by: tia (http://facebook/tiantium)
“Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa lembar kertas di tangannya, seakan akan mau jatuh lagi.
“Tau ah!” katanya kesal.
“Pagi pagi jangan bete gitu dong! Ntar fans lo kabur semua.” kata Alvin menggoda Cakka, dia merangkulnya. Mereka berjalan bersama di koridor menuju kelas.
“Peduli setan sama fans gue! Gue bete!” katanya ketus pada Alvin, seraya mempercepat langkahnya melepaskan rangkulan Alvin.
Alvin melongo, lalu mengejar Cakka yang meninggalkannya. “Eh, tunggu Cak!”
*****
@ kelas XI IPA I
Beberapa menit setelah bel masuk, bu guru belum datang ke kelas. Siswa-siswa masih rebut menceritakan tentang liburan semester mereka. Yah, maklum deh hari itu hari pertama di semester dua.
Ada yang cerita tentang natalan di Paris lah, liburan ke Bali lah, taun baruan
di Puncak lah, atau cerita-cerita lain yang intinya satu: PAMER. Biasanya,
Angel yang paling heboh cerita tentang liburan akhir taun plus taun baruan
bareng keluarganya, entah itu ke eropa, ke Australia, ke amerika, ke afrika, ke
antartika, ke jamaika :ngelantur: tapi sekarang Angel lagi sibuk sama Shilla,
jadi kelas ngga terlalu rame karena sorakan kekaguman pas Angel dongengin
liburannya.
Zahra dan Angel ada di dekat Shilla. Mereka tampak serius.
“Shill, masa kak Alvin boncengin cewek!” Zahra memulai pembicaraannya.
“Ah, masak sih?” Shilla biasa aja, sambil membuka halaman novel yang lagi dia baca.
“Ye, elo kita bilangin kaga percaya!” Angel duduk di samping Shilla.
Shilla hanya meringis. “Lagian ngapa juga kalo kak Alvin boncengin cewek?”
“Ih, Shill, lo ngga jealous apa? Kayaknya itu pacarnya kak Alvin deh.” Zahra mulai memancing.
Shilla hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Apaan sih kalian?”
Angel gantian geleng-geleng. “Ckckck, ini anak dodol ya? Kalo itu beneran pacarnya kak Alvin gimana? Lo rela?”
“Ngga mungkin lah kak Alvin punya cewek, kak Alvinnya kan cuek, jutek, dingin dan ngga ada romantis-romantisnya sama cewek.” kata Shilla mengejutkan kedua sahabatnya.
“Widih, lo kok jadi jelek-jelekin dia?” Angel kaget.
“Ya engga juga, kan kenyataannya gitu, dan cuma gue yang bakal berhasil menghancurkan semua sifat sifat itu karena gue yang paling sabar ngadepin kak Alvin.” Shilla mesem mesem sendiri
sambil menatap novel teenlit yang dipegangnya. Dia kepedean banget.
“Aduuuuh, temen gue yang satu ini tambah dongo ya? Lo belum liat aja sih ceweknya!” kata Zahra duduk di bangkunya, di depan meja Shilla-Angel.
“Shill, dengerin kita!” Angel merebut novel yang Shilla baca.
“Iih, apaan sih lo Ngel? Balikin!” rengek Shilla.
“Lo dengerin deh makannya.” kata Angel. “Tadi, kak Alvin beneran ngeboncengin cewek dan…”
“Dan, itu mamanya kali mau ke mana gitu.” kata Shilla. Dia ngga mau ngurusin kabar tentang kak Alvin dari kedua sahabatnya, dia memutuskan untuk keluar kelas. (mau kemana coba?)
“Oh, iya! Bener juga lo, mamanya kak Alvin mungkin lagi ganti style fashionnya, dan sekarang pake seragam SMA VICAS dan bawa tas sekolah, ya?” teriak Zahra agar Shilla mendengarnya.
“Apa lo bilang, Ra? Mamanya Alvin sekolah di sini? Lho, bukannya dia ngantor ya?” kata Shilla menghampiri temannya. (dongonya kumat)
“Shill, gue tau lo cinta mati sama kak Alvin, tapi lo jangan jadi dongo gini dong!” Zahra menatap Shilla kesal.
“Ih, apaan sih lu Ra!” Shilla mulai manyun. “Ngel, gimana gimana certain!” sekarang Shilla ngebet pengen tau.
“Cewek itu kayanya sekolah di sini, deh! Tapi gue ngga tau dia kakak kelas, ato adek kelas. Ato mungkin juga satu angkatan sama kita.” jelas Angel.
“Gue liat kak Alvin ngegandeng tangannya gitu pas turun dari motor. Ih, nyebelin banget tau ngga?” kata Zahra membuat Shilla panas. “Mereka jalan juga gandengan tangan, Shill. Bayangin!”
Shilla makin panas. Perasaannya kini tak karuan, dia merasa mendidih.
Angel mengangguk setuju. “Sumpah deh Shill, gue liat pake mata gue sendiri, ngga ada rekayasa, ngga ada manipulasi, ngga ada kebohongan, ngga ada penipuan, ngga ada…”
“Stop, Ngel! Biasa ajeh ngomongnya. Shilla tambah panas kalo lo menggebu-gebu gitu.” Zahra memotong kata-kata Angel yang kayak kereta. tuut… tuut… (?)
Shilla sendiri terlihat manyun dan matanya terasa panas saat Angel dan Zahra mengabarkan kabar teraktual dari Alvin, cowok dingin plus cuek tapi keren yang Shilla suka.
“Kak Alviiiiiiiiiiiiinnnnnn!!!” jerit Shilla sangat keras sehingga setelahnya kelas yang tadinya rame kaya pasar tanah abang menjadi sepi kayak kuburan jeruk purut.
Dan semua mata tertuju pada Shilla.
“Kenape lo Shill?” Tanya Irsyad yang sedang membersihkan papan tulis.
“Eehhh, engga engga. Ngga papa, kalian lanjutin aja diskusinya, ya? Oke?” Zahra panik, dia menenangkan seisi kelas yang kaget lalu mencoba menenangkan Shilla, dia mengajaknya duduk.
Semua mata lalu berpaling dari Shilla, mengurusi urusan masing-masing. Sion, anak paling rame di kelas melirik jam tangannya. -----> 07:14:52
“tujuh, enam, lima, empat, tiga.” kata Sion lagi. “dua… satu…”
‘tok tok tok tok tok’. lima kali pintu diketuk
“bu guru woy, bu guru!” teriak Sion begitu mendengar suara ketukan di pintu kelas. semua anak langsung siap siaga mengambil posisi dan tiarap (hah? ngga ngga, yang terakhir engga!) di
bangku mereka masing-masing.
Zahra masih menenangkan Shilla yang sesenggukan bersama Angel yang duduk sebangku, di belakang tempatnya duduk bersama Irsyad.
‘tok tok tok’ pintu diketuk lagi.
‘loh, kok bu guru ngga masuk-masuk si?’ batin Sion. Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu.
‘crrreeeeeeeettttttt’ (Q: kaya suara pintu dibuka, ya? A: iya.) pintu dibuka oleh seseorang di luar. Semua siswa diam, menanti siapa yang masuk, apa itu bu guru wali kelas mereka atau
bukan.
Seorang perempuan masuk dan memandang seisi kelas dengan tatapan polos. Siswa-siswa masih diam, namun beberapa saat kemudian…
“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuhhhhhhh!” seisi kelas menyoraki perempuan itu. Kecuali Sion, Shilla, Angel dan Zahra yang masih menatap wajah perempuan di depan kelas mereka.
‘Kok nyorakin? Gila ni kelas!’ batin Sivia. Lalu dia melihat Sion yang tersenyum ke arahnya. Sivia membalas senyumnya dengan tersenyum simpul.
Kelas kembali ramai, entah membicarakan Sivia, atau kembali ke dongeng-dongeng liburan.
‘Heuuh? Ngga ada penyambutan anak baru, ya?’ batin Sivia.
“Ehm, lo anak baru, ya?” kata Sion mendekati Sivia yang masih berdiri. Sivia mengangguk.
“Bener ini kelas XI IPA I? Gue ngga salah masuk kan?”
Sion senyum senyum sendiri.
“Kenapa lo? Sakit gigi?”
“Kaga! Lo udah liat, kan di pintu ada tulisan XI IPA I? katanya. Sivia hanya tersenyum.
“Lo ngga ngasih gue tempat duduk, nih?” Tanya Sivia.
“Oh, iya. Eh, lo udaah…”
Sivia memotong seketika “Udah. Gue udah ke Bu Ira, dan katanya gue suruh masuk kelas aja.” Sion mengangguk. “Mana kursi gue? Gue capek nih!”
Sivia mulai bersikap dingin.
Sion mengajak Sivia ke kursinya. Di sudut lain, Trio Centil (Angel, Shilla, Zahra) bisik-bisik.
“Shill, liat tu cewek!” kata Zahra. Shilla memandang Sivia dengan mata yang masih basah air mata.
“Dia yang diboncengin kak Alvin, Shill!” kata Angel dan itu membuat Shilla semakin parah. Dia terus menangis dengan menutup matanya. Irsyad di sebelah Zahra sempat melirik, dan langsung
membuang muka begitu Angel melototinya.
“Tian, lo pindah gih ke Lintar! Biar Zeva sama dia.” kata Sion sambil menunjuk ke arah Sivia.
“Ih, apa apaan lo hah? Engga deh, gue ngga mau di depan!” kata Septian bersikukuh memegangi tasnya.
“Ngalah dong sama anak baru lo!” ucap Sion.
“Kaga bisa!” Septian tetap pada pendiriannya.
“Lo nyari ribut?” Sion emosi (halah, kenapa ni bocah pakek emosi segala?)
“Ngapa sih lo, Ion, pakek emosi segala?” Septian kesal.
“Hussssssss udah udah, ngapa juga pada ribut. Biar gue yang ke Lintar.” kata Zevana sambil membawa tas warna ungu-nya dan meletakkannya di meja sebelah lintar.
“Nah, sekarang lo duduk di sini!” kata Sion.
Sivia melangkah pelan menuju meja yang tadi milik Zevana. Lalu dia meletakkan tas hitamnya di atas meja, lalu duduk di kursi di sebelah Septian.
“Pergi lo, masalah lo selesai, kan Ion?” kata Septian mengusir.
Sion hanya melotot ke arah Septian, lalu pergi ke bangkunya.
Septian senyum senyum, jarang-jarang ada perempuan yang duduk sebangku dengannya. Sivia melihatnya, dahinya berkerut.
“Kenapa lo senyum senyum gitu? Ngga lagi sakit perut kan lo?” kata Sivia lalu geleng-geleng kepala.
“Engga lah!” kata Septian lalu mengulurkan tangannya. “Septian, boleh dipanggil Tian.”
Sivia membalas uluran tangannya. “Sivia.” katanya singkat. Lalu masuklah seorang perempuan, itu bu guru mereka.
“Beri salaam!” teriak Sion. Serentak seisi kelas memberikan salam pada perempuan itu. Namanya Bu Romi.
Sion bukanlah ketua kelas, melainkan wakil ketua. Ketua sebenarnya adalah Angel, tapi dia bertugas cuma kalau title-nya MENGKOORDINASI KEGIATAN KELAS. tugas paling mudah ke mana mana buat
seorang ketua, di mana tugasnya cuma nyuruh nyuruh doang. Tapi kalo yang
lainnya, Angel udah ogah deh ngerjainnya, jadi dia suruh Sion buat gantiin.
(Sion-nya kok mau aja!)
“Selamat datang, anak-anak di semester baru.” kata Bunda Romi. “Kita kedatangan siswi baru, kalian sudah tahu?”
“Sudaaah.” kata beberapa anak serentak.
“Sudah kenal?” Tanya bu Romi.
“Beluuummm…” sekarang yang berseru lebih banyak.
“Sekarang, kamu Sivia, perkenalkan diri kamu pada teman-teman!”
Sivia berdiri dari kursinya, lalu melangkah pelan ke depan kelas, ke sebelah bu romi.
“Ehmm…” Sivia berdehem dan seisi kelas menatapnya, menenti kata-kata yang akan dikeluarkannya. “Gue Sivia Azizah, dipanggil Sivia atau Via, dari SMA Voundras.” katanya singkat, irit
kata, tepatnya, dia malas basa-basi ngga penting.
“Apa? Voundras? SMA-nya orang tajir tuh!” kata seorang siswa pelan.
“Voundras kan tempatnya anak-anak pejabat tuh?” bisaik siswa lain.
“Hmmm, banyak lho anaknya temen-temen papa gue yang sekolah di Voundras.” Angel juga ikut bicara. Temen-temen papanya, ya pastilah orang-orang berduit banyak dan punya
perusahaan sana sini.
Sivia mendnegar kalimat-kalimat itu. “Ehhmm..” Sivia berdehem lagi. “Ada pertanyaan?”
Semua diam menatap Sivia. Tapi kemudian beberapa siswa mengangkat tangan.
“Vi, kenapa lo pindah sih dari Voundras?” teriak Sion sambil berdiri.
“Gue ngga nyaman di sana!” seru Sivia gelagapan. “Ada lagi?” Sivia berusaha mengalihkan pembicaraannya dengan Sion, dia ngga mau seseorang tau tentang alasannya pindah ke VICAS.
“Rumah lo di mana?” tanya seorang anak.
“Bumi Intan.” jawab Sivia datar dan singkat.
“Lo punya kakak?” Lintar berseru.
“Iya gue punya.”
“Lo punya adik?” tanya Lintar lagi.
“Ngga!”
“Lo punya sahabat karib?”
“Ngga!” jawabnya ketus. “Lo ngga sekalian tanya gue punya tante, oma, opa, binatang pelihraan, boneka kesayangan, atau benda kenangan?” Sivia
mulai kesal.
Anak-anak di depannya cekikikan, dan Lintar hanya diam.
“SD-nya di mana?” seseorang mengajukan pertanyaan ngga penting, cewek dengan kuciran di belakang kepalanya, berkulit agak gelap dan terlihat tomboy.
“Apa pentingnya? Ngga usah deh.” kata Sivia agak ketus. Anak itu mengalah.
“Via, lo lahir bulan apa?” tanya Patton.
‘Aneh ni anak, kok nanya bulan lahir?’ batin Sivia. “Februari.” jawabnya datar (datar mlulu yah?).
“Nomor sepatu lo berapa?”
‘Hah?? Makin ngaco ni anak-anak!’ batin Sivia heran. “Eh, eh, ngga tau, gue ngga liatin nomornya.” katanya.
“Ehehe, gue rasa cukup. Makasih!” Sivia buru-buru duduk, walaupun bu Romi belum menyuruhnya. Dia ngga mau ditanyain ini itu yang lebih aneh karena dia males jawabnya.
“Ya, sudah, sekarang kalian keluarkan buku catatan. Kita akan merencanakan kegiatan kelas untuk menyambut ulang tahun sekolah kita tidak lama lagi.” kata Bu Romi.
-- bla bla bla --
*****
TEEETTTT (bel istirahat)
Bu Romi keluar dari kelas setelah memberi beberapa pengarahan untuk kelasnya.
“Vi, kantin yuk!” ajak Tian ke Sivia.
“Aduh… Gimana ya? Gue males ah, Yan!” Sivia mengeluarkan HP-nya dan memutar mp3 di dalamnya. “Lo aja ya sendiri.”
“Hey!” seseorang berseru berniat mengagetkan Tian dan Sivia. Tapi mereka sama sekali ngga kaget. “Loh kok diem sih?”
“Emang suruh gimana?” tanya Tian.
“Ya, kaget kek, loncat kek.” jawab Agni enteng.
“Haaaaaaaaaaahhhhh… Gue kaget, Ag!” kata Tian seakan akan kaget beneran. Gayanya lebay banget.
“Jayus lo!” kata Agni. “Eh, Sivia, gue Agni. Ke kantin yuk.” ajak Agni pada Sivia yang kini tengah mendengarkan mp3-nya.
Sivia menoleh sebentar, lalu berkata tanpa melepas handsfree-nya. “Males ah!” katanya singkat.
“Alaaaahh, ayo!” Agni menarik tangan Sivia, baru kali ini ada anak perempuan seberani ini pada Sivia, setelah Siti yang berani memukulnya. “Yuk, Tian!”
Tian mengikuti Agni yang terus menarik tangan Sivia. Sivia pun mengalah, dan tak mau berontak – dia tak mau buat masalah dan cari musuh, itu janjinya. Mereka menuju ke kantin.
“Shill, kapan kita labrak dia?” kata Zahra tak sabar. Mereka mengamati gerak gerik Sivia dari tadi.
“Ntar aja. Gue masih penasaran sama dia.” kata Shilla lemas, dia masih capek setelah menangis (hah, nangis aja capek!) “Kantin, yuk!”
@ kantin
“gue benci elo! selamanya benci elo” sebuah suara terngiang di pikiran Cakka, entah dari mana.
Selama ini Cakka terus-terusan diganggu kata-kata itu, di mimpinya, di setiap lamunannya, dan di setiap saat dia sendiri pasti ada suara itu. Anehnya, Cakka tak tahu suara siapa itu,
suaranya lembut tapi menyimpan kebencian yang besar.
Dia selalu melamun sejak papanya meninggal, tapi suara itu selalu darang. Sekarang dia ada di kantin, duduk di bangku orange dan tangan kirinya menopang dagu sementara tangan kanannya
mengaduk aduk mie ayam pesanannya tadi. Melamun. Alvin ada di sebelahnya,
memainkan BB-nya sambil menyeruput jus jeruknya.
“Woy, Vin!” tegor Rio yang baru datang.
“Hey!” ucap Alvin datar tanpa menatap Rio.
Rio melihat Cakka yang ngelamun lagi, dia menghela napas. “Vin?”
“Hah.” Alvin masih sibuk BBM-an.
“Vin?” panggil Rio sekali lagi, lebih keras.
“Apa?” Alvin masih menatap layer HP-nya tanpa mempedulikan Rio.
“Alviiin!” panggil Rio kesal, sambil memukul bahu Alvin.
“Apaan sih, Yo?” Alvin geram, tiga kali saudah bahunya dipikul hari ini.
Rio menunjuk Cakka dan memasang muka bingung. Cakka masih ngelamun. Alvin mendengus, lalu menghela napas pendek.
“Lo kaya ngga tau dia aja, Yo, Yo!” ucap Alvin tanpa ekspresi, kembali ke HP-nya. “Udah ngga usah dipusingin, dia biasa gitu kan?” kata Alvin.
“Lo jahat banget, Vin. Kalo dia kena penyakit apa apa gimana?” Rio mengambil jus jeruk Alvin dan menyeruputnya sampai habis.
Alvin yang sadar jusnya dihabiskan Rio langsung berpaling menatap Rio taja. “Ada juga lo yang jahat, Yo! Jus gue lo abisin, dasar Mario ngga modal. Ganti ngga?” Alvin melotot.
“Berbagi dong Vin!” kata Rio polos. “Apa yang ku rasakan, kuingin engkau tau, KITA BERBAGI BERSAMA.” Rio menyanyikan lagu Buka Semangat Baru, lagu kesukaan Alvin.
“Ngeles lo! Lagu gue lo bawa-bawa lagi.” Alvin sewot.
@ meja lain
“Lo mau apa Vi?”
“Bakso dong, Tian! Tapi ngga pake bawang goreng.” Agni menyahut.
“Gue nawarin Sivia, neng. Bukan lo!” kata Tian.
“Ada siomay ngga di sini?” tanya Sivia.
“Ada kok. Lo mau siomay?” tanya Tian. Sivia mengangguk cepat. Tian lalu pergi memesan makanan.
“Tian, bakso!” teriak Agni.
“Iya bawel!” seru Tian terus berjalan. Dia lalu memesan makanan dan kembali duduk.
“Vi, lo kok bisa pindah ke VICAS sih, kayaknya enakan di Voundras deh!” Septian memulai pembicaraan.
Sivia bingung bagaimana menjelaskannya. Dia diam.
@ meja Alvin – Rio – Cakka
“Yah… Jangan marah dong, Vin.” Rio tersenyum dan menaik turunkan alisnya. “Alvin cakep deh!”
Alvin melirik Rio di sampingnya dan mengkerutlah dahinya. “Sumpah deh Yo, gue masih normal.” kata Alvin ketakutan.
“Yeee, maksud lo apaan?” kata Rio.
“Yah elo ngapa baru sekarang bilang gue cakep padahal udah dari dulu?” kata Alvin sambil menatap Rio. (iihiy koko narsis…^.^) “Haaa, lo mau gue beliin makan ya sampe ngerayu gitu? Ogah!”
“Ah, Alvin, jangan gitu dong. Ntar gantengnya ilang…” rayu Rio.
“Daripada lo cape ngerayu gue, mending lo ambil noh!” Alvin menunjuk mie ayam di depan Cakka. “Dia ngga bakal tau kalo lo ambil mie-nya. Gih sonoh!”
Rio diam-diam melihat muka Cakka, pandangannya entah kabur ke mana, tatapannya kosong. Rio tersenyum, lalu pelan-pelan tangannya mendekati mangkok Cakka. Tapi tanpa diduga, Cakka memukul
tangannya.
“Aduh!” kata Rio kesakitan plus kaget. Dilihatnya Alvin cekikikan puas.
“Ngapain lo Yo?” kata Cakka.
“Gue disuruh Alvin, Cak.” jawab Rio enteng.
“Eh, gue kok dibawa bawa. Engga engga, dia yang pengen.” Alvin membela diri.
“Gue beliin deh. Mau apaan lo?” Cakka menawarkan diri.
“Siomay dong, Cak.” Alvin berseru.
“Woy, Cakka nawarin gue, dodol! Bukan elo.” protes Rio. “Mie goreng aja deh gue, sama ambilin teh botol satu. GPL ya?”
“Berapa biji siomay-nya Vin?” tanya Cakka pelan.
“Terserah lo aja.” kata Alvin sambil memainkan HP-nya lagi.
Cakka lalu beranjak dari tempatnya menuju ibu-ibu kantin. Dia memesan pesanan Rio dan Alvin, lalu mengambil dua teh botol dan mengacungkannya ke ibu-ibu kantin tadi, lalu kembali ke mejanya
daripada menunggu lama.
@ meja Sivia – Tian – Agni
“Hah? Ehhh…” Sivia bingung mau jawab apa. “Ehh, itu..”
“Ah eh ah eh! Apaan?” Tian penasaran.
“Ehhh, guee..” Sivia mencoba tenang. “Gue keluar sebelum dikeluarin.” kata Sivia sambil mengangkat bahu.
“Maksudnya?” Tian bingung. Agni diem aja.
“Sebelum gue didepak keluar, gue mendingan ngundurun diri dari sana.” kata Sivia.
“Kenapa lo harus dikeluarin? Lo nakal?”
“Gitu deh. Gue sering berantem, pukul-pukulan, bikin masalah sama siswa, guru, satpam…” jawab Sivia enteng tanpa beban. “Lo percaya ngga? Sebelum di Voundras, gue di SMA Bakti…” Sivia mulai
enteng, tak terlalu segan untuk bercerita.
“Hah? SMA yang ketat banget itu ya?” Agni tiba-tiba nimbrung.
“Yup bener!” seru Sivia. “Papa mau gue jadi anak yang bener setelah lulus SMP jadi dia masukin gue ke SMA Bakti, eh, malah gue tambah nakal.”
“Ngapain aja lo?”
“Lupa deh apa aja yang gue lakuin di sana. Tapi yang gue inget, gue sempet ngerjain satpam. Gue gunting gunting celananya jadi kaya penyanyi dangdut.”
“Hahahaha… Sadis lo Vi!” kata Tian sambil tertawa.
“Abisnya dia laporin gue ke guru BP karena gue suka manjat manjat pager sekolahan.” Sivia tersenyum sendiri.
“Ngapain lo panjat?” tanya Agni. Tian ngga bisa berhenti ngakak.
“Gue berangkat telat, dan gerbangnya udah ditutup sama satpam itu, ya udah gue panjat aja tuh pager.” kata Sivia sambil geleng-geleng kepala. “Gara-gara satpam itu, gue dihukum
suruh nyuci piring bekas anak anak makan di kantin selama sebulan.”
Tian dan Agni ngakak bener-bener mendengar cerita Sivia. Sivia hanya tersenyum memandangi kedua temannya.
“Oh, iya!” seru Tian tiba-tiba. “Gue lupa bilang bakso lo jangan dikasih bawang goreng.” Tian menatap Agni.
“Oh, biar gue aja yang bilang.” Sivia bangkit dari duduknya dan menuju ibu-ibu kantin.
“Bu, tadi bakso pesenannta Tian ngga usah dikasih bawang goreng ya?” kata Sivia pelan sambil menunjuk Tian. Ibu itu mengangguk. “Oh, iya bu! Siomay-nya udah?” Ibu itu menunjuk Siomay di depan
Sivia. Sivia lalu tersenyum dan mengambilnya.
Ibu itu sedang menuangkan kuah bakso, dan beberapa saat kemudian, dia menyerahkan mangkok bakso itu pada Sivia.
“Makasih bu!” ucap Sivia lembut lalu kembali ke Tian-Agni. “Nih.” katanya sambil menyodorkan bakso pada Agni.
“Bu, siomay sama mie gorengnya mana?” tanya Cakka pada Ibu kantin yang sedang sibuk meracik bakso.
“Itu.” dia menunjuk ke meja di mana terdapat mie goreng di sana.
“Lho, siomay-nya mana, bu?” Cakka meminta siomay pada Ibu itu.
“Abis, mas.” katanya.
“Tadi ibu-ibu itu bilang ada kok. Siomay terakhir buat saya.” Cakka menunjuk ibu-ibu lain di dekat situ.
“Tapi udah abis, Mas. Yang terakhir diambil sama mbak-mbak itu.” katanya menunjuk Sivia yang bersiap memakan siomay.
Cakka meninggalkan ibu-ibu tadi dan mendekati meja Sivia.
“Woy, balikin siomay gue.” ucap Cakka ketus.
Sivia yang sudah hampir menggigit siomay-nya lalu meletakkannya kembali. Dia menoleh ke sumber suara, dan kaget begitu melihat seseorang yang tadi pagi ditabraknya.
“Lo?” ucap mereka berbarengan.
“Sini balikin siomay gue!” Cakka semakin ketus begitu tahu cewek di depannya adalah yang membuatnya bete tadi pagi.
“Ini siomay gue, kok lo ngaku ngaku sih?”
“Gue dulu yang pesen itu siomay, sini!” Cakka merebut siomay dari tangan Sivia.
“Eh, ngga ada siapa pesen dulu dia yang dapat. Ada juga siapa cepat dia dapat. Dan gue dapet duluan!” bentak Sivia merebut kembali siomaynya.
“Rese banget lo jadi cewek?” Cakka mulai kesal. “Cari masalah aja lo!”
“Ada juga lo yang selalu gede-gedein masalah.” kata Sivia. “Kita bagi dua siomay-nya!”
“Ngga bisa, gue bayarnya full, dan gue mau siomay itu full.” kata Cakka melotot.
‘Ini anak ngeselin banget! Uhh, calm down Sivia, inget janji lo.’ batin Sivia.
“Gue yang bayar deh!” Sivia mencoba untuk tak memancing pertengkaran.
“Bukan masalah bayarnya, masalahnya gue dulu yang pesen.” bentak Cakka lagi.
Sivia menghela napas. “Oke, ambil ini siomay, dan lo pergi sekarang!”
Cakka tersenyum puas. “Nah, kayak gini dong dari tadi. Jadi gue kan ngga perlu negangin otot!” katanya. “Kalah deh lo!”
Cakka pergi, tapi sempat diliriknya Agni di sebelah Tian lalu tersenyum manis pada Agni.
“Eh, lo dibaikin ngga usah ngelunjak. Masih untung ngga gue pukul lo!” teriak Sivia lalu duduk lagi, dia berusaha menenangkan diri. Lalu dilihatnya cowok menyebalkan itu. Ternyata
cowok itu menoleh ke arahnya dan tersenyum.
‘Cowok aneh! Maunya apa sih?’ batin Sivia.
“Ada apa sih lo sama kak Cakka?” Tian langsung menginterogasi.
Sivia menggeleng cepat. “Ngga ada.” katanya singkat.
Agni nampak diam, entah apa yang harus dirasakannya. Marah karena temannya dibentak oleh Cakka, senang karena Cakka masih mau tersenyum padanya, atau sedih karena Cakka masih selalu
bersikap kasar. Agni melahap baksonya sekaligus tanpa memotongnya. Dia mencoba
tenang.
Sivia melihat wajah Cakka sekali lagi. Cakka kini duduk dengan Rio dan menatap Sivia. Sivia juga menatapnya. Dan sekali lagi ingatan itu muncul.
‘Namanya Cakka? Bukan. Ternyata Cakka bukan DIA! Semoga bukan DIA!’ batin Sivia. Hatinya ngilu membayangkan masa lalunya yang menyakitkan.
Sivia menunduk lesu. Tian menatap Sivia, Tian bingung akan perubahan emosi Sivia yang aneh. ‘Tadi dia gembira, lalu marah, dan sekarang nampak sangat tertekan. Kenapa dia?’ batin Tian.
‘Kak Cakka, kenapa kakak masih kasar? Apa kakak punya masalah?’ bisik Agni dalam hati.
“Aga…” bisik Sivia lirih, tak ada yang mendengarnya. Hanya dia sendiri yang mendnegarnya.
Sivia menyebut nama Aga? Siapa Aga sebenarnya? Apakah Aga itu orang di masa lalu Sivia? Adakah hubungannya Aga dengan Cakka?
Lalu, ada apa dengan Cakka dan Agni sebelumnya?
Entri Populer
-
by: tia (http://facebook/tiantium ) Sivia masih terpaku, shock plus panik. Sedangkan Cakka, dia menatap Sivia marah. Secepatnya Cakka ba...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) “Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa l...
-
by: tia (http://www.facebook.com/tiantium) satu laki-laki wajahnya dingin dan tengah sibuk mengunyah nasi yang barusan dimasukkan ke mul...
-
“Thank you ma bro, Cakka!” kata Rio senang dan langsung menyeret piring dengan mie goreng pesanannya. Cakka hanya tersenyum simpul. “Mana...
-
by : tia (http://facebook/tiantium) Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung per...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) 5 Januari Dear, buku hitam… Mama ngasih dua buku, hitam-putih di ulang tahun gue tahun lalu. Mam...
-
Lebih menarik lagi ternyata banyak di antaranya ditulis sama orang seumuran kita. Ada Laire Siwi yang masih kelas kelas satu SMU waktu mener...
-
Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu sing...
-
Artikel-artikel tentang penulisan ini ada yang sebagian dan sepenuhnya saya ambil dari narasumber lain, demi keaslian pemilik saya cantumkan...
-
Dengan penuturan jujur dan gaya bahasa khas remaja, novel-novel ini menawarkan kisah yang dekat sama kita, tokoh-tokoh yang terasa akrab di ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buat semu yang udah mampir di blog aku... tinggalin komentar, pesan dan pesan yah...