“Thank you ma bro, Cakka!” kata Rio senang dan langsung menyeret piring dengan mie goreng pesanannya. Cakka hanya tersenyum simpul.
“Mana Alvin?”
“Kamar mandi.” jawab Rio mengambil garpu di depannya dan mengaduk-aduk mie-nya.
Cakka menghela napas. Rio menikmati mie ayamnya tanpa melirik hal lain. Cakka masih terlihat kesal dengan Sivia, tapi ada sedikit rasa puas karena tadi dia menang adu mulut. Cakka mendengus dan tersenyum, kepalanya geleng-geleng. Lalu disedotnya teh dalam
botol.
“Cak!” seseorang memegang bahu Cakka. Itu Alvin, Cakka menoleh dan bergeser, ternyata tempat yang didudukinya tadi adalah tempat Alvin.
Alvin melihat sepiring siomay dengan saus kacang di atasnya. “Hmmm… Makanan gratis!” kata Alvin sambil mengambil garpu dan menusuk satu butir siomay (satu butir, satu biji, atau satu buah si? auk ah!)
“Gue dapetin itu siomay penuh perjuangan, Vin.” Cakka berkata sambil senyum-senyum.
“Oh, gitu? Thanks bro!” ucap Alvin sambil melahap makanan itu. “Gue ngga bisa bales dengan apapun.” lanjutnya.
“Gue cuma bisa makasih, Cak.” kata Alvin mulai lebay.
“Kok lo jadi melankolis, Vin?” Cakka mengerutkan dahinya. “Gue harus negangin otot buat dapet siomay lima biji itu, Vin. Kebayang ngga?”
Alvin berhenti mengunyah, mulutnya sesak dengan sebutir siomay yang dilahapnya langsung tadi. “Hoh? Ngopoin lo nogongon otot? Obo-obo konton odoh jodo bodok yo, jodo lo jorot jorot dolo?” katanya dengan ekspresi kaget.
“Bodok? Obo obo?! Jorot jorot??” kata Cakka. “Apaan lo Vin? Ngomong pake bahasa mana sih?”
Alvin meminum teh botol Rio untuk membantunya menelan makanan. “Emang ibu-ibu kantin udah mulai budek sampe lo harus negangin otot buat teriak dan jerit-jerit?” kata Alvin setengah berteriak lalu menghabiskan teh botol Rio.
Rio menabok tangan Alvin dengan keras. “Vin, lo jahat banget ya? Masa minuman gue diabisin?”
“Impas, ya, Yo?” kata Alvin sambil meringis.
“Gue bukan neriakin ibu-ibu kantin. Gue neriakin tu cewek!” Cakka menunjuk Sivia yang duduk membelakanginya, jaraknya dua meja dari tempatnya duduk.
Alvin menatap cewek itu. Dia lalu menghela napas. “Cak, lo jangan ngusilin adek kelas deh. Kasian tau!” Alvin sok bijak.
“Iya, Pak Ketua OSIS!!!” kata Cakka sok manis. “Lagian gue ngga ngusilin, dia aja yang suka cari masalah terus sama gue.” Cakka mengeluarkan HP-nya, dan dia terkejut begitu menyadari ada pesan masuk di HP-nya. “Masya Allah!” teriaknya Cakka.
“Apaan Cak? Tumben lo nyebut?” Rio kaget mendengar Cakka.
Rio merebut HP Cakka. Tiba-tiba dia tertawa kecil. Ternyata jumlah pesan yang baru masuk ke HP Cakka yang membuat Cakka nyebut. 18 pesan baru yang belum Cakka buka – karena dia sendiri juga baru tahu tadi – kini sedang Rio baca satu-satu.
“Hai kak Cakka, kakak tambah cakep deh!” seru Rio. Alvin ikut nimbrung.
“Pagi kak Cakka… Pipi kakak kok lucu ya? Aku cubit boleh deh! I LOVE YOU!” Rio tertawa terbahak-bahak. “Kak… Gue cubit yaaaa???” ledek Rio dengan muka sok imut dan maksa banget. Lalu dia mengedipkan satu matanya.
“Rese lo Yo! Cakka paling males kalau fans gila nya mengirim SMS menjijikan seperti itu dan ketahuan Rio. Pasti Cakka habis digoda Rio.
“Kak Cakka aku sayang kakak. <3. Love, Zahra.” lanjut Rio, membaca SMS berikutnya.
“Zahra?” kata Alvin dan Rio bersamaan. Lalu mereka tertawa bersama.
“Zahra anak XI IPA I?” kata Alvin.
“Temennya nenek lampir yang naksir Alvin itu? Yang pake behel itu? Yang ikut ekskul basket tapi kerjaannya cuma duduk di pinggir lapangan itu?” tanya Rio bertubi-tubi. Dia memanggil Shilla, adiknya sendiri dengan sebutan nenek lampir.
Cakka hanya diam, meratapi nasibnya yang digempur habis kedua temannya. “Auk ah, gila!!!!!” kata Cakka cuek. Alvin geleng-geleng. Rio terus membaca SMS lain.
“Siapa sih yang nyebar-nyebar nomor HP gue? Sial!” Cakka menggerutu, lalu menarik piring berisi siomay milik Alvin. “Bagi dong, Vin!” katanya sambil menusuk satu butir siomay dan memakannya langsung. Pipinya yang gembil pun membesar karena mengunyah siomay
itu.
“Kenapa ngga beli aja, Cak?” tanya Alvin.
“Kalo masih ada, gue juga ngga bakal tegang sama cewek itu tadi buat ngerebut siomay ini! Ini siomay terakhir tau!” kata Cakka sambil menelan siomay-nya.
Alvin manggut-manggut. “Berarti gue beruntung dong, Cak, dapet ini siomay?!” Alvin nyengir.
“Bukan! Lo beruntung karena punya temen kaya gue.” ucap Cakka tanpa ekspresi.
drrrtt… drrrtt… drrrtt… [ceritanya hape cakka getar]
“Cak, Cak, telpon, Cak!!” seru Rio kaget. “Gue angkat yoh?” katanya langsung mengangkat telepon dari nomor tanpa nama itu.
“Halo, kak Cakka, lagi apa nih?” kata suara di seberang. Rio iseng mengaktifkan loudspeaker hp Cakka. Rio meletakkan hp itu di atas meja dan membesarkan volume suaranya.
“Kakak lagi di kantin ya bareng kak Rio sama kak Alvin? Kakak lucu deh waktu makan siomay. Aku liatin kakak tau. Pipinya makin cubby gimanaaaa getoh!Aku jadi gemeess sama kakak!” suara dari seberang langsung nyerocos ngga jelas, dan terdengar sangat keras oleh
mereka bertiga, lalu suara itu tertawa dengan centilnya.
Cakka melongo, wajahnya konyol. Rio tertawa puas. Alvin hanya tersenyum [jaga image, kan dia terkenal dingin dan cuek]. Cakka lalu tampak kesal. Cakka merebut hp-nya dan menonaktifkannya cepat. Dia membuka casing hp-nya dan mengeluarkan SIM-card di dalamnya.
“Mau ngapain lo, Cak?” Rio heran dengan apa yang Cakka lakukan.
“Gue mau bebas dari anak-anak berisik itu, Yo!” kata Cakka tanpa melihat Rio, dan langsung mematahkan SIM-card di tangannya. Patah…tah…tahhhh. “Good bye, pengganggu!” kata Cakka melempar patahan SIM-card nya ke belakang.
“Gila lo Cak! Ngapain lo patahin? Kan sayaaang.” kata Rio aneh.
“Ngapa lo yang protes, Yo, harusnya kan cewek-cewek itu yang protes?” tanya Cakka heran.
“Lo demen sama Cakka ya? Tuh kan lo mulai ngga normal!” Alvin curiga.
Rio melotot kaget [kaget dan melotot] ke kedua temannya. “Woy, gue normal, Vin, Cak!”
“Sumpeh lo Yo?” Alvin ragu, dia menatap Rio aneh.
Rio mengangkat jari jari tangannya yang kini membentuk huruf V [RUMUS ---> telunjuk + jari tengah = sueerrr] “SUERR VIN! Gue normal deh.” [bener kan?]
“Tapi tadi…” Alvin tak melanjutkan kalimatnya, keburu dipotong Rio.
“Kan cuma sayang ajaa…” Rio berhenti berkata-kata saat Alvin memotongnya.
“Sayang sama Cakka???”
“Kaga!” bentak Rio. “Sayang aja kalo nomornya dipatahin gitu!”
“Tenang, Yo! Nomor maah gampang, ceban aja dapet dua di deket rumah gue!” kata Cakka enteng.
“Tapi kan sayang kalo nomor-nomor penting pada ilang.” Rio menjelaskan maksud kata SAYANG-nya.
“Ohh, tenaang… Gue simpen nomor penting di hape bukan di SIM card.” Cakka memasukkan hapenya ke saku. “Vin, kok lo ngga sampe ditelpon kayak gue? Padahal kan banyakan fans lo ketimbang gue?”
“Yee, mana ada yang berani nelpon gue. Yang ada kalo mereka telpon gue, belum apa apa pasti mereka udah gugup terus pingsan deh!” kata Alvin ke-PD-an
“Pede amat lu? Setahu gue, ngga ada yang berani sama orang sedingin, sejutek, dan secuek dia.” ucap Rio sambil cengengesan.
“Kurang asem lo Yo!” kata Alvin. “Gue kan kaga ngasih nomor gue ke sembarang orang, Cak. Emangnya elo, sengaja nulis nomor di pager lapangan biar seisi dunia tau!”
“Yeee, gue ngga nulis di pager lapangan, Vin.” protes Cakka. “Si Dayat tuh yang suka jual nomor gue ke cewek-cewek. Untung di dia, rugi di gue!”
“Halaaah… Lo harusnya seneng banyak yang ngejer. Nah gue?” Rio manyun.
“Helooo Mario? Lo udah punya Dea, bro!” protes Cakka. Rio manggut manggut.
Alvin melirik jam tangan di tangan kirinya -----> 09.25. “Eh, balik ke kelas yuk.”
“Ayook!” seru Rio dan Cakka berbarengan. Mereka lalu berjalan menuju kelas. Cakka tak menghiraukan seruan-seruan namanya yang keluar dari mulut cewek-cewek yang melihatnya.
“Kak Cakkaa…”
“Hai, Kak!”
“Kakaaaaak…”
Alvin stay cool, berjalan tanpa beban. halangan, rintangan, membentang tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran [senandung monyet]. Sedangkan Rio juga berjalan biasa di sebelah Alvin. Sementara Cakka merasa risih, dan akhirnya berjalan lebih cepat, menjauh dari
koridor yang berjajar anak-anak kelas X dan XI.
@ XI IPA I
“Vi, jangan dipikirin dong soal yang tadi!” Tian masih khawatir dengan Sivia yang masih diam.
“Nggak kok tenang aja! Gue ngga mikirin yang tadi.” jawab Sivia, enteng dan pelan.
“Gue jadi ngga enak deh, lo kan anak baru, masa udah dibentak bentak gitu. Sama kakak kelas lagi!” lanjut Tian.
“Kenapa lo harus ngerasa ngga enak? Gue ngga apa apa lagi!” Sivia tersenyum, tak terlalu lebar. “Tadi, lo bilang dia kakak kelas? Beneran dia kakak kelas?” tanya Sivia.
“Iya, kenapa?”
“Ehm, ngga kok, ngga papa.” kata Sivia sambil melanjutkan menulis jadwal pelajaran yang sedang disalinnya dari buku Tian. Tian mengalah, dia lalu pergi ke meja Agni yang tampaknya seru membicarakan sesuatu.
“Shill, lo jangan diem aja gitu dong!” protes Angel melihat Shilla yang hanya diam menatap Sivia, cewek yang tadi pagi dibonceng oleh Alvin cowok pujaannya, seperti cerita kedua sahabatnya. “Lo peringatin, kek. Atau lo labrak kek!” Angel emosi.
“Ngel, gue belum liat dengan mata kepala gue sendiri kak Alvin bareng dia. Jadi, biar gue selidikin dulu deh! Dan kalau ternyata dia sodaranya, kan malu gue!” Shilla tak henti hentinya menatap Sivia ‘Cantik juga, ya?’ batin Shilla.
“Ih, mana ada sodara yang pegangan tangan gitu?” Angel kembali mengoceh.
“Udah deh, Ngel, hargain keputusan Shilla dong.” Zahra menengahi sebelum terjadi perdebatan.
“Okeh, Ra. Tapi gue ngga yakin mereka pacaran!” bisik Angel lalu melipat kedua tangannya di depan dada. “Pasti dia tuh yang ngedeketin kak Alvin. Iiiiyhh…” Angel bergidik dan duduk disebelah Shilla.
Shilla tetap menatap Sivia yang masih menyalin tulisan Tian dengan tatapan iri, kagum, dan cemburu.
@ XII IPA II (kelas Alvin, Cakka, Rio)
“Gue benci elo!” Cakka masih membayangkan suara itu, suara itu terus menghantuinya. ‘Siapa sih dia?’ batin Cakka. Dia memikirkan hal itu lagi saat tiba di kelasnya. Dia duduk di bangkunya dan meletakkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpuk di
atas meja.
“Cak!” panggil Alvin. Cakka tak bergerak, apalagi menoleh.
“Cakka!” bentak Alvin lumayan keras. Cakka akhirnya menoleh, namun mukanya masih tanpa ekspresi.
“Apa Vin?” katanya datar.
Alvin mendekati meja Cakka, lalu memberi komando pada Dayat yang ada di samping Cakka untuk menyingkir. Dayat yang sedang membaca buku sejarah setebal lima ratus halaman pun bangkit dan merelakan tempat duduknya direbut Alvin.
“Gini, kata Bu Winda waktu gue ngasihin proposal tadi pagi, nanti siang ada rapat OSIS di ruang OSIS. Kita bakal bahas proposal penyelenggaraan pensi itu bareng Bu Ira rencananya. Anggota inti yang kelas duabelas diwajibin hadir.” ucap Alvin panjang lebar
tinggi sama dengan volume balok *ngelantur*. Alvin bicara panjang lebar tentu
untuk mengajak Cakka berbicara dan menghindari melamun. (Tumben setumben tumbennya
Alvin ngomong banyak dan ngga to the point, banyak sebanyak banyaknya Alvin
ngomong dalam emosi stabil sestabil stabilnya itu lima kata sekali ngomong. Dan
kalimat tadi, kayaknya bisa deh diringkas jadi lima kata: Ntar siang ada rapat OSIS) *haha penulisnya bawel yaa?*
“Oh.” respon Cakka singkat, singkat banget, dua huruf O-H. Tumben… Sedikit sesedikit sedikitnya Cakka ngomong, adalah dua huruf O dan H, ngga sepadan dnegan kalimat Alvin yang panjang banget.
“Elaah, Cak! Gue udah bela belain ngomong banyak kok lo jawabnya gitu.” kata Alvin emosi. “Lo ngomong apa kek!”
“Ngomong apa dong gue harusnya?” Cakka menatap Alvin.
“Auk akh! Lo ngelamun ajeh, gue dicuekin.” Alvin ngembek. “Ngelamunin apa sih lo sebenernya? Gue liatin lo kayaknya terus terusan ngelamun sejak dua bulan lalu.” Alvin menatap Cakka lekat-lekat.
Cakka menggeleng pelan dan menghindari tatapan Alvin dengan menunduk.
“Kenapa lo, hah?” Alvin menurunkan wajahnya berusaha melihat wajah Cakka. “Lo ngga kaya gini sebelumnya, Cak. Cerita dong ke gue.”
“Gue ngga apa apa, Vin.” kata Cakka. Dia menyembunyikan sesuatu.
“Kalo ada masalah, lo bisa cerita ke gue atau ke Rio, Cak. Kita berdua masih temen lo yang nampung curhatan lo!” kata Alvin, kadang kadang – walaupun jutek setengah idup – Alvin memang sangat perhatian terlebih pada sahabatnya. “Kita kan temenan udah lama…”
Cakka terus menggeleng. “Gue belum siap, Vin. Belum.”
Alvin menepuk bahu Cakka dan mengusapnya. “Oke, gue sama Rio siap kapanpun lo butuh, kok.” kata Alvin sambil pergi menuju belakang kelas.
Guru-guru memang meninggalkan kelas begitu saja karena mendadak ada rapat wali kelas untuk penyampaian rencana kegiatan pembelajaran dan juga perayaan hari jadi SMA VICAS sebentar lagi. Jadi, semua kelas masih nganggur.
Rio, kini dia tidur-tiduran [bukan tidur boongan, maksudnya berbaring gitu deh] di belakang kelas. Dia mengenakan headphone-nya dan manggut-manggut menikmati lagu yang tengah dia dengarkan. Dia juga mengubah fungsi tas yang seharusnya untuk membawa barang-barang menjadi sebuah
bantal. Kaki kanannya yang ditopangkan ke atas lutut kirinya bergerak-gerak
seirama dengan tempo lagu.
“Yo!” panggil Alvin. Rio malah memejamkan matanya menghayati lagu yang mulai dinyanyikannya.
“Yo!” seru Alvin. Rio belum menengok juga.
“Rio!” teriak Alvin lebih keras. Dia geram. Akhirnya dicopotnya headphone di kepala Rio sambil berseru “MARIO STEVANO ADITYA HALIIIINGGGGGG!!!”
Rio sontak terlonjak, dia membuka mata dan melompat kaget mendengar teriakan Alvin. “HAPAAA… ALVIN JONATHAN SINDUNAATAAAAA?????!!!” balasnya berteriak. Anehnya tak ada yang mendengar teriakan mereka.
“Berisik lo akh. Gue mau ngomong.” kata Alvin ketus.
“Hoaahmm… Apaan Vin ngomong aja.” Rio menguap.
“Cakka, Yo! Cakka kayanya ada masalah deh!” Alvin duduk di sebelah Rio.
“Masalah apaan?” tanya Rio tak bersemangat.
“Itu dia. Cakka ngga mau cerita.” kata Alvin.
“Lahh, terus ngapa lo ke sini pake teriak teriak?”
“Kita harus bantuin dia, Yo. Gue ngga tega ngeliat dia yang lama-lama jadi diem, lemes, dan tertutup gitu.” Alvin mulai terlihat serius. Rio juga memasang wajah serius.
“Iya, gue juga mikir gitu.” kara Rio.
“Nanti malem lo ke rumah gue, ya? Kita omongin di sana! Kebetulan bokap sama nyokap lagi ke Bandung, gue sendirian.” ucap Alvin.
“Oke, gue juga males di rumah. Kuping gue soak lama-lama kalo dengerin rengekan dia yang terus-terusan minta dideketin sama lo.” kata Rio.
Alvin nyengir. “Jahat lo sama adek sendiri! Masa dikatain nenek lampir.”
“Haayaahhh habisnya dia suaranya cempreng, suka teriak, suka ketawa ngikik, suka kayak nenek lampir gitu deh! Lo belum ngerasain aja.” Rio geleng geleng kepala.
“Widiih ngapain juga.” kata Alvin lalu bangkit dari duduknya mau pergi.
“Asik deh jadi lo yang ngga punya adek!” keluh Rio sambil kembali berbaring.
Alvin hanya mesem, lalu pergi. Saking cuek, dingin, dan diamnya teman-teman Alvin tak pernah tahu tentang adiknya, Sivia karena memang tak ada yang menanyakan hal itu. Alvin juga malas untuk bercerita tentang keluarganya pada teman-temannya. Dia menganggap itu tak
penting untuk dibicarakan.
*****
TTEEEEEEETTT [bel pulang, aseekk!!!]
“Yo, lo sama Cakka ke ruang OSIS dulu, gue mau umumin dulu ke anak-anak lain.” kata Rio.
“Sip!” jawab Rio singkat lalu pergi ke ruang OSIS bersama Cakka.
*****
Sivia berjalan gontai menuju ruang kelas Alvin, Alvin pernah mengatakan bahwa kelasnya adalah kelas XII IPA 2. Sivia mencarinya susah payah dan akhirnya menemukan kelas itu. Dilongoknya kelas itu dan tak dilihatnya seorangpun kecuali satu siswi perempuan [yaealah
masa siswi laki-laki (?)] sedang membereskan beberapa kertas yang dimasukkannya
ke dalam map.
“Ehh, kak!” panggil Sivia pelan. Perempuan itu menengok, dan menatap Sivia tajam. “Liat kak Alvin ngga?”
“Ngga!” jawabnya ketus. Dia lalu pergi tanpa mempedulikan Sivia.
“Ih, jutek banget deh!” bisik Sivia lalu bersiap pergi dari kelas itu, tapi pandangannya tertuju pada sebuah buku catatan kecil berwarna merah. ‘apan tuh? gue ambil ahh!’ batinnya.
Dibacanya nama yang tertulis di buku itu. Dia tersenyum. Sivia lalu membawa buku itu pergi.
“Via!” teriak seseorang di belakang Sivia.
“Kak Alvin?” Sivia diam di tempatnya, dan Alvin berlari ke arahnya. “Tadi Via cari di kelas kok ngga ada?”
“Kakak udah keluar. Oh iya! Kakak ada rapat OSIS, kamu pulang sendiri mu ngga?” Alvin menarik napas, lalu membuangnya. “Kalo ngga mau, kamu tungguin kakak. Ngga lama kok, palingan cuma satu jam.”
Sivia mengangguk. “Via tunggu di depan.” katanya. “Oh iya, kak! Ni buku kakak ketinggalan di kelas tadi.” Sivia menyerahkan buku catatan berwarna merah yang ternyata milik Alvin. Dia lalu pergi meninggalkan Alvin yang belum sempat berterima kasih.
‘Nah ini gue cariin, taunya ketinggalan.’ batin Alvin. Alvin dengan langkah tergesa-gesa pergi ke ruang OSIS, rapat pasti akan segera dimulai.
---> r.a.p.a.t. d.i.m.u.l.a.i. <---
“Oke, Alvin, silakan bagi tugas yang sudah kamu susun.” pinta Bu Winda [ceritanya udah mulai masuk ke tengah rapat deh!]
“Ya, makasih, bu!” kata Alvin sambil membuka buku catatan berwarna merahnya.
“Baik, seperti yang Bu Winda sampaikan, karena Ujian Nasional dilaksanakan lebih awal dari biasanya, jadi acara pentas seni tahunan yang kita minta sebelumnya terpaksa ditiadakan, seperti hasil rapat guru dan kepala sekolah tadi barusan. Sebagai gantinya,
akan diadakan acara bakti sosial di Panti Asuhan milik Yayasan VICAS, dan pelaksanaannya
sudah disampaikan oleh Bu Winda tadi…”
“Cepetan dong, Vin. Lo lama amat ngomongnya?” keluh Rio.
“Berisik lo!” bisik Alvin. “Saya sudah menyusun nama-nama dengan tugas masing masing untuk menjadi panitia acara bakti sosial tersebut. Nama-nama yang menjadi panitia adalah sebagai berikut: Alvin Jonathan Sindunata – Ketua Panitia. Cakka Kawekas Nuraga – Bendahara,
[bla bla bla]… Terima kasih.”
“Baik, kalian semua tau tugasnya masing-masing kan. Ibu berharap kalian menjalankan tugas dengan sepenuh hati dan dengan rasa tanggung jawab yang besar.” ucap Bu Winda. “Rapat cukup sampai di sini. Kalin boleh pulang.” Bu Winda keluar dari ruang OSIS.
Alvin buru-buru meninggalkan ruang OIS karena Sivia pasti sudah menunggunya. Tak diduga rapat tak berjalan satu jam seperti perkiraan Alvin, karena pembatalan acara pensi sekolah membuat anggota inti OSIS menyusun kegiatan lain.
“Guys, gue duluan ya?” ucap Alvin sambil menepuk bahu Cakka dan Rio yang sedang berjalan menuju parkiran bergantian. Alvin langsung berlari.
“Ke mana lo, Vin?” teriak Rio.
“Buru-buru!” jawab Alvin teriak juga.
“Ngapain sih ni anak?” Rio berbisik. “Oggh!” Rio memekik kaget.
Cakka melirik Rio yang aneh banget mukanya. “Kenapa lo Yo?”
“Jangan jangaaannn…” Rio memanjangkan kata terakhirnya, membuat Cakka penasaran. “Jangan jangan Alvin punya gebetan baru!” tebak Rio asal.
“Halah ngaco!” Cakka membantah. “Kesimpulan apaan noh?”
“Ngaco gimana, Cak? Siapa tau aja dia memang punya gebetan baru, dan ngga cerita sama kita-kita!” Rio masih keukeuh dengan tebakannya. “Iyo toh iyo toh?” Rio menaik turunkan alisnya.
“Iyo toh iyo toh… Engga juga toh!” ucap Cakka meniru dialek Rio, lalu berjalan terus menuju motornya. Rio hanya diam, dia tak mau berdebat lagi.
Di tempat lain, Sivia duduk di bangku kecil di sebelah pos satpam SMA VICAS, menopang dagunya dengan kedua tangannya. Matanya sesekali terpejam tak mampu menahan kantuk yang menggodanya [jiaahaha menggoda]
‘Kak Alvin mana sih, katanya cuma satu jam?’ batinnya.
Dari kejauhan, motor Alvin nampak mendekati Sivia, namun Sivia kini menutup mukanya dengan kedua tangannya dengan lutut menopang keduanya. dia mengantuk. Alvin menghentikan motornya di depan Sivia.
“Vi! Pulang yok!” ajak Alvin datar.
Sivia menatap kakaknya dengan muka kusut. “Lama amat lo, hah? Lumutan gue nunggu lo!”
“Yaah, maaf Vi. Gue ngga tau kalo bakalan ada tambahan tadi. Maaf deh, yaa?” Alvin memberikan senyuman paling manisnya untuk mendapatkan maaf Sivia.
“Rese! Cepet jalan!” kata Sivia langsung naik motor Alvin.
“Oke, cantik!” kata Alvin. Alvin memang suka menggoda Sivia sekedar untuk membuat adiknya tersenyum, tidak bersedih, karena dia sudah berjanji akan menjaga senyum Sivia.
@ Perumahan Bumi Intan
“Vi, lo minta kunci ke rumah sebelah gih!” pinta Alvin begitu sampai di depan rumah.
“Hidih, males. Lo aja sana!” jawab Sivia jutek, dia langsung membuka gerbang rumahnya dan duduk di kursi di beranda.
“Hmmm…” Alvin turun dari motor dan menuju rumah di samping kiri rumahnya. Gerbangnya tidak ditutup, jadi Alvin tinggal masuk. “Tante, mau ambil kunci rumah.” ucap Alvin begitu menemukan wanita yang sedang menyiram tanaman.
“Oh, kamu, Vin? Baru pulang?” tanya wanita itu. Alvin hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. “Ozy, ambilin kunci di atas lemari kaca, Nak!” teriaknya. Itu mama Ozy.
“Yoi, Mother!” terdengar suara teriakan dari dalam. Tante Nana meringis, Alvin tersenyum.
‘Mother? Gaul amat nih Ozy!’ pikirnya.
“Nih!” Ozy menyodorkan sebuah kunci. “Eh, halo kak!” sapa Ozy cuek seakan baru melihat Alvin berdiri di depan rumahnya.
“Hai Zy, tambah cakep aja!” goda Alvin.
“Emang.” ucap Ozy, lalu masuk kembali ke dalam rumah.
“Makasih tante!” kata Alvin seraya meninggalkan rumah tetangganya itu dan menuju rumahnya sambil menuntun motor. “Via, nih kuncinya. Buka pintunya!” suruh Alvin. Sivia merebut kunci di tangan Alvin dan segera masuk.
***
“Hoaaahhmm” Sivia menguap lebar, tetapi dia tak mau tidur siang. “Main basket asik, neh! Ajak Riko ahh!” ucapnya lirih lalu mengambil HP-nya untuk SMS Riko.
To: Rikokok [hihi, namanya lucu!]
“Riko, main basket yuk!”
Beberapa saat kemudian…
From: Rikokok
“Ayoooookkkkkk! Sekarang?”
To: Rikokok
“Kaga! Nunggu cucu gue lahir deh! Sekaraaaaang!!!!!! (BeTe mode: on)”
From: Rikokok
“Berangkaat!”
Sivia lalu berganti pakaian dengan cepat dan mengambil bola basket di atas lemarinya. Dia lalu mengantongi HP-nya dan berlari turun ke lantai bawah.
“Ka Alvin gue ke lapangan.”
“Hah?” Alvin tak mendnegar kata-kata Sivia.
“Lapangaaaan!” teriak Sivia. Tak ada jawaban, pasti Alvin sudah mendengarnya. Jadi Sivia langsung pergi berlari ke lapangan basket kompleks.
@ Lapangan Perumahan Bumi Intan
Sivia tak mau menunggu Riko, sahabatnya waktu di SMA Voundras. Sivia memutuskan untuk memulai bermain. Sivia tersenyum. Dia lalu men-drible bola basketnya, melakukan lay-up dan… MASUK!
Plok-plok-plok terdengar tepuk tangan dari pinggir lapangan.
“Lo masih keren aja, Vi!” seru seorang lelaki di pinggir lapangan. Dia memakai kaos putih dan celana jeans pendek. Di tangannya masih ada kunci motor, itu Riko.
“Hey, my bro! Masih hidup lo?” Sivia melemparkan bola basketnya ke arah Riko dan dia menangkapnya. “Masih suka nongkrong di lampu merah lo?”
“Hahah, bisa aja lo! Kaga, gue udah pindah k etas jembatan.” Riko lalu men-drible bola basket di tangannya dan melakukan jump-shoot tiba-tiba. MASUK!
“Gimana di VICAS?” mereka mulai mengobrol sambil berlari dan men-drible.
“Elaah, gue baru sehari udah ditanyain gimana gimana.” Sivia tersenyum.
“Ya, siapa tau di hari pertama lo udah bikin kacau, atau udah bikin temen sebangku lo nangis gara-gara lo jailin? HAhah!” Riko kembali melakukan shoot, MASUK (lagi).
“Yah, gue udah janji sama bokap buat berubah, bro!”
“Halaah, lo juga bilangnya gitu dulu pas baru masuk Voundras!” Riko terkekeh.
Sivia manyun. “Sekarang gue beneran. Gue juga ngga mau kecewain kak Alvin sama Mama.” Riko berdehem. “Eh, lo jago main basket ya sekarang? Sialan! Padahal gue mau ngajakin satu lawan satu.”
“Hah? Terus? Liat gue sehebat, sekeren, seterampil ini jadinya batal dong?” kata Riko PD. Sivia tersenyum. “Eh, lo ikut turnamen basket di SMA Bakti dua bulan lagi?”
“Wow, mantan SMA gue tuh. Ada acara apaan emangnya? Ulang tahun? Atau iseng bikin turnamen?” Sivia terus berlari mengejar bola di tangan Riko.
“Yah, elo! Emang ngga ada jiwa cinta almamater ya? Ulang tahun mantan SMA udah dilupain aja!” Sivia hanya terkekeh mendnegar ucapan Riko. “HUT SMA Bakti kan selalu ngadain turnamen. Masa lo lupa?”
“Ya, udah lupa mau diapain, bang?” ucap Sivia datar. “Ngga tau deh ikut atau engga. Males juga ke sana, mungkin udah di-black-list gue sama orang sana!”
“Hahahaha, dan belum sempet megang bola lo udah diusir satpam! Vi, tangkep!” Riko melempar bola ke arah Sivia. “Satpam yang lo gunting-gunting celananya!” Riko tertawa lebar. Dia memang tahu banyak tentang Sivia, tapi tidak dengan masa lalunya.
“Hmmm,” Sivia hanya ber-hmm dan langsung saja ber-jump-shoot. MASUK!
Give me freedom, give me fire. Give me reasons, take me higher…
‘Wavin Flag’ terdengar nyaring dari HP-Sivia. Terpampang sebuah nama ---> Alvinvon [wih Sivia suka nambah-nambahin huruf di nama kontak yah? ckckck]
“Halo, kak? Kenapa?”
“Halo, Vi.” sapa suara di sana. “Eh, Vi, lo inget topi gue kasih ke elo waktu ultah?” tanya Alvin.
“Topi apaan deh?” Sivia bingung.
“Topi Adidas warna putih, masih ada ngga? Gue pinjem!” kata Alvin.
“Yaah, gue lupa di mana, kak! Hehe, udah lama banget.” kata Sivia sambil menatap Riko yang sedang memainkan bola miliknya. “Ehh, lo cari aja di laci lemari yang paling gede, paling bawah. Di situ gue taroh barang-barang yang udah lama.” ucapnya.
“Oh, oke!” Alvin mematikan teleponnya.
@ Rumah Sivia-Alvin
“Laci lemari, laci lemari. Oke!” ucap Alvin begitu masuk kamar Sivia. Dia langsung mendekati laci yang Sivia maksud dan menariknya. “Nah, ini dia!” seru Alvin. Kini tatapannya berpindah ke sebuah kotak hitam di pojokan laci itu, agak dalam.
‘Apaan nih?’ batin Alvin, lalu entah kenapa dia mengambilnya karena memang kotak itu menarik perhatiannya. Dia lalu membuka kotak itu. Di dalamnya ada beberapa barang: buku hitam, buku putih, sekeping CD, slayer, bunga kering dan benda-benda lain. Satu benda yang
langsung Alvin ambil begitu membuka kotak hitam itu, sebuah foto yang tampak
kusut karena diremas. Di foto itu, seorang anak laki-laki berwajah manis tersenyum
menghadap kamera dan memegang gitarnya. Alvin membalik foto itu dan mendapatkan
sepotong kalimat: GUE BENCI LO, AGA, SELAMANYA!!!
Alvin menghela napas. ‘Aga? Siapa Aga?’ batin Alvin. ‘Mirip siapa ya anak ini? Kayanya ngga asing deh mukanya!’ Alvin lalu mengambil CD yang tadi sempat disentuhnya. Juga dua buku berukuran sedang, yang hitam dan putih.
“Sorry, Vi. Kayanya gue mesti tau hal yang selama ini bikin lo nangis tiba-tiba.” ucap Alvin lirih. “Aga, nama itu yang bikin lo nangis!”
Alvin menutup kembali kotak hitam itu dan menaruhnya di laci Sivia. Tapi, dua buku, sekeping CD dan foto kusut itu dibawanya ke kamar.
Buku apa yang dibawa Alvin itu?
Apa yang akan Alvin lakukan? Apa dia akan membenci Aga seperti Sivia membencinya? Atau justru akan membalaskan kesedihan Sivia pada Aga?
Entri Populer
-
by: tia (http://facebook/tiantium ) Sivia masih terpaku, shock plus panik. Sedangkan Cakka, dia menatap Sivia marah. Secepatnya Cakka ba...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) “Kenapa lo Cak?” Alvin menegur temannya yang dengan susah payah mempertahankan buku-buku dan beberapa l...
-
by: tia (http://www.facebook.com/tiantium) satu laki-laki wajahnya dingin dan tengah sibuk mengunyah nasi yang barusan dimasukkan ke mul...
-
“Thank you ma bro, Cakka!” kata Rio senang dan langsung menyeret piring dengan mie goreng pesanannya. Cakka hanya tersenyum simpul. “Mana...
-
by : tia (http://facebook/tiantium) Ozy hanya tersenyum. “Kak SI-VI-A, kakak masih inget?” Ozy memperjelas kata-katanya, dan langsung per...
-
by: tia (http://facebook/tiantium) 5 Januari Dear, buku hitam… Mama ngasih dua buku, hitam-putih di ulang tahun gue tahun lalu. Mam...
-
Lebih menarik lagi ternyata banyak di antaranya ditulis sama orang seumuran kita. Ada Laire Siwi yang masih kelas kelas satu SMU waktu mener...
-
Novel ringan karya penulis muda memenuhi deretan rak toko buku. Sambutan pasar luar biasa, sampai banyak buku dicetak ulang dalam waktu sing...
-
Artikel-artikel tentang penulisan ini ada yang sebagian dan sepenuhnya saya ambil dari narasumber lain, demi keaslian pemilik saya cantumkan...
-
Dengan penuturan jujur dan gaya bahasa khas remaja, novel-novel ini menawarkan kisah yang dekat sama kita, tokoh-tokoh yang terasa akrab di ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buat semu yang udah mampir di blog aku... tinggalin komentar, pesan dan pesan yah...