGKOORDINASI KEGIATAN KELAS. tugas paling mudah ke mana mana buat
seorang ketua, di mana tugasnya cuma nyuruh nyuruh doang. Tapi kalo yang
lainnya, Angel udah ogah deh ngerjainnya, jadi dia suruh Sion buat gantiin.
(Sion-nya kok mau aja!)
“Selamat datang, anak-anak di semester baru.” kata Bunda Romi. “Kita kedatangan siswi baru, kalian sudah tahu?”
“Sudaaah.” kata beberapa anak serentak.
“Sudah kenal?” Tanya bu Romi.
“Beluuummm…” sekarang yang berseru lebih banyak.
“Sekarang, kamu Sivia, perkenalkan diri kamu pada teman-teman!”
Sivia berdiri dari kursinya, lalu melangkah pelan ke depan kelas, ke sebelah bu romi.
“Ehmm…” Sivia berdehem dan seisi kelas menatapnya, menenti kata-kata yang akan dikeluarkannya. “Gue Sivia Azizah, dipanggil Sivia atau Via, dari SMA Voundras.” katanya singkat, irit
kata, tepatnya, dia malas basa-basi ngga penting.
“Apa? Voundras? SMA-nya orang tajir tuh!” kata seorang siswa pelan.
“Voundras kan tempatnya anak-anak pejabat tuh?” bisaik siswa lain.
“Hmmm, banyak lho anaknya temen-temen papa gue yang sekolah di Voundras.” Angel juga ikut bicara. Temen-temen papanya, ya pastilah orang-orang berduit banyak dan punya
perusahaan sana sini.
Sivia mendnegar kalimat-kalimat itu. “Ehhmm..” Sivia berdehem lagi. “Ada pertanyaan?”
Semua diam menatap Sivia. Tapi kemudian beberapa siswa mengangkat tangan.
“Vi, kenapa lo pindah sih dari Voundras?” teriak Sion sambil berdiri.
“Gue ngga nyaman di sana!” seru Sivia gelagapan. “Ada lagi?” Sivia berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Sion, dia ngga mau seseorang tau tentang alasannya pindah ke VICAS.
“Rumah lo di mana?” tanya seorang anak.
“Bumi Intan.” jawab Sivia datar dan singkat.
“Lo punya kakak?” Lintar berseru.
“Iya gue punya.”
“Lo punya adik?” tanya Lintar lagi.
“Ngga!”
“Lo punya sahabat karib?”
“Ngga!” jawabnya ketus. “Lo ngga sekalian tanya gue punya tante, oma, opa, binatang pelihraan, boneka kesayangan, atau benda kenangan?” Sivia
mulai kesal.
Anak-anak di depannya cekikikan, dan Lintar hanya diam.
“SD-nya di mana?” seseorang mengajukan pertanyaan ngga penting, cewek dengan kuciran di belakang kepalanya, berkulit agak gelap dan terlihat tomboy.
“Apa pentingnya? Ngga usah deh.” kata Sivia agak ketus. Anak itu mengalah.
“Via, lo lahir bulan apa?” tanya Patton.
‘Aneh ni anak, kok nanya bulan lahir?’ batin Sivia. “Februari.” jawabnya datar (datar mlulu yah?).
“Nomor sepatu lo berapa?”
‘Hah?? Makin ngaco ni anak-anak!’ batin Sivia heran. “Eh, eh, ngga tau, gue ngga liatin nomornya.” katanya.
“Ehehe, gue rasa cukup. Makasih!” Sivia buru-buru duduk, walaupun bu Romi belum menyuruhnya. Dia ngga mau ditanyain ini itu yang lebih aneh karena dia males jawabnya.
“Ya, sudah, sekarang kalian keluarkan buku catatan. Kita akan merencanakan kegiatan kelas untuk menyambut ulang tahun sekolah kita tidak lama lagi.” kata Bu Romi.
-- bla bla bla --
*****
TEEETTTT (bel istirahat)
Bu Romi keluar dari kelas setelah memberi beberapa pengarahan untuk kelasnya.
“Vi, kantin yuk!” ajak Tian ke Sivia.
“Aduh… Gimana ya? Gue males ah, Yan!” Sivia mengeluarkan HP-nya dan memutar mp3 di dalamnya. “Lo aja ya sendiri.”
“Hey!” seseorang berseru berniat mengagetkan Tian dan Sivia. Tapi mereka sama sekali ngga kaget. “Loh kok diem sih?”
“Emang suruh gimana?” tanya Tian.
“Ya, kaget kek, loncat kek.” jawab Agni enteng.
“Haaaaaaaaaaahhhhh… Gue kaget, Ag!” kata Tian seakan akan kaget beneran. Gayanya lebay banget.
“Jayus lo!” kata Agni. “Eh, Sivia, gue Agni. Ke kantin yuk.” ajak Agni pada Sivia yang kini tengah mendengarkan mp3-nya.
Sivia menoleh sebentar, lalu berkata tanpa melepas handsfree-nya. “Males ah!” katanya singkat.
“Alaaaahh, ayo!” Agni menarik tangan Sivia, baru kali ini ada anak perempuan seberani ini pada Sivia, setelah Siti yang berani memukulnya. “Yuk, Tian!”
Tian mengikuti Agni yang terus menarik tangan Sivia. Sivia pun mengalah, dan tak mau berontak – dia tak mau buat masalah dan cari musuh, itu janjinya. Mereka menuju ke kantin.
“Shill, kapan kita labrak dia?” kata Zahra tak sabar. Mereka mengamati gerak gerik Sivia dari tadi.
“Ntar aja. Gue masih penasaran sama dia.” kata Shilla lemas, dia masih capek setelah menangis (hah, nangis aja capek!) “Kantin, yuk!”
@ kantin
“gue benci elo! selamanya benci elo” sebuah suara terngiang di pikiran Cakka, entah dari mana.
Selama ini Cakka terus-terusan diganggu kata-kata itu, di mimpinya, di setiap lamunannya, dan di setiap saat dia sendiri pasti ada suara itu. Anehnya, Cakka tak tahu suara siapa itu,
suaranya lembut tapi menyimpan kebencian yang besar.
Dia selalu melamun sejak papanya meninggal, tapi suara itu selalu darang. Sekarang dia ada di kantin, duduk di bangku orange dan tangan kirinya menopang dagu sementara tangan kanannya
mengaduk aduk mie ayam pesanannya tadi. Melamun. Alvin ada di sebelahnya,
memainkan BB-nya sambil menyeruput jus jeruknya.
“Woy, Vin!” tegor Rio yang baru datang.
“Hey!” ucap Alvin datar tanpa menatap Rio.
Rio melihat Cakka yang ngelamun lagi, dia menghela napas. “Vin?”
“Hah.” Alvin masih sibuk BBM-an.
“Vin?” panggil Rio sekali lagi, lebih keras.
“Apa?” Alvin masih menatap layer HP-nya tanpa mempedulikan Rio.
“Alviiin!” panggil Rio kesal, sambil memukul bahu Alvin.
“Apaan sih, Yo?” Alvin geram, tiga kali saudah bahunya dipikul hari ini.
Rio menunjuk Cakka dan memasang muka bingung. Cakka masih ngelamun. Alvin mendengus, lalu menghela napas pendek.
“Lo kaya ngga tau dia aja, Yo, Yo!” ucap Alvin tanpa ekspresi, kembali ke HP-nya. “Udah ngga usah dipusingin, dia biasa gitu kan?” kata Alvin.
“Lo jahat banget, Vin. Kalo dia kena penyakit apa apa gimana?” Rio mengambil jus jeruk Alvin dan menyeruputnya sampai habis.
Alvin yang sadar jusnya dihabiskan Rio langsung berpaling menatap Rio taja. “Ada juga lo yang jahat, Yo! Jus gue lo abisin, dasar Mario ngga modal. Ganti ngga?” Alvin melotot.
“Berbagi dong Vin!” kata Rio polos. “Apa yang ku rasakan, kuingin engkau tau, KITA BERBAGI BERSAMA.” Rio menyanyikan lagu Buka Semangat Baru, lagu kesukaan Alvin.
“Ngeles lo! Lagu gue lo bawa-bawa lagi.” Alvin sewot.
@ meja lain
“Lo mau apa Vi?”
“Bakso dong, Tian! Tapi ngga pake bawang goreng.” Agni menyahut.
“Gue nawarin Sivia, neng. Bukan lo!” kata Tian.
“Ada siomay ngga di sini?” tanya Sivia.
“Ada kok. Lo mau siomay?” tanya Tian. Sivia mengangguk cepat. Tian lalu pergi memesan makanan.
“Tian, bakso!” teriak Agni.
“Iya bawel!” seru Tian terus berjalan. Dia lalu memesan makanan dan kembali duduk.
“Vi, lo kok bisa pindah ke VICAS sih, kayaknya enakan di Voundras deh!” Septian memulai pembicaraan.
Sivia bingung bagaimana menjelaskannya. Dia diam.
@ meja Alvin – Rio – Cakka
“Yah… Jangan marah dong, Vin.” Rio tersenyum dan menaik turunkan alisnya. “Alvin cakep deh!”
Alvin melirik Rio di sampingnya dan mengkerutlah dahinya. “Sumpah deh Yo, gue masih normal.” kata Alvin ketakutan.
“Yeee, maksud lo apaan?” kata Rio.
“Yah elo ngapa baru sekarang bilang gue cakep padahal udah dari dulu?” kata Alvin sambil menatap Rio. (iihiy koko narsis…^.^) “Haaa, lo mau gue beliin makan ya sampe ngerayu gitu? Ogah!”
“Ah, Alvin, jangan gitu dong. Ntar gantengnya ilang…” rayu Rio.
“Daripada lo cape ngerayu gue, mending lo ambil noh!” Alvin menunjuk mie ayam di depan Cakka. “Dia ngga bakal tau kalo lo ambil mie-nya. Gih sonoh!”
Rio diam-diam melihat muka Cakka, pandangannya entah kabur ke mana, tatapannya kosong. Rio tersenyum, lalu pelan-pelan tangannya mendekati mangkok Cakka. Tapi tanpa diduga, Cakka memukul
tangannya.
“Aduh!” kata Rio kesakitan plus kaget. Dilihatnya Alvin cekikikan puas.
“Ngapain lo Yo?” kata Cakka.
“Gue disuruh Alvin, Cak.” jawab Rio enteng.
“Eh, gue kok dibawa bawa. Engga engga, dia yang pengen.” Alvin membela diri.
“Gue beliin deh. Mau apaan lo?” Cakka menawarkan diri.
“Siomay dong, Cak.” Alvin berseru.
“Woy, Cakka nawarin gue, dodol! Bukan elo.” protes Rio. “Mie goreng aja deh gue, sama ambilin teh botol satu. GPL ya?”
“Berapa biji siomay-nya Vin?” tanya Cakka pelan.
“Terserah lo aja.” kata Alvin sambil memainkan HP-nya lagi.
Cakka lalu beranjak dari tempatnya menuju ibu-ibu kantin. Dia memesan pesanan Rio dan Alvin, lalu mengambil dua teh botol dan mengacungkannya ke ibu-ibu kantin tadi, lalu kembali ke mejanya
daripada menunggu lama.
@ meja Sivia – Tian – Agni
“Hah? Ehhh…” Sivia bingung mau jawab apa. “Ehh, itu..”
“Ah eh ah eh! Apaan?” Tian penasaran.
“Ehhh, guee..” Sivia mencoba tenang. “Gue keluar sebelum dikeluarin.” kata Sivia sambil mengangkat bahu.
“Maksudnya?” Tian bingung. Agni diem aja.
“Sebelum gue didepak keluar, gue mendingan ngundurun diri dari sana.” kata Sivia.
“Kenapa lo harus dikeluarin? Lo nakal?”
“Gitu deh. Gue sering berantem, pukul-pukulan, bikin masalah sama siswa, guru, satpam…” jawab Sivia enteng tanpa beban. “Lo percaya ngga? Sebelum di Voundras, gue di SMA Bakti…” Sivia mulai
enteng, tak terlalu segan untuk bercerita.
“Hah? SMA yang ketat banget itu ya?” Agni tiba-tiba nimbrung.
“Yup bener!” seru Sivia. “Papa mau gue jadi anak yang bener setelah lulus SMP jadi dia masukin gue ke SMA Bakti, eh, malah gue tambah nakal.”
“Ngapain aja lo?”
“Lupa deh apa aja yang gue lakuin di sana. Tapi yang gue inget, gue sempet ngerjain satpam. Gue gunting gunting celananya jadi kaya penyanyi dangdut.”
“Hahahaha… Sadis lo Vi!” kata Tian sambil tertawa.
“Abisnya dia laporin gue ke guru BP karena gue suka manjat manjat pager sekolahan.” Sivia tersenyum sendiri.
“Ngapain lo panjat?” tanya Agni. Tian ngga bisa berhenti ngakak.
“Gue berangkat telat, dan gerbangnya udah ditutup sama satpam itu, ya udah gue panjat aja tuh pager.” kata Sivia sambil geleng-geleng kepala. “Gara-gara satpam itu, gue dihukum
suruh nyuci piring bekas anak anak makan di kantin selama sebulan.”
Tian dan Agni ngakak bener-bener mendengar cerita Sivia. Sivia hanya tersenyum memandangi kedua temannya.
“Oh, iya!” seru Tian tiba-tiba. “Gue lupa bilang bakso lo jangan dikasih bawang goreng.” Tian menatap Agni.
“Oh, biar gue aja yang bilang.” Sivia bangkit dari duduknya dan menuju ibu-ibu kantin.
“Bu, tadi bakso pesenannta Tian ngga usah dikasih bawang goreng ya?” kata Sivia pelan sambil menunjuk Tian. Ibu itu mengangguk. “Oh, iya bu! Siomay-nya udah?” Ibu itu menunjuk Siomay di depan
Sivia. Sivia lalu tersenyum dan mengambilnya.
Ibu itu sedang menuangkan kuah bakso, dan beberapa saat kemudian, dia menyerahkan mangkok bakso itu pada Sivia.
“Makasih bu!” ucap Sivia lembut lalu kembali ke Tian-Agni. “Nih.” katanya sambil menyodorkan bakso pada Agni.
“Bu, siomay sama mie gorengnya mana?” tanya Cakka pada Ibu kantin yang sedang sibuk meracik bakso.
“Itu.” dia menunjuk ke meja di mana terdapat mie goreng di sana.
“Lho, siomay-nya mana, bu?” Cakka meminta siomay pada Ibu itu.
“Abis, mas.” katanya.
“Tadi ibu-ibu itu bilang ada kok. Siomay terakhir buat saya.” Cakka menunjuk ibu-ibu lain di dekat situ.
“Tapi udah abis, Mas. Yang terakhir diambil sama mbak-mbak itu.” katanya menunjuk Sivia yang bersiap memakan siomay.
Cakka meninggalkan ibu-ibu tadi dan mendekati meja Sivia.
“Woy, balikin siomay gue.” ucap Cakka ketus.
Sivia yang sudah hampir menggigit siomay-nya lalu meletakkannya kembali. Dia menoleh ke sumber suara, dan kaget begitu melihat seseorang yang tadi pagi ditabraknya.
“Lo?” ucap mereka berbarengan.
“Sini balikin siomay gue!” Cakka semakin ketus begitu tahu cewek di depannya adalah yang membuatnya bete tadi pagi.
“Ini siomay gue, kok lo ngaku ngaku sih?”
“Gue dulu yang pesen itu siomay, sini!” Cakka merebut siomay dari tangan Sivia.
“Eh, ngga ada siapa pesen dulu dia yang dapat. Ada juga siapa cepat dia dapat. Dan gue dapet duluan!” bentak Sivia merebut kembali siomaynya.
“Rese banget lo jadi cewek?” Cakka mulai kesal. “Cari masalah aja lo!”
“Ada juga lo yang selalu gede-gedein masalah.” kata Sivia. “Kita bagi dua siomay-nya!”
“Ngga bisa, gue bayarnya full, dan gue mau siomay itu full.” kata Cakka melotot.
‘Ini anak ngeselin banget! Uhh, calm down Sivia, inget janji lo.’ batin Sivia.
“Gue yang bayar deh!” Sivia mencoba untuk tak memancing pertengkaran.
“Bukan masalah bayarnya, masalahnya gue dulu yang pesen.” bentak Cakka lagi.
Sivia menghela napas. “Oke, ambil ini siomay, dan lo pergi sekarang!”
Cakka tersenyum puas. “Nah, kayak gini dong dari tadi. Jadi gue kan ngga perlu negangin otot!” katanya. “Kalah deh lo!”
Cakka pergi, tapi sempat diliriknya Agni di sebelah Tian lalu tersenyum manis pada Agni.
“Eh, lo dibaikin ngga usah ngelunjak. Masih untung ngga gue pukul lo!” teriak Sivia lalu duduk lagi, dia berusaha menenangkan diri. Lalu dilihatnya cowok menyebalkan itu. Ternyata
cowok itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
‘Cowok aneh! Maunya apa sih?’ batin Sivia.
“Ada apa sih lo sama kak Cakka?” Tian langsung menginterogasi.
Sivia menggeleng cepat. “Ngga ada.” katanya singkat.
Agni nampak diam, entah apa yang harus dirasakannya. Marah karena temannya dibentak oleh Cakka, senang karena Cakka masih mau tersenyum padanya, atau sedih karena Cakka masih selalu
bersikap kasar. Agni melahap baksonya sekaligus tanpa memotongnya. Dia mencoba
tenang.
Sivia melihat wajah Cakka sekali lagi. Cakka kini duduk dengan Rio dan menatap Sivia. Sivia juga menatapnya. Dan sekali lagi ingatan itu muncul.
‘Namanya Cakka? Bukan. Ternyata Cakka bukan DIA! Semoga bukan DIA!’ batin Sivia. Hatinya ngilu membayangkan masa lalunya yang menyakitkan.
Sivia menunduk lesu. Tian menatap Sivia, Tian bingung akan perubahan emosi Sivia yang aneh. ‘Tadi dia gembira, lalu marah, dan sekarang nampak sangat tertekan. Kenapa dia?’ batin Tian.
‘Kak Cakka, kenapa kakak masih kasar? Apa kakak punya masalah?’ bisik Agni dalam hati.
“Aga…” bisik Sivia lirih, tak ada yang mendengarnya. Hanya dia sendiri yang mendnegarnya.
Sivia menyebut nama Aga? Siapa Aga sebenarnya? Apakah Aga itu orang di masa lalu Sivia? Adakah hubungannya Aga dengan Cakka?
Lalu, ada apa dengan Cakka dan Agni sebelumnya?
Langganan:
Komentar (Atom)
