Powered By Blogger

Entri Populer

Minggu, 06 Februari 2011

Tempat Yang Paling Indah part 5

by : tia (http://facebook/tiantium)


Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung pergi menuju tas Gabriel yang tergeletak di dekat situ. “Oleh-olehnya di mana kak?”


Gabriel tersenyum malu, “Ahh… Lo pasti tahu lah, gue ngga bakal pernah lupain dia, Zy, ngga akan pernah!” jawab Gabriel mantap, lalu tiduran lagi. “Kenapa emangnya?”


“Engga apa apa…” jawab Ozy. “Mana deh oleh-olehnya? Kok ngga ada di tas? Ooh, di koper ya?” Ozy buru-buru menyambar koper Gabriel, namun Gabriel cepat-cepat merebutnya, takut Ozy mengobrak-abrik isi kopernya.


“Weiittts, ntar dulu, Zy, lo main serobot aja.” Gabriel membenahi kopernya, lalu membukanya pelan-pelan. “Lo kira gue karya wisata minta oleh-oleh?” Gabriel lalu mengambil sebuah kantong hitam kecil, isinya kamera.


“Apaan tuh kak?” Ozy penasaran.


“Ini kamera, masa ngga tau? Katrok lo!” Gabriel membuka kantong itu dan sebuah kamera digital dikeluarkannya. Ozy hanya manyun, Gabriel tertawa. “Haha, becanda, Zy! Nih buat lo, kan gue belum kasih kado ulang tahun kemaren.” Ozy tersenyum.


“Waah, makasih kakaaaaaak!” Ozy memeluk Gabriel lebay. “Eh, tapi kan lo ngelewatin ulang tahun gue lima kali… Masa kadonya cuma satu?”


“Elaah, itu kan juga hasil gue nabung dua tahun, Zy, kaga makan kaga minum! Ngga ngehargain banget deh!” kata Gabriel.


“Buset dah, pantes lo kurusan. Ternyata ngga makan buat gue.” Ozy lalu menyalakan kamera dari Gabriel. “Loh, kak, kok, ada foto-foto apaan nih?” Ozy memencet-mencet tombol di kamera itu dan menemukan foto-foto yang pasti hasil jepretan Gabriel.


“Eh maap, memorinya belum gue ambil.. Hehe. Ini foto-foto gue ambil pas di Batam.” Gabriel lalu berlalu menuju kasurnya lagi. “Gue mau ngajarin lo fotografi, Zy. Lo mau kan?” tanya Gabriel.


“Hapaaa? Serius lo? Mau mau mau…” Ozy beranjak mendekati Gabriel.


“Tapi ntar kalo gue nya udah nemu kamera yang bagus. Di sini kamera analog mahal ngga, Zy?” ucap Gabriel lalu berusaha memejamkan mata.


“Ngapain pake beli, kak? Di lemari masih ada kok kamera kakak yang dulu…” Ozy buru-buru membuka lemari Gabriel dan membuka sebuah tas kecil yang berisi sebuah kamera. “Ini yang dikasih papa ke kakak dulu, kan, waktu SD?” Ozy memberikan kamera pada Gabriel.


“Haah? Masih ada nih kamera?” Gabriel tersentak. Sudah lama dia tak memegang kamera itu, dia meninggalkannya di lemari saat dia memutuskan pindah ke Batam. Gabriel lalu mengusap-usap kamera lamanya.


“Ya masih lah. Foto-foto kak Sivia juga masih ada tuh di lemari!”


Gabriel tersentak, lalu menengok ke arah lemari. Banyak foto Sivia yang tertempel di belakang pintu lemari. “Oh, gitu… Bagus deh lo ngga buangin.” Gabriel kini membayangkan wajah Sivia saat mereka terakhir kali dia melihatnya, sudah sangat lama.


“Ngga bakalan lah gue buangin barang-barang itu. Gue kan tahu perasaan kakak sama kak Sivia yang bener-bener gedeeeeeeee.” ucap Ozy.


Gabriel hanya berdehem. “Hmmm.” dia masih sibuk dengan kameranya. “Padahal gue niat beli yang baru, eeh, malah yang lama masih ada. Masih bagus juga…” ucapnya.


“Eh, kak! Kok kak Iyel mau ujian kok malah pindah sekolah sih?” Ozy duduk di kasur Iyel.


“Hah? Eeh, kenapa ya? Gue rada bosen di sana.” jawab Gabriel enteng.


‘Hah? Bosen? Masa cuma karena bosen kak Iyel sampe pindah jauh Jakarta? Aneh!’ batin Ozy. “Ya udah deh, kak, Ozy keluar dulu deh. Kakak istirahat aja, bentar lagi makan malem Ozy panggil deh…” ucap Ozy sambil keluar kamar Gabriel dan menutup pintu.


Setelah Ozy benar-benar keluar, Gabriel mendekati lemarinya dan menatap lekat-lekat foto-foto di balik pintunya. Gabriel tersenyum kecil. Dia lalu membayangkan saat-saat dia mulai mengagumi Sivia, sudah lama, namun perasaan itu belum juga hilang.


Dia lalu melihat di pojokan setiap foto-foto di depannya.


“Gie’s” tulisan itu yang tertera di setiap foto. Gabriel lalu tertawa kecil.


“Hmmm… Andai dulu ngga ada…..” Gabriel menggantung kata-katanya. “Aga…” ucapnya pelan lalu menutup pintu lemarinya.


Gabriel membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia mamandang langit-langit yang terpampang wajah teduh perempuan yang selalu membuatnya lupa cara bernapas saat ada di dekatnya, tapi itu hanya bayangannya.


“Sivia Azizah…” bisiknya. Lalu memejamkan mata untuk tidur setelah menghela napas panjang.


***


Sivia telah siap dengan seragam SMA-nya, menggendong ransel hitam dan mengenakan sepatu kets miliknya. Rambutnya dia ikat ke belakang sekenanya, tak terlalu rapi. Dia berjalan agak lemas menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana nampak Alvin sedang melahap semangkuk bubur.


“Dapet makan dari mana lo?” tanya Sivia heran dengan makanan di depan Alvin, mama dan papanya belum pulang, pembantu juga belum kembali dari kampung.


“Gue ngga bego banget ya, Vi! Ada bubur instant di lemari ya gue bikin aja!” jawabnya cuek, sambil terus memakan buburnya.


“Sial lo, kok gue ngga lo bikinin?”


“Lo ngga minta!” kata Alvin tanpa melirik Sivia, dia masih sibuk dengan buburnya.


“Ah, sompret. Yuk berangkat, udah mau jam 7…” ucap Sivia setelah melirik jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya.


“Lah? Lo ngga sarapan?” tanya Alvin.


Sivia menatap Alvin dengan muka malas. “Lo lama-lama gue hajar, Vin! Udah ah cepetan!” kata Sivia kesal. “Gue sarapan di sekolah aja!”


Alvin menghabiskan buburnya cepat, lalu menyambar ranselnya dan bergegas ke garasi mengeluarkan ninja putih miliknya. Dia mendorong motornya ke luar pagar, Sivia menutup pagar rumahnya setelah sebelumnya mengunci pintu rumahnya.


“Bentar kak, gue nitipin kunci dulu…” kata Sivia lalu pergi ke rumah yang ada tepat di sebelah rumahnya. Dia mengetuk pintu yang sebenarnya telah terbuka. Seorang laki-laki membuka pintu itu. Itu bukan Ozy, Sivia yang bingung hanya tersenyum. Tanpa piker panjang, dan tanpa memikirkan sosok yang tak dikenalnya di rumah Ozy itu, dia langsung menyerahkan kunci rumahnya. “Gue Sivia, gue nitip kunci rumah. Kasihin ke Tante Nana, ya?” katanya langsung pergi.


“Eh, eh, ini…” laki-laki itu bingung. Tapi… ‘Eh, siapa tadi namanya? Sivia?’ dia tiba-tiba tersenyum dan masuk ke dalam rumah dengan lemas.


Sivia menghampiri Alvin yang sudah siap di atas motornya. Sebenarnya dia masih bingung dengan laki-laki di rumah Ozy itu, dia belum pernah melihatnya sebelumnya. ‘Ah, ngapain jug ague pikirin?’ batin Sivia yang langsung mendekati Alvin.


“Udah?” tanya Alvin. Sivia mengangguk dan naik motor Alvin. Alvin tancap gas keluar kompleks Bumi Intan menuju SMA VICAS yang tak terlalu jauh jaraknya. Di sepanjang jalan Sivia masih saja memikirkan laki-laki asing di rumah Ozy tadi.


***


@ SMA VICAS – Parkiran


Alvin dan Sivia sampai di sekolah.


“Jangan bikin masalah ya?” ucap Alvin begitu sampai di parkiran SMA VICAS.


“Gila lo Vin, ngga bosen ngomong hal itu melulu?” Sivia gerah, kakaknya terlalu parno. “Udah ah, gue duluan!” kata Sivia sambil berjalan santai menggendong ranselnya. Dia tak mempedulikan rambutnya yang acak-acakan, toh masih cantik.


Tanpa Sivia sadari, tali sepatu kirinya belum dia ikat, walhasil sepatu kanannya menginjak tali sepatu kiri yang menjuntai dan….. BUKK!!! dia terjatuh dengan sempurna. Kedua lututnya yang menumpu terluka. Tak banyak darah yang keluar, tapi cukup untuk membuatnya meringis kesakitan. Alvin yang melihat Sivia terjatuh secara refleks menghampirinya dan memastikan keadaan Sivia.


“Ya ampun, Vi, makannya tali sepatu diiket yang bener dong.” Ucap Alvin perhatian. “Sakit ngga?” katanya sambil memegang luka di lutut Sivia. Sontak Sivia menjerit.


“Auww! Sakit lah, lo pencet-pencet gitu gimana ngga sakit?” Sivia meniup lukanya, lalu mengipaskan tangannya di dekat luka itu. “Udah lo ke kelas aja! Gue bisa berdiri.” kata Sivia mencoba bangkit. Lututnya perih, dia memejamkan mata kuat-kuat dan menegangkan rahang,menahan sakit. Pelan-pelan Sivia berdiri dan berjalan biasa.


Di kejauhan, tampak dua orang siswa memperhatikan gerak-gerik Sivia-Alvin.


“Tuh kan? Lo liat dong Cak, si Alvin punya gebetan baru ngga bilang-bilang…” ucap Rio dengan mata masih tertuju pada Sivia-Alvin.


“Hah?” ucap Cakka datar.


“Itu si Rio boncengin cewe, terus cewenya jatoh, terus Alvin perhatian banget sama cewe itu!” kata Rio menggebu-gebu. Cakka tak bereaksi lagi. Paling-paling hanya…


“Haah?” katanya kembali DATAR. Cakka terlihat masih memainkan PSP-nya, sama sekali tak mempedulikan Rio yang dengan semangat berkobar memata-matai Alvin berasa menjadi agen rahasia macam FBI. Rio kini menatap Cakka. “Yaelaaah Cakka! Lo liatin dong…” katanya sambil memalingkan wajah Cakka dari PSP-nya kea rah Alvin-Sivia.


Cakka dengan malas memperhatikan Alvin di parkiran, tetapi matanya kini tertuju pada sosok perempuan di depan Alvin. ‘Hah? Cewe rese itu? Ngapain dia sama Alvin?’


“Beneran lo ngga apa-apa?” Alvin masih cemas.


“Ngga papa kok…” Sivia berjalan meninggalkan Alvin.


“Gue anter ke kelas, ya, Vi?” tawar Alvin sambil berjalan menjejeri Sivia.


“Ngga usah, kak. Ntar gue dikatain banci lagi, pake acara dianterin ke kelas.” ucap Sivia sambil nyengir kuda. “Udah sono pergi!” katanya, dia juga pergi meninggalkan Alvin yang terpaku.


Alvin sebenarnya tak tega membiarkan Sivia berjalan sendirian. ‘Ah, tapi Sivia emang ngga apa-apa kayanya. Gue aja kali ya yang over…” batin Alvin.


“Woy Cakka! Lo liat kan, Alvin udah ngga nganggep kita temen. Kita harus melakukan unjuk rasa, Cak…” ucap Rio kesal. “Masa dia ngegebet cewe, mana cantik lagi, ngga bilang-bilang sama kita. Ayo kita protes, Cak!” Rio menarik tangan Cakka.


“Halaaah! Protes, kepala lo protes!” kata Cakka. “Protes sendiri sanah, gue ogah.”


“Yaah, ini melanggar hak-hak pertemanan, Cak! Kita harus membela hak-hak kita sebagai temen Alvin…” Rio membujuk Cakka dengan gigih.


Namun Cakka keburu bete setelah melihat Sivia, cewe yang selalu membuatnya kesal. “Berisik lo, Yo! Gue ke kelas aja lah.” Cakka ngeloyor pergi meninggalkan Rio yang ternyata masih betah mengintip, walaupun targetnya sudah pergi entah ke mana.


‘Cewe super rese itu gebetannya Alvin? Masa sih, gue ngga yakin deh! Masa Alvin mau sama cewe model gitu? Kaya ngga ada cewe beneran aja sampe-sampe nge-gebet cewe gadungan…’ batin Cakka.


***


Sivia masih tertatih, dia tak tahu kalau Alvin yang tak bias melepas rasa khawatirnya dari tadi membuntutinya berjalan ke arah kelas. Sivia terkadang meringis karena kakinya terasa tak mau digerakkan. Tiba-tiba seseorang di persimpangan (jaelah persimpangan! pokoknya yang mau belok gitu lah) menarik tangannya dengan kasar.


Sivia menahan sakit di kakinya yang terseok, dilihatnya sosok yang menariknya dengan kasar. Seorang perempuan yang dia kenal, namun tak pernah menyapanya.


“Shilla?” ucapnya lirih. Dilihatnya juga dua orang perempuan dnegan muka kesal menatapnya tajam. Siapa lagi kalau bukan… “Angel, Zahra?”


“Apa? Lo tuh dasar cewe gatel ya?” Angel memulai pembicaraan.


Alvin yang tadi ada di belakang Sivia menghentikan langkahnya, tak jauh dari Sivia, mencoba mendnegar apa yang tengah mereka bicarakan.


“Ngga punya malu lo nge-deketin kak Alvin?” Zahra juga mulai bicara. Shilla masih diam menatap Sivia lebih tajam dari Angel maupun Zahra. Sivia kini memasang wajah bingungnya. “Lo kurang kerjaan ya?”


Sivia hanya membatin. ‘Apa maksudnya? Nge-deketin kak…..’


“Hey! Ngomong dong!” bentak Angel tepat di depan muka Sivia.


“Gini… Gue sama sekali ngga ngerti apa maksud lo berdua, dan…”


PLAKK!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Sivia, refleks dia memegangi pipinya yang memerah seketika. Shilla mengepalkan tangannya yang barusan menyentuh pipi Sivia. Sivia membelalakkan matanya tak percaya.


‘Salah gue apa?’ batin Sivia bingung dan shock. Sivia tak mampu bergerak sama sekali, apalagi balik memukul atau menghajar tiga perempuan menyebalkan di hadapannya – seperti yang biasa dia lakukan pada saat semacam itu.


“Jangan ngedeketin kak Alvin lagi…” ucap Shilla lirih.


Alvin keluar dari persembunyiannya dengan muka merah padam. Dia paling marah kalau seseorang memperlakukan adiknya sekasar itu tanpa alas an, walaupun dia sendiri tahu Sivia tak selemah yang ada di bayangannya. Alvin dengan kasar mendorong Shilla menjauhi Sivia, lalu menggenggam tangan Sivia dan menariknya pergi. Dia sama sekali tak menghiraukan Sivia yang meringis kesakitan karena kakinya terasa perih. Alvin terus berjalan.


“Kak Alvin!” jerit Shilla yang masih terduduk lemas setelah Alvin mendorongnya. Kedua temannya seketika membantunya berdiri. Shilla menangis hebat. Dasar cewe!


***


@ UKS


“Kak!” ucap Sivia menatap kakaknya yang kini tengah membersihkan lukanya dengan kapas basah. Alvin sama sekali tak bergeming. “Kak Alvin…” panggil Sivia pelan sekali lagi.


Kini Alvin menatapnya.


“Biar gue aja yang bersihin lukanya, lo ke kelas. Udah bel, kan, dari tadi?” ucap Sivia sambil merebut kapas yang menumpuk di tangan Alvin. “Gue ngga mau lo dimarahin guru atau sampe dihukum karena lo ngurusin gue…”


Alvin masih diam, tak ada bunyi apapun dari mulutnya. ‘Gue takut lo kenapa-kenapa, Vi…’ batin Alvin.


“Gue beneran ngga apa apa, kak…” ucap Sivia seolah membaca pikiran Alvin.


Alvin yang terus terdiam sedikit tersenyum, lalu dengan berat hati meninggalkan Sivia di UKS sendirian. Alvin berjalan gontai menggendong tas-nya menuju kelasnya. Sudah tak dipedulikannya apa omelan atau makian yang akan dia terima dari Pak Duta, guru kimia-nya.


***


“Ya ampun Sivia!” seru Agni yang melihat Sivia dengan tertatih memasuki kelas dan berjalan menuju bangkunya. “Lo kenapa, Vi?”


Sivia kini duduk di bangkunya, di sebelah Septian yang seketika menanyainya ini itu sewajarnya orang khawatir.


“Gue ngga apa-apa kok. Cuma jatoh gara-gara tali sepatu kelupaan diiket. Hehehe…” katanya sambil nyengir, berusaha menghilangkan kepanikan teman-temannya. “Kok ngga ada guru sih?”


“Bu Winda ngga masuk, tapi, beeeeuuhh ngasih tugas ngga kira-kira…” Agni merubah raut mukanya. Sivia terkekeh, begitu pula Septian. Mereka lalu tenggelam dalam obrolan, sama sekali tak mempedulikan tugas yang diberikan. Toh ujung-ujungnya tak akan dibahas.


Sivia sebenarnya tahu Shilla sejak tadi memperhatikannya sejak dia masuk kelas. Namun Sivia berusaha mengabaikannya, tak mau membuat masalah sesuai janjinya, juga dalam pikirannya hanya akan membuang waktunya kalau meladeni Shilla. Jadi dia memilih diam dan bersikeras menghindari Shilla. ‘Ogah juga sih ngeladenin cewe macem dia, ngga ada tantangannya!’ batin Sivia.




TEEEETTTTT!!!! – irama surga pertama (istirahat) –


Brakkk!


“Hey cewe ganjen…” Angel menggebrak meja Sivia. Ada Shilla di sampingnya, juga Zahra tentunya. “Apa kabar lo?” Sivia masih diam menatap balik mereka satu per satu.


“Eh, Sivia Azizah. Seneng ya kak Alvin nolongin lo?” Zahra gentian bicara, dia mendekatkan mukanya ke Sivia.


“Lo bertiga ngga ada kerjaan lain selain sok berkuasa di sini, ya?” ucap Sivia dengan dingin, tak bernada bertanya. “Minggir! Gue mau ke kantin. Yuk Agni, Tian!” Sivia berdiri dari kursinya namun Angel kembali mendudukannya dengan mendorong bahunya.


“Eh, lo pikir kak Alvin bakal suka sama cewe model lo gini?” ucap Angel memandangi Sivia dari atas sampai bawah. “Lo bahkan ngga pantes disebut cewe tau!”


“Lo tuh nyadar dong BERANDALAN kaya lo itu NGGA PANTES sekolah di sini. Pake acara ngedeketin kak Alvin lagi… Nyadar, nyadar!!!” Shilla akhirnya bersuara, dia menekankan kata BERANDALAN dan NGGA PANTES dengan penekanan yang cukup mengena, namun Sivia masih bertampang santai.


Sivia melirik jam tangannya. “Udah selese ngomongnya? Gue laper. Ke kantin dulu ya? Ntar lagi ngobrolnya…” Sivia berdiri dari duduknya tanpa dorongan dari Angel lagi. “Bye Shilla…” ucapnya santai dan cool, tanpa beban dan sukses membuat Angel dan Zahra cengo, Shilla kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai meratapi kepergian Sivia bersama Septian dan Agni.


“Awas aja lo!” ucap Shilla lirih.




@ Kantin


“Sumpah deh Vi gue suka gaya lo. Pas ngomong: BYE SHILLA…” ucap Agni sambl menirukan gaya Sivia yang cool abis waktu mengucapkan dua kata yang membuat Angel dan Zahra diam. “Hahaha…” Agni tertawa renyah. Sivia hanya tersenyum dan geleng-geleng.


“Eh, tapi ada apa deh sama mereka, kok mereka gangguin lo?” Septian berhenti memakan bakwan udang yang barusan dibelinya.


Sivia diam, mengaduk-aduk terus mie goreng nya tak berniat memakannya. “Gue ngga tau deh.” jawabnya datar. “Eh, gue beli minum dulu ya?” kata Sivia sambil berlalu meninggalkan mejanya dan berjalan setengah tertatih – karena lututnya masih sakit – menuju refrigerator di pojok kantin.


Sesampainya di sana, dia mengambil sebotol Coca Cola dan membuka tutupnya lalu memasukkan sebuah sedotan ke mulut botol. Kantin sangat ramai, dia harus berdesak-desakkan melewati kerumunan siswa yang berebut makanan untuk sampai di mejanya. Saat hampir saja terbebas dari kerumunan itu, di jalan yang lumayan sempit dia hampir saja menabrak seorang laki-laki. Untung dia bisa mengendalikan badannya agar tak menabrak (wuiih canggih!).


“Hati-hati dong, untung lo ngga nabrak gue!” ucap laki-laki itu. Sivia mengenal suaranya, dia mendongak untuk melihat wajahnya. Dan…. “Eloo?” laki-laki itu merubah tampang datarnya menjadi tampang kesal setelah menyadari Sivia yang ada di depannya.


“Stop! Gue ngga mau cari ribut!” Sivia dengan buru-buru melangkah cepat menjauhi sosok di depannya. Namun, hal yang tak diinginkan terjadi. Tali sepatunya tak bisa diajak kompromi, tali itu lepas lagi dan kembali diinjaknya sehingga.


BRUKK… Sivia terjatuh dan laki-laki itu juga. Sivia panik bukan main menyadari sebotol Coca Cola di tangannya tumpah setengah ke baju OSIS laki-laki di depannya. Sivia membelalakkan matanya, terlukis keterkejutan di wajahnya. Dia melihat sorot mata laki-laki di depannya berubah tajam, siap menghujam jantung Sivia yang sudah lemas.


“DASAAR CEWE RUSSUUUUHHH!!!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buat semu yang udah mampir di blog aku... tinggalin komentar, pesan dan pesan yah...