Powered By Blogger

Entri Populer

Minggu, 06 Februari 2011

Tempat Yang Paling Indah part 1

 by: tia (http://www.facebook.com/tiantium)

satu laki-laki wajahnya dingin dan
tengah sibuk mengunyah nasi yang barusan dimasukkan ke mulutnya, yang satu
perempuan wajahnya cantik namun cuek, tak peduli dengan apa yang dikatakan papa
dan mamanya dan tetap mengunyah makanan dan memasukkan makanan lagi sebelum
menelan apa yang ada di mulutnya. Namanya Sivia, dan kakaknya, Alvin.


“Vi, kalo papa ngomong didengerin dong.”


“Via dengerin kok, pa!” jawabnya sambil terus makan tanpa menatap papanya..


“Oke, papa ngga mau kamu pindah sekolah lagi untuk yang ketiga kalinya.” ujar papa Sivia. “Jadi di sekolah baru kamu harus ngerubah sikap kamu, ngerti.”


“Ya.” jawabnya datar.


“Vin, kamu jaga adik kamu, jangan sampe dia ngelakuin hal yang engga engga, ya?” mama Sivia ikut bicara.


“Lho, kok gitu? Ngga! Alvin ngga mau ikut-ikutan kalo dia ada masalah. Ogah!” ujar Alvin sambil terus melahap nasi gorengnya.


“Bagus deh, kalo gitu.” kata Sivia dingin.


“Eh, kalo lo sampe bikin masalah, gue ngga bakal ngakuin lo sebagai adik gue, Vi! Males deh punya adik berandalan kayak gini!” katanya sambil menoleh pada Sivia yang langsung berhenti makan.


“Huss, ngomong apa kamu ini Vin?” mama Sivia menegur putranya yang satu itu.


“Biarin aja ma! Via juga ngga mau ngakuin kak Alvin, cowok super duper jutek gini! Weeee..” Sivia menjulurkan lidahnya dan langsung pergi, berlari menuju kamarnya di lantai atas.


“Viaaaaaa!” Alvin teriak dan mengejar Sivia yang sudah menaiki tangga.


“Eh, abisin dulu makannya, sayang.” mama Sivia dan Alvin menghela napas menghadapi anak-anak yang tak pernah berhenti bertengkar itu.


Ya, Sivia adalah adik Alvin, adik tiri tepatnya setelah papa Sivia menikahi mama Alvin saat Alvin baru masuk SMP, sekitar enam tahun lalu. Alvin dan mamanya pindah ke Jakarta dan tinggal
bersama Sivia dan papanya. Alvin awalnya sangat dingin dan cuek pada Sivia,
namun sejak satu kejadian, Alvin berubah menjadi sangat baik, walaupun
terkadang bertengkar.


Sivia anak yang cukup nakal, berandal seperti yang dikatakan Alvin tadi. Waktu SD dia sering bolos, saat SMP sering masuk BP karena kabur saat pelajaran tambahan, dan menginjak SMA
kenakalannya menjadi jadi. Hanya satu tahun dia sekolah di SMA Bakti dan
didepak keluar setelah mengerjai guru IPS dan penjaga sekolah. Lalu dia pindah
ke SMA Voundras, dan hanya bertahan satu semester setelah berulang kali
didapati berkelahi dengan siswa perempuan bahkan pernah dengan siswa laki-laki.
Sivia memutuskan untuk mengundurkan diri, sebelum dirinya dikeluarkan dan akan
memalukan. Akhirnya, papanya memindahkan Sivia ke SMA VICAS, SMA yang
diharapkan menjadi sekolah terakhir Sivia.


Brakk Sivia membanting pintu (gila pintu dibanting, wonder woman!) dengan keras. Masuk kamar adalah hal paling jitu untuk menghindari Alvin.


“Heeeeey, cemen lo, bisanya masuk kamar. Buka pintunya! Viaaaaa!” teriak Alvin sambil mendorong pintu kamar Sivia dan memutar pegangannya.


Sedangkan Sivia di dalam kamar dengan damai menuju tempat tidurnya. Dia mengambil hp-nya dan memutar mp3-nya.


“Apa? Gue ngga denger!” katanya lalu tertawa.


Sivia lalu memakai handsfree nya dan terlelap tidur.


*****


“Sivia mana, ma?” kata papa Sivia.


belum bangun kayaknya, pa!” kata mama Sivia. “Vin, Sivia bangunin gih!” kata mama Sivia di meja makan, mereka lagi sarapan.


“Males ah!” kata Alvin sambil terus mengoles selai di rotinya.


“Alvin!” kata mamanya pelan banget.


Alvin menghela napas. Dia meletakkan rotinya. “Iya mamaaaa.” katanya tak kalah pelan pada mamanya.


Alvin lalu naik ke lantai atas, ke kamar Sivia dan mengetuk pintunya.


“Vi… Bangun, Vi!” katanya. “Udah siang, woy. Baanguuuuuuunn!” teriak Alvin, dan Sivia yang kaget langsung membuka matanya lebar-lebar.


Dia melirik jam di mejanya. 06.15


“Haaaaaaaaahh???” Sivia tambah kaget. Alvin masih menggedor-gedor pintu Sivia, mengira Sivia belum juga bangun.


“Siviaaaaa bangun! Siviaaaaa..” teriak Alvin di balik pintu.


Terpaksa Sivia membuka pintu kamarnya agar kakaknya berhenti teriak-teriak. “Woy berisik!” bentaknya saat membuka pintu, mendapati Alvin berdiri dengan seragam SMA.


“Sori sori, gue kira lu belum bangun!” kata Alvin sambil ngeloyor pergi.


“Eh, pergi lagi lo! Dasar!” maki Sivia pada Alvin yang menuruni tangga ke meja makan lagi.


Sivi menghela napas dan pergi ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi dan sudah memakai seragam. Dia bawa tasnya dan menuju meja makan.




@ meja makan


“Nanti sore, kalau kamu pulang, ngga ada orang di rumah, minta kunci sama tetangga ya?” kata mama Sivia-Alvin. (aduh, enaknya apa sih ya? Bu Bella aja ya?) “Mama udah pesen ke Bi Lela suruh
nitipin kunci ke tetangga sebelah kalo dia mau pulang kampung.”


“Emang mama mau ke mana?” kata Alvin sambil melahap rotinya.


“Mama sama papa mau ke bandung, Vin.” kata Pak Zakki.


“Berangkat kapan?”


“Nanti sore, sekitar jam tigaan.” kata Bu Bella, sambil meminum tehnya. “Kamu baik-baik sama Sivia, ya, Vin? Jangan berantem!”


Alvin hanya mengangguk dan terus melahap rotinya.


“Pagi, ma. pagi, pa!” sapa Sivia lalu duduk di kursi sebelah Alvin.


“Gue ngga disapa?” Alvin protes.


“Siapa elo?” kata Sivia jutek.


“Kakak lo yang paling ganteng.” kata Alvin.


“Ganteng? Diliat dari monas pake sedotan kebakar lo baru keliatan ganteng.”


“Oh, oke, ngga gue boncengin lo ke sekolah ya?” Alvin mengancam.


“Emang gue berangkat sama lo? Gue mau sapa papa, weeee.” Sivia menjulurkan lidahnya ke Alvin.


“Ehm, gini Via. Papa sama mama buru-buru, sayang, jadi ngga bias anterin kamu.” kata Pak Zakki. “Ayo, ma!” lalu mereka berdua pergi berangkat ngantor, dan mengecup kening Sivia dan Alvin
bergantian.


“Baik-baik, ya, sayang!” kata Bu Bella seraya keluar menuju mobil.


Sivia hanya manyun, Alvin terkekeh melihat adiknya itu.


“Mau berangkat sama siapa, neng Sivia?” goda Alvin sambil tertawa.


Sivia masih manyun, dia melahap rotinya yang sudah diolesinya dengan selai coklat kesukaannya.


“Jangan manyun dong, lo! Jelek tau! Ya, walopun kalo senyum juga tetep jelek.” kata Alvin sambil tertawa puas.


Sivia kesal, dia mengepalkan tangannya dan memukul bahu Alvin sangat keras.


“Aduh!” Alvin meringis kesakitan dan mengusap-usap bahunya. “Gila lo ya? masa abang lo sendiri, lo aniaya!”


“Abisnya lo nyebelin.”


“Iya, deh, sayaaang. Sori sori…” Alvin masih kesakitan. Sivia tersenyum menang. “Yok berangkat!” ajak Alvin sambil menggendong tasnya. Sivia mengikuti Alvin sambil melahap sisa roti di
tangannya.


Alvin mengeluarkan motor miliknya, dan menaikinya. Sivia masih bengong. dia ngga biasa bonceng motor.


“Ngapain bengong lo?” Tanya Alvin sambil menghidupkan mesin. “Ngga usah takut, gue bakal jagain lo, kok!”


Sivia akhirnya naik dengan terpaksa.


*****


@ motornya Alvin


“Vi, ntar disekolah lo jangan cari masalah ya?” kata Alvin.


“Iya.” jawab Sivia.


“Jangan cari musuh juga.”


“Iya. jawab Sivia.


“Ati ati kalo ngomong, biar ngga ada yang tersinggung.”


“Iya.” jawab Sivia males, bosan dengan nasehat kakaknya.


“Jangan iya iya dong, gue ngomongin lo karena gue khawatir sama elo tau!” kata Alvin.


“Iya.”


“Ih, ini anak dengerin gue ngga sih? Gue ngomong demi kebaikan lo, Vi!” Alvin mulai kesal.


“Gue dengerin lo, kok. tenang aja lah!” kata Sivia santai. “Gue juga ngga mau kecewain papa sama mama lagi, kak!” kata Sivia.


“Bagus deh!” Alvin lega. “Pegangan yang kenceng, Vi!


“Kenapp…” belum selesai Sivia bicara, Alvin sudah keburu ngebut. Akhirnya Sivia memegang pinggang Alvin erat-erat. (widiihh!)


*****


Motor Alvin dan Sivia sampai di depan gerbang saat satpam SMA VICAS, Pak Bekti menutup separuh gerbang (Heh, separuh gerbang ditutup, eh, arrggh pokoknya belum ketutup semua deh!)


“Eh, eh, eh, pak, pak, pak. Stooooppp!” teriak Alvin yang masih ada di atas motornya.


Pak bekti, satpam yang perutnya gede dan kumisnya subur itu melotot. Sambil mengelus kumisnya, Pak Bekti membentak. “Kenapa baru berangkat jam segini?”


“Yahh, bapak, baru jam tujuh kurang dua menit, udah ditutup ajeh ni gerbang.” bela Alvin. satu tangannya menahan gerbang, satunya memegangi stang motor. “Dua menit lagi, pak belnya…”
kata Alvin memohon.


Pak Bekti lalu dengan terpaksa membuka gerbang, sehingga motor Alvin bisa masuk. Sivia hanya tersenyum geli melihat satpam itu.


“Lain kali jangan telat!” kata pak bekti tegas.


“Oke! Thank you, Bos.” kata Alvin sambil mengegas motornya menuju parkiran.


“Kak gue turun sini deh, lama kalo ke parkiran.” kata Sivia minta turun.


“Ngga! Ini kan gara-gara elo bangunnya lama, jadi kalo gue telat, lo harus telat juga.” Alvin melihat ke semua arah, mencari tempat yang kosong.


“Ih, nyebelin lo!” gerutu sivia memukul bahu Alvin.


“Bodo!” Alvin menemukan tempat untuk memarkir motornya. “Turun lo!” suruh Alvin jutek banget.


Sivia turun, membetulkan roknya dan menggendong tas hitamnya sambil ngeloyor pergi.


“Eh, vi!” panggil Alvin setelah memarkir motornya.


“Apa?” sivia hanya menoleh sedikit.


“Lo kudu ke ruang kepsek dulu. Tanya kelas lo dimana!” suruh Alvin.


“Iye gue tau.” jawabnya jutek.


“Masalahnya lo tau ngga ruang kepsek dimana?”


Sivia berbalik, menatap Alvin. “Engga.” jawabnya polos.


“Hmmm. Yuk gue anterin.” ajak Alvin sambil menggandeng tangan Sivia menuju ruang kepala SMA VICAS.


Di tempat yang tak jauh, dua pasang mata menyaksikan adegan tadi, Alvin menggandeng tangan Sivia. Dua mata itu mengkerut, kesal atas apa yang barusan dilihatnya.


“Ra, kita ke Shilla cepetan!” ajak salah satu empunya mata itu.


“Yuk, Ngel!” kata empu lainnya sambil berjalan kesal menuju kelas mereka.


*****


@ ruang kepsek


“Ni ruangannya bu Ira. Lo masuk sendiri yah?” kata Alvinlangsung pergi. Tapi berhenti karena sivia memanggilnya.


“Ka!” panggil Sivia.


Alvin berbalik. “Hah?” Sivia diam, mukanya tegang. “Kaga usah tegang gitu kali, biasa aja. Masuk cepetan!” suruh Alvin sambil ngeloyor pergi.


“Permisi, bu Ira.” sapa Sivia pelan saat masuk ke ruangan.


“Iya?” ucap bu Ira pelan juga, sambil melepas kacamatanya.


“Saya sivia, siswi baru yang baru masuk hari ini.” katanya agak gugup. Bu Ira kelihatan memandangnya dari atas sampe bawah.


“Sivia Azizah dari SMA Voundras?”


“I…iya.” Sivia tambah gugup ngerasa lagi diinterogasi.


Pandangan Bu Ira tak lepas dari Sivia. Lalu bu Ira membuka buku besar di sisi mejanya.


“Ehm, kelas kamu di XI IPA I.” katanya setelah membolak balik halaman buku tadi.


Sivia mengangguk cepat. “Terima kasih, bu. Permisi!” katanya lalu pergi buru-buru ke kelasnya yang ngga tau di mana.


‘jangan-jangan bu ira tau gue anaknya dikit berandal’ (heeh, dikit? berantem sama siti the beautiful boxer sampe bonyok lu bilang dikit? demi sandal jepit gue yang udah putus lagi deh kaga
mikir amat lu, Vi!)


TTTEEEEEEEEEEEEEETTTTTTT (ceritanya bel masuk kelas)


‘aduh, mana udah bel lagi. gue kaga tau kelasnya dimana!’ batin sivia sambil melangkah cepat dan pandangannya tertuju pada pintu pintu yang dilewatinya. Akibatnya, di ujung koridor tanpa
sengaja dia menabrak seseorang sampai keduanya (sivia sama orang itu) terjatuh.


“Aduh.” seru Sivia memegangi pantatnya yang membentur lantai.


Dia lalu bangkit dan melihat orang yang ditabraknya, laki-laki, dia sedang sibuk membereskan buku-buku paket dan beberapa kertas yang terjatuh waktu tabrakan tadi.


“Eh, sorry.” kata Sivia santai dan singkat lalu ngibrit pergi karena ngga mau telat masuk kelas.


Cowok itu memasang muka kesal, lalu membanting kertas yang dia pegang. “Woy!” teriaknya.


Sivia menoleh memasang muka polos dan tak bersalah. “Apaan?” katanya dataaaarrrr banget (lebay).


“Lo ngga ada tanggung jawab sedikitpun, ya?” kata cowok itu kesel karena ditinggal pergi gitu aja.


“Lah, ngapa coba? Gue udah minta maaf, kan?” jawab sivia enteng seenteng bulu, tanpa rasa bersalah. Dia lalu pergi.


“Eh, ngeloyor lagi lo! Heh, cewe rese!” teriak cowok itu. “Bantuin beresin kek!” ucapnya mengecilkan volume suara dan kembali membereska buku-buku yang berserakan.


Sivia lalu menoleh ke arah cowok tadi, yang langsung balik menatapnya.


“Awas lo!” teriak cowok itu pada Sivia.


Sivia diam, menatap wajah cowok tadi. ‘mirip siapa ya? gue kaya pernah liat!’ batinnya, sambil terus berpikir.


“Ehhmmmmmm.” Sivia masih berpikir, mengingat dengan keras siapa gerangan yang mukanya mirip cowok tadi. Dan akhirnya dia nemu satu wajah, wajah yang selalu datang setiap malem, dan ngga
tau kenapa tadi sempet lupa. Wajah yang ngga akan pernah dia lupain, ngga akan!


“Tuhan… Apa dia…” Sivia merasa jantungnya semakin berat, seberat tempo napasnya. Dia menggeleng cepat dan berlari mencari kelasnya lagi.




Whhooooo! Siapa sih sebenernya cowok yang ga sengaja Sivia tabrak? Siapa juga wajah yang Sivia inget tadi? Apa mereka orang yang sama? Atau hanya sekedar mirip?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Buat semu yang udah mampir di blog aku... tinggalin komentar, pesan dan pesan yah...